
Industri taksi otonom tanpa sopir, yang disebut robotaxi, semakin berkembang pesat di Amerika Serikat dan China. Perusahaan seperti Waymo, Tesla, dan Baidu berlomba memperluas layanan mereka meski masih ada tantangan regulasi dan keamanan. Robotaxi menghadirkan teknologi baru yang dapat mengubah cara orang bepergian dan bahkan memengaruhi pekerjaan para pengemudi taksi dan ojek online.
Waymo, anak usaha Alphabet, kini memperluas layanan robotaxi komersial mereka ke 10 kota di AS, termasuk Dallas, Houston, dan Orlando. Mereka mulai menggunakan teknologi pengemudi generasi kelima dan keenam dalam mobil-mobil, termasuk sedan Jaguar I-PACE dan mobil listrik Ojai yang dibuat bersama Geely. Langkah ini memperkuat posisi Waymo sebagai pionir dalam layanan taksi otomatis di negara tersebut.
Selain pertumbuhan pesat, Waymo mendapat pendanaan besar sebesar Rp 267.20 triliun (US$16 miliar) pada awal tahun 2026 dengan valuasi mencapai Rp 2.10 quadriliun (US$126 miliar) . Namun, perusahaan ini juga menghadapi masalah, seperti penyelidikan dari regulator keselamatan terkait perilaku kendaraan yang pernah menyebabkan kemacetan saat pemadaman listrik di San Francisco. Kritik juga datang terkait transparansi penggunaan asisten manusia jarak jauh yang membantu kendaraan saat menghadapi situasi sulit.
Menurut survei, sebagian besar pengemudi online di AS merasa takut dengan kehadiran robotaxi karena dikhawatirkan akan mengurangi relevansi pekerjaan mereka. Persaingan antara Waymo dengan perusahaan lain seperti Tesla dan Zoox juga semakin sengit. Selain AS, perusahaan China seperti Apollo Go dan WeRide mulai mencoba masuk ke pasar internasional dengan layanan serupa.
Robotaxi dipandang sebagai teknologi masa depan yang akan mengubah cara kita bepergian dan berpotensi membuat profesi pengemudi online menjadi usang jika regulasi dan teknologi terus mendukung. Masyarakat dan pembuat kebijakan perlu menyiapkan diri menghadapi perubahan besar ini agar bisa mengantisipasi dampak sosial dan memastikan keamanan pengguna jalan.