Fokus

Gejolak Tekno-Ekonomi

Share

Sekumpulan artikel yang menyoroti lonjakan harga dan krisis di sektor teknologi serta perkembangan teranyar di kecerdasan buatan, robotika, pendanaan, dan solusi infrastruktur chip.

26 Feb 2026, 14.45 WIB

Samsung Galaxy S26 Melonjak Harga Akibat Krisis Chip dan Lonjakan AI

Samsung Galaxy S26 Melonjak Harga Akibat Krisis Chip dan Lonjakan AI
Samsung baru saja meluncurkan seri Galaxy S26 dengan harga yang naik cukup signifikan di Indonesia. Misalnya, varian Galaxy S26 reguler dengan RAM 12 GB dan penyimpanan 256 GB sekarang dijual dengan harga Rp16,5 juta, naik Rp1,5 juta dari generasi sebelumnya. Varian lebih besar dengan penyimpanan 512 GB bahkan mengalami kenaikan hingga Rp2,5 juta. Hal ini juga berlaku untuk varian Galaxy S26+ dan varian tertinggi Galaxy S26 Ultra yang kini menggunakan RAM 16 GB dan dibanderol Rp32 juta. Peningkatan harga ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di pasar Amerika Serikat dan Korea Selatan. Penyebab utama kenaikan harga adalah krisis kelangkaan chip memori yang makin parah akibat permintaan tinggi untuk teknologi AI. Samsung mengatakan kelangkaan ini terus menekan biaya produksi smartphone dan display mereka, sehingga perusahaan mengambil keputusan menaikkan harga untuk menjaga margin keuntungan. Meski bisnis chip Samsung sedang sangat menguntungkan, dengan laba operasional naik hingga 470% pada kuartal IV tahun 2025, laba dari bisnis smartphone justru menurun 10%. Hal ini dikarenakan harga chip yang melonjak menyebabkan biaya produksi menjadi lebih mahal bagi divisi mobile Samsung. Eksekutif Samsung menyebut tahun 2026 akan menjadi 'tahun penuh tantangan' dengan tekanan biaya yang terus berlangsung. Samsung berencana bekerja sama dengan mitra utama untuk memastikan pasokan produk stabil dan mendorong efisiensi sumber daya agar risiko penurunan laba dapat diminimalkan. Namun, ada kekhawatiran khusus untuk segmen smartphone kelas menengah ke bawah, yang sangat rentan terhadap kenaikan harga chip karena margin mereka lebih tipis dan sangat bergantung pada volume penjualan. Para analis memperkirakan kenaikan harga chip akan terus berlanjut dan tekanan biaya produksi akan tetap menjadi tantangan utama Samsung. Di sisi lain, bisnis chip Samsung tetap berkembang kuat berkat permintaan tinggi dari sektor AI, dan ini menunjukkan betapa pentingnya bisnis chip memori bagi Samsung di tengah dinamika pasar teknologi saat ini.
25 Feb 2026, 21.00 WIB

Waymo Perluas Robotaxi di AS, Tantangan dan Peluang Transportasi Masa Depan

Waymo Perluas Robotaxi di AS, Tantangan dan Peluang Transportasi Masa Depan
Industri taksi otonom tanpa sopir, yang disebut robotaxi, semakin berkembang pesat di Amerika Serikat dan China. Perusahaan seperti Waymo, Tesla, dan Baidu berlomba memperluas layanan mereka meski masih ada tantangan regulasi dan keamanan. Robotaxi menghadirkan teknologi baru yang dapat mengubah cara orang bepergian dan bahkan memengaruhi pekerjaan para pengemudi taksi dan ojek online. Waymo, anak usaha Alphabet, kini memperluas layanan robotaxi komersial mereka ke 10 kota di AS, termasuk Dallas, Houston, dan Orlando. Mereka mulai menggunakan teknologi pengemudi generasi kelima dan keenam dalam mobil-mobil, termasuk sedan Jaguar I-PACE dan mobil listrik Ojai yang dibuat bersama Geely. Langkah ini memperkuat posisi Waymo sebagai pionir dalam layanan taksi otomatis di negara tersebut. Selain pertumbuhan pesat, Waymo mendapat pendanaan besar sebesar Rp 267.20 triliun (US$16 miliar) pada awal tahun 2026 dengan valuasi mencapai Rp 2.10 quadriliun (US$126 miliar) . Namun, perusahaan ini juga menghadapi masalah, seperti penyelidikan dari regulator keselamatan terkait perilaku kendaraan yang pernah menyebabkan kemacetan saat pemadaman listrik di San Francisco. Kritik juga datang terkait transparansi penggunaan asisten manusia jarak jauh yang membantu kendaraan saat menghadapi situasi sulit. Menurut survei, sebagian besar pengemudi online di AS merasa takut dengan kehadiran robotaxi karena dikhawatirkan akan mengurangi relevansi pekerjaan mereka. Persaingan antara Waymo dengan perusahaan lain seperti Tesla dan Zoox juga semakin sengit. Selain AS, perusahaan China seperti Apollo Go dan WeRide mulai mencoba masuk ke pasar internasional dengan layanan serupa. Robotaxi dipandang sebagai teknologi masa depan yang akan mengubah cara kita bepergian dan berpotensi membuat profesi pengemudi online menjadi usang jika regulasi dan teknologi terus mendukung. Masyarakat dan pembuat kebijakan perlu menyiapkan diri menghadapi perubahan besar ini agar bisa mengantisipasi dampak sosial dan memastikan keamanan pengguna jalan.
23 Feb 2026, 20.01 WIB

Nothing Phone 4A Hadir dengan Fitur Glyph Bar Baru dan Desain Transparan

Nothing Phone 4A Hadir dengan Fitur Glyph Bar Baru dan Desain Transparan
Nothing baru saja memperlihatkan tampilan belakang resmi untuk ponsel terbarunya, Phone 4A, yang memiliki desain transparan khas yang sudah dikenal dari seri sebelumnya. Desain ini memberikan kesan futuristik dan industrial yang menarik perhatian pengguna yang ingin tampil beda dengan ponselnya. Salah satu fitur baru yang diperkenalkan adalah Glyph Bar, sebuah garis cahaya yang terletak di sebelah kamera belakang dengan 9 LED mini yang bisa dikontrol secara individu. Ini merupakan pengganti dari lampu LED yang dipakai di seri Phone 3A sebelumnya dan memberikan efek cahaya yang lebih terang dan alami. Glyph Bar diklaim lebih terang 40% dibandingkan lampu LED seri sebelumnya. Teknologi ini juga dikembangkan dengan teknologi berhak paten sehingga menghasilkan cahaya yang lebih netral tanpa efek kebocoran cahaya, membuat tampilannya lebih elegan dan tidak mengganggu. Nothing menyatakan Phone 4A akan memakai chip Snapdragon, namun spesifikasi lengkap, harga, serta ketersediaannya masih belum diumumkan dan akan dirilis pada peluncuran resmi yang dijadwalkan pada 5 Maret. Ini berarti pengguna harus menunggu lebih lanjut informasi lengkap mengenai performa dan harga. CEO Nothing, Carl Pei, juga memastikan bahwa tidak akan ada model Phone 4 yang diluncurkan tahun ini, sehingga Phone 3 tetap menjadi produk flagship saat ini. Fokus perusahaan tampaknya lebih pada lini midrange dengan Phone 4A sebagai produk unggulan berikutnya.
23 Feb 2026, 19.18 WIB

AS Kerahkan F-16 dengan Pod Peperangan Elektronik Baru Menuju Timur Tengah

AS Kerahkan F-16 dengan Pod Peperangan Elektronik Baru Menuju Timur Tengah
Amerika Serikat telah mengerahkan skuadron pesawat tempur F-16CJ Block 52 Viper yang diperlengkapi dengan sistem peperangan elektronik anyar bernama Angry Kitten pod ke wilayah Timur Tengah. Langkah ini sebagai bagian dari penambahan kekuatan militer AS dekat Iran, setelah pembicaraan diplomatik dengan Iran berputar di tempat tanpa kemajuan. Angry Kitten adalah perangkat canggih yang dibangun dari sistem AN/ALQ-167, memakai teknologi Digital Radio Frequency Memory (DRFM) yang bisa mengambil sinyal radar musuh, kemudian mengubah dan mengirimkan ulang dengan cara menipu radar tersebut. Ini sangat membantu pesawat untuk menghindari deteksi dan serangan dari sistem pertahanan udara musuh. F-16CJ Block 52 Viper adalah model jet tempur yang dirancang khusus untuk misi SEAD (Suppression of Enemy Air Defenses) dan DEAD (Destruction of Enemy Air Defenses), di mana pesawat harus menghadapi radar dan rudal musuh langsung. Dengan Angry Kitten, mereka punya perlindungan tambahan agar lebih efektif dan aman dalam menjalankan tugas berbahaya tersebut. Pesawat yang dilengkapi Angry Kitten pod terlihat transit di Lajes Field, Portugal, menandai kemungkinan pertama kali pod ini akan digunakan dalam operasi nyata, bukan hanya untuk latihan atau uji coba. Sistem ini juga memungkinkan pembaruan dan penyesuaian jamming secara cepat berdasarkan kondisi di lapangan. Penempatan ini menunjukkan kesiapan militer AS menghadapi kemungkinan eskalasi militer terhadap Iran, menggunakan teknologi terbaru dalam perang elektronik untuk mengalahkan teknologi pertahanan udara canggih seperti S-300 Rusia dan radar lokal Iran. Meskipun Pentagon belum mengonfirmasi rencana penggunaan peperangan langsung, langkah ini menguatkan sinyal persiapan militer AS.
20 Feb 2026, 13.02 WIB

Fenomena Anomali Bitcoin Februari 2026 dan Strategi Cerdas Investor Aset Digital

Pada awal tahun 2026, pasar aset digital diprediksi akan merayakan kenaikan besar berkat narasi ‘Trump Trade’ yang membuat banyak analis yakin Bitcoin akan mencapai harga tertinggi baru. Namun kenyataan berbalik dengan penurunan harga Bitcoin yang drastis pada 5 Februari, mengundang kebingungan dan kepanikan bagi para investor ritel di seluruh dunia karena harga malah turun saat berita politik memuncak. Laporan riset Pluang menyebut fenomena ini sebagai “The Great Decoupling,” di mana harga aset digital terlepas dari narasi berita karena pengaruh penting dari likuiditas global dan tekanan utang berlebihan. Penurunan ini terutama disebabkan oleh likuidasi paksa oleh dana hedge funds besar di Hong Kong yang menggunakan leverage tinggi dan aturan margin call otomatis dari broker memicu penjualan besar-besaran Bitcoin. Selain itu, investor institusional melalui ETF Bitcoin Spot juga memperparah tekanan dengan melakukan penarikan modal saat volatilitas melonjak, sehingga menguatkan tekanan penurunan harga. Di sisi lain, pandangan para pemain besar di pasar terpecah menjadi dua: bank konservatif seperti Standard Chartered yang menurunkan target harga karena suku bunga tinggi, versus optimisme tinggi dari Goldman Sachs dan tokoh industri seperti Michael Saylor yang optimis Bitcoin akan mencapai Rp 2.84 juta (US$170.000) hingga Rp 3.34 juta (US$200.000) . Jason Gozali, Head of Investment Research Pluang, menegaskan bahwa koreksi ini bukan kegagalan fundamental Bitcoin namun reset struktural akibat deleveraging institusional. Dia menyarankan agar investor menggunakan volatilitas sebagai peluang dengan menerapkan strategi lindung nilai dan memanfaatkan instrumen seperti USD Yield yang memberikan imbal hasil untuk mengelola risiko dan tetap produktif dalam menunggu sinyal beli yang valid. Laporan ini juga menunjukkan pentingnya strategi diversifikasi aset defensif seperti Crypto Emas (PAXG/XAUT) untuk HNWIs demi efisiensi pajak dan perlindungan nilai, serta menghimbau investor agar tetap disiplin dan tidak terbawa kepanikan. Secara keseluruhan, pasar Bitcoin 2026 penuh risiko namun terdapat peluang besar bagi investor yang cermat dan berbasis data.
17 Feb 2026, 06.01 WIB

Robot Pemadam Kebakaran Otonom di Australia Tunjukkan Keberhasilan Besar

Para peneliti di Australia berhasil mengembangkan dan menguji sebuah sistem robot pemadam kebakaran yang bekerja secara otonom, menggunakan kecerdasan buatan khusus untuk mengendalikan dan mengkoordinasikan beberapa kendaraan robot tanpa awak. Robot ini mampu bergerak di sekitar rintangan dan bekerja sama untuk memadamkan api, mengurangi kebutuhan akan keterlibatan manusia langsung dalam situasi berbahaya. Proyek yang dipimpin oleh Cyborg Dynamics Engineering bersama Griffith University dan didanai oleh Queensland Defence Science Alliance ini menguji robot dalam berbagai kondisi simulasi serta kombinasi simulasi dan fisik dengan satu kendaraan nyata dan beberapa robot virtual. Hasil uji menunjukkan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi, yaitu 99,67 persen, dalam menyelesaikan tugas navigasi dan pemadaman dua titik api. Robot-robot ini dilatih menggunakan teknik pembelajaran penguatan multi-agen (MARL) melalui tiga tahap pembelajaran, mulai dari menguasai navigasi dasar hingga kolaborasi tugas yang kompleks seperti memadamkan banyak sumber api sekaligus di lingkungan penuh halangan. Kemampuan mereka untuk secara otomatis membagi tugas dan mengorganisasi diri mengurangi beban kerja manusia secara drastis. General Manager Cyborg Dynamics Engineering, Ryan Marple, menjelaskan bahwa saat ini perusahaan sudah mengoperasikan kendaraan pemadam kebakaran yang dikendalikan secara remote di lokasi tambang di Australia. Namun, penelitian ini berfokus pada pengembangan sistem yang sepenuhnya otonom dan mampu bekerja dalam kawanan robot, yang dapat memberikan respons lebih cepat dan efektif dalam situasi berisiko tinggi. Ke depannya, tim penelitian berencana menyempurnakan model AI mereka agar dapat lebih mudah dipindahkan dari kondisi simulasi ke lapangan nyata, serta memperluas aplikasi framework AI ini ke kendaraan bawah laut dan udara, termasuk juga kerja sama antar berbagai jenis robot. Hal ini membuka peluang baru untuk keselamatan dan efisiensi dalam pengelolaan kebakaran serta krisis lainnya.
17 Feb 2026, 00.00 WIB

Ricursive Intelligence: Revolusi AI dalam Mendesain Chip untuk Masa Depan Cerdas

Ricursive Intelligence adalah startup yang didirikan oleh dua ahli AI terkenal, Anna Goldie dan Azalia Mirhoseini, yang telah bekerja bersama di Google Brain dan Anthropic. Mereka fokus pada pengembangan platform AI yang dapat mendesain chip komputer jauh lebih cepat dibanding metode tradisional yang memerlukan waktu tahunan. Inovasi mereka dimulai dari proyek Alpha Chip di Google Brain yang mampu menyelesaikan desain chip dalam hitungan jam. Keberhasilan ini menarik perhatian besar investor besar dan produsen chip terkemuka, termasuk Nvidia, AMD, dan Intel, yang kini menjadi pelanggan dan investor Ricursive. Platform Ricursive menggunakan algoritma pembelajaran mendalam yang terus belajar dari desain chip sebelumnya sehingga setiap desain yang dibuat semakin efisien dan cepat. Mereka juga memanfaatkan Large Language Models (LLM) untuk menyempurnakan seluruh proses mulai dari penempatan komponen hingga verifikasi desain. Tujuan akhirnya adalah memungkinkan AI merancang chip yang mendukung kemajuan teknologi AI itu sendiri, mempercepat evolusi kecerdasan buatan dan membuat perangkat keras menjadi lebih hemat energi dan lebih sesuai kebutuhan model AI terbaru. Dengan pendanaan sebesar Rp 5.01 triliun ($300 juta) pada valuasi Rp 66.80 triliun ($4 miliar) yang baru saja diraih, Ricursive sangat berpotensi mengubah paradigma industri chip sekaligus mempercepat kemajuan dalam berbagai bidang teknologi yang bergantung pada AI.
16 Feb 2026, 22.58 WIB

RentAHuman: AI Memanfaatkan Tenaga Manusia untuk Tugas Dunia Nyata

RentAHuman adalah sebuah platform inovatif yang baru diluncurkan yang menghubungkan kecerdasan buatan (AI) dengan manusia untuk melakukan tugas fisik yang tidak bisa dilakukan oleh AI. Dengan model ini, AI mengatur dan merencanakan sementara manusia bertindak sebagai pelaksana tugas di dunia nyata. Ini menunjukkan pendekatan baru dimana manusia dan AI bisa bekerja sama, bukan saling menggantikan. Platform ini dikembangkan oleh Alexander Liteplo dan sudah menarik minat lebih dari 500.000 pengguna yang mendaftar sebagai pekerja yang siap menerima tugas dari AI. Pekerja dapat memperoleh bayaran mulai dari 1 hingga 100 dolar, tergantung pada jenis dan kompleksitas tugas yang diberikan. Foto sebagai bukti pelaksanaan tugas juga diperlukan untuk verifikasi oleh sistem AI. Meskipun konsepnya menarik, beberapa pengalaman awal pengguna menunjukkan adanya kendala terutama dalam koordinasi antara AI dan manusia. Misalnya, beberapa tugas yang memerlukan persetujuan dan sinkronisasi dengan manusia pemilik AI terkadang tertunda atau tidak selesai tepat waktu karena faktor yang tak dapat dikendalikan oleh AI. Salah satu gig paling populer di platform ini adalah tugas dengan bayaran 100 dolar yang memerlukan pekerja untuk memegang tanda bertuliskan "An AI Paid Me To Hold This Sign." Meskipun terdengar lucu, ini kemungkinan sebuah trik pemasaran yang juga dipromosikan oleh sang pencipta melalui media sosial untuk menarik perhatian dan pengguna baru. RentAHuman menandai langkah baru dalam dunia kerja di masa depan, yang berpotensi menjadi platform utama untuk kolaborasi antara bot AI dan tenaga manusia. Namun, masih diperlukan pengembangan dan perbaikan agar sistem ini bisa berjalan lebih efisien dan mengatasi masalah koordinasi yang ada sekarang.
15 Feb 2026, 15.00 WIB

Perusahaan China Dorong Teknologi Pendinginan Cair Hadapi Ledakan Data Center AI

Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) memicu permintaan tinggi akan pusat data yang memiliki daya listrik besar. Pendinginan udara yang selama ini digunakan mulai tidak memadai untuk menjaga kestabilan suhu server dan chip AI yang sensitif, sehingga teknologi pendinginan cair menjadi solusi alternatif yang lebih efektif dan efisien. Berbagai perusahaan manufaktur di China telah mulai berinvestasi besar-besaran di teknologi ini. Contohnya, Sanhua Intelligent Controls, Lansi Technology, dan Kehua Data, yang semua memperluas bisnis mereka dalam menyediakan sistem pendinginan cair. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran industri menuju solusi inovatif di bidang manajemen termal untuk server. Perusahaan lain seperti Shenzhen FRD dan Goaland Energy Conservation juga ikut dalam tren ini. Sanhua, yang dikenal sebagai pemasok penting bagi Tesla, mengungkapkan bahwa mereka akan terus mencari kemitraan baru guna mengembangkan teknologi pendinginan cair. Ini mempertegas komitmen mereka dalam sektor dengan prospek pertumbuhan tinggi. Salah satu perusahaan yang sangat diperhatikan adalah Envicool dari Shenzhen. Perusahaan yang fokus pada pendinginan presisi ini memiliki klien besar seperti Nvidia, Intel, Alibaba, dan Tencent. Nilai saham Envicool sudah naik lebih dari tiga kali lipat hanya dalam satu tahun, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap teknologi dan bisnis mereka. Dengan terus meningkatnya kebutuhan energi untuk pusat data AI di seluruh dunia, teknologi pendinginan cair akan menjadi elemen kunci dalam memastikan pusat data dapat berjalan optimal tanpa gangguan akibat panas berlebih. Langkah agresif perusahaan China dalam bidang ini menempatkan mereka di posisi strategis untuk menguasai pasar teknologi pendinginan masa depan.