
China adalah salah satu negara yang aktif menambah kapasitas energi baru, termasuk batu bara dan energi terbarukan seperti angin dan surya. Namun, pada tahun 2025, negara ini kembali menambah kapasitas pembangkit batu bara secara besar-besaran, hampir mencapai 70 gigawatt. Ini adalah angka tertinggi sejak tahun 2007 dan menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan energi hijau di China.
Salah satu alasan utama di balik peningkatan pembangunan pembangkit batu bara adalah pemadaman listrik yang terjadi pada 2021 dan 2022 akibat kekurangan batu bara, kekeringan, dan gangguan permintaan selama pandemi Covid-19. Karena batu bara dikenal sebagai sumber energi yang sangat andal, China memilih untuk meningkatkan kapasitas tersebut agar tidak mengalami krisis energi lagi.
Selain kapasitas yang sudah selesai dibangun, China juga memiliki sekitar 500 gigawatt kapasitas batu bara dalam tahap konstruksi dan perizinan. Meski di beberapa kasus pembatalan proyek cukup tinggi, tren ini menunjukkan betapa seriusnya negara ini dalam memperkuat pasokan batu bara mereka. Sebagai perbandingan, kapasitas pembangkit baru China pada 2025 lebih besar dari total pembangunan batu bara di India selama satu dekade terakhir.
Meski kapasitas batu bara meningkat, proporsi listrik yang berasal dari batu bara di China menurun menjadi 58% pada 2024, berkat percepatan pengembangan energi terbarukan. Namun, produksi hidroelektrik menurun akibat kekeringan yang berkepanjangan. Bahkan dengan ekspansi pesat energi terbarukan, China belum mencapai 20% dari total listrik yang dihasilkan dari sumber tersebut.
Salah satu masalah lain yang dihadapi China adalah kebijakan harga energi yang kaku, di mana harga energi ditetapkan pemerintah dan tidak bisa naik meskipun biaya produksi meningkat. Hal ini mengurangi insentif produsen untuk menjaga agar kapasitas yang ada tetap maksimal. Jika kondisi ini terus berlanjut, pengembangan energi bersih bisa terhambat dan target iklim global China akan sulit tercapai.