AI summary
Angry Kitten adalah sistem perang elektronik baru yang meningkatkan kemampuan pesawat tempur. Pengerahan F-16CJ Block 52 Vipers menunjukkan kesiapan militer AS di tengah ketegangan dengan Iran. Misi SEAD dan DEAD penting untuk menghancurkan ancaman radar dan rudal musuh. Amerika Serikat telah mengerahkan skuadron pesawat tempur F-16CJ Block 52 Viper yang diperlengkapi dengan sistem peperangan elektronik anyar bernama Angry Kitten pod ke wilayah Timur Tengah. Langkah ini sebagai bagian dari penambahan kekuatan militer AS dekat Iran, setelah pembicaraan diplomatik dengan Iran berputar di tempat tanpa kemajuan.Angry Kitten adalah perangkat canggih yang dibangun dari sistem AN/ALQ-167, memakai teknologi Digital Radio Frequency Memory (DRFM) yang bisa mengambil sinyal radar musuh, kemudian mengubah dan mengirimkan ulang dengan cara menipu radar tersebut. Ini sangat membantu pesawat untuk menghindari deteksi dan serangan dari sistem pertahanan udara musuh.F-16CJ Block 52 Viper adalah model jet tempur yang dirancang khusus untuk misi SEAD (Suppression of Enemy Air Defenses) dan DEAD (Destruction of Enemy Air Defenses), di mana pesawat harus menghadapi radar dan rudal musuh langsung. Dengan Angry Kitten, mereka punya perlindungan tambahan agar lebih efektif dan aman dalam menjalankan tugas berbahaya tersebut.Pesawat yang dilengkapi Angry Kitten pod terlihat transit di Lajes Field, Portugal, menandai kemungkinan pertama kali pod ini akan digunakan dalam operasi nyata, bukan hanya untuk latihan atau uji coba. Sistem ini juga memungkinkan pembaruan dan penyesuaian jamming secara cepat berdasarkan kondisi di lapangan.Penempatan ini menunjukkan kesiapan militer AS menghadapi kemungkinan eskalasi militer terhadap Iran, menggunakan teknologi terbaru dalam perang elektronik untuk mengalahkan teknologi pertahanan udara canggih seperti S-300 Rusia dan radar lokal Iran. Meskipun Pentagon belum mengonfirmasi rencana penggunaan peperangan langsung, langkah ini menguatkan sinyal persiapan militer AS.
Penggunaan Angry Kitten menandai pergeseran besar dalam kemampuan peperangan elektronik AS yang semakin maju dan adaptif, menyingkirkan pendekatan jamming tradisional yang kaku. Ini juga menunjukkan kesiapan militer AS untuk konfrontasi yang lebih berisiko dengan Iran, di mana survivabilitas pesawat tempur menjadi prioritas utama.