
Bitcoin melonjak lebih dari 6% dalam 24 jam terakhir, mencapai harga tertinggi multi-minggu di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik ini melibatkan Iran yang memblokade pasokan minyak melalui Selat Hormuz, menimbulkan kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian pasar energi global. Selain itu, mata uang kripto utama lain seperti Ether, XRP, dan Solana juga mengalami kenaikan signifikan.
Harga emas yang biasanya menjadi aset aman justru turun dari puncaknya di atas 5.400 dolar per ounce ke level sekitar 5.160 dolar, sementara indeks saham di Asia, termasuk Kospi Korea Selatan, mengalami tekanan tajam akibat peningkatan biaya impor minyak. Data CoinDesk menunjukkan Bitcoin telah berhasil mempertahankan level turunannya di sekitar 65.000 dolar selama krisis ini. Tagus Capital menilai Bitcoin kini menunjukkan karakter defensif yang lebih fleksibel daripada emas di masa krisis.
Fenomena ini menandai perubahan persepsi terhadap Bitcoin sebagai aset investasi yang dapat diandalkan selama periode ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Ke depan, Bitcoin diprediksi akan semakin diminati sebagai alternatif safe haven selain emas, meskipun tingkat volatilitasnya tetap menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan oleh para investor.