
Para peneliti sedang berupaya mengatasi masalah besar dalam kolonisasi luar angkasa, yaitu bagaimana menyediakan media tanam yang layak di bulan dan Mars yang hanya memiliki tanah berdebu dan berbatu yang disebut regolith. Regolith ini sendiri sebenarnya tidak bisa langsung dipakai untuk menanam karena tidak mengandung nutrisi bagi tanaman.
Untuk itu, tim yang terdiri dari berbagai universitas bersama NASA mengembangkan metode menggunakan limbah manusia dan limbah tanaman yang didaur ulang sebagai pupuk. Limbah ini diproses menggunakan sistem bernama BLiSS yang mengubah air limbah sintetis menjadi larutan kaya nutrisi.
Dalam eksperimen, larutan ini dicampurkan dengan regolith simulasi bulan dan Mars yang kemudian diaduk selama 24 jam. Hasilnya, tercipta interaksi kimiawi yang memecah mineral dalam regolith sehingga nutrisi penting seperti sulfur, kalsium, dan magnesium bisa diserap oleh tanaman.
Selain perubahan kimia, proses ini juga mengubah tekstur regolith yang tadinya tajam dan kasar menjadi lebih halus, mendekati tekstur tanah biasa. Ini memberi harapan besar bahwa tanah ekstraterestrial bisa diolah menjadi media tanam yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Walaupun hasil ini menjanjikan, para ilmuwan menegaskan masih harus diuji coba dengan regolith asli dari bulan dan Mars agar hasilnya lebih realistis dan dapat diterapkan di lapangan. Penelitian ini menjadi fondasi penting untuk pertanian luar angkasa yang berkelanjutan.