
Iran memanfaatkan misil balistik jarak pendek dan menengah beserta drone dalam menghadapi serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Senjata ini memungkinkan serangan cepat ke basis militer dan infrastruktur yang menjadi target utama. Taktik ini menunjukkan keberlanjutan kemampuan Iran untuk melakukan balasan dalam konflik yang sedang berlangsung.
Sistem peluncuran tersembunyi di bawah tanah, yang dikenal sebagai "kota misil", menjadi kekuatan utama Iran dalam menjaga operasi tetap berjalan meskipun mendapat tekanan serangan udara. Selain itu, penggunaan misil jelajah dan drone satu arah menjadi taktik untuk membanjiri sistem pertahanan musuh seperti Patriot, Iron Dome, dan Arrow. Strategi ini memperlihatkan pendekatan multi-layered yang meningkatkan efektivitas serangan balasan.
Dampak jangkauan misil Iran yang luas menandai ancaman bagi Israel serta fasilitas AS di negara-negara Timur Tengah seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Integrasi misil dan drone meningkatkan risiko perpanjangan konflik menjadi perang attrisi yang memaksa AS dan sekutunya untuk meningkatkan kewaspadaan dan biaya operasional dalam mempertahankan posisi regional.