
Terjadi pecahnya perang baru di Timur Tengah yang menyebabkan gejolak pasar global, mendorong reli moderat pada awalnya namun akhirnya pasar saham utama antara lain Nasdaq dan S&P 500 mengalami penurunan signifikan. Pasar Eropa bahkan lebih tertekan dengan IBEX 35 turun 5,2% dan DAX turun 4,1%. Situasi ini menunjukkan dampak langsung konflik geopolitik pada pasar keuangan.
Logam mulia yang biasanya aman saat krisis justru mengalami kejatuhan yakni emas turun 4,3%, perak 7,5%, dan platinum 11,3%, berlawanan dengan tren naik harga minyak mentah yang melonjak 8% hingga 77 dollar AS per barel. Di sisi lain, pasar cryptocurrency setelah penurunan berkepanjangan menunjukkan sedikit penguatan dengan bitcoin turun hanya 1% dan aset lain seperti ether, solana, dan XRP juga menguat dari posisi terendah harian.
Saham-saham perusahaan kripto seperti Robinhood, Coinbase, dan MicroStrategy justru turun tajam, menandakan masih ada tekanan signifikan pada sektor ini. Namun, analisis dari James Butterfill menyebutkan bahwa bitcoin menunjukkan ketahanan unik, mengindikasikan pasar kripto mungkin telah menyesuaikan posisi risiko lebih baik dibandingkan dengan episode sebelumnya. Hal ini berimplikasi pada peluang berbeda dalam manajemen risiko investasi di masa depan.