
Courtesy of InterestingEngineering
Mengubah Tanah Bulan dan Mars Jadi Ladang Subur dengan Limbah Manusia
Menciptakan sistem pertanian berkelanjutan di bulan dan Mars dengan mengubah tanah ekstraterestrial yang tidak subur menjadi lahan pertanian produktif menggunakan limbah manusia yang didaur ulang sebagai pupuk.
26 Feb 2026, 19.50 WIB
142 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Limbah manusia dapat diubah menjadi pupuk untuk mendukung pertanian di bulan dan Mars.
- Regolith di bulan dan Mars dapat diproses untuk menjadi media tanam yang lebih baik.
- Penelitian ini menyediakan peta jalan untuk pertanian di luar angkasa yang berkelanjutan.
Kennedy Space Center, Amerika Serikat - Para peneliti sedang berupaya mengatasi masalah besar dalam kolonisasi luar angkasa, yaitu bagaimana menyediakan media tanam yang layak di bulan dan Mars yang hanya memiliki tanah berdebu dan berbatu yang disebut regolith. Regolith ini sendiri sebenarnya tidak bisa langsung dipakai untuk menanam karena tidak mengandung nutrisi bagi tanaman.
Untuk itu, tim yang terdiri dari berbagai universitas bersama NASA mengembangkan metode menggunakan limbah manusia dan limbah tanaman yang didaur ulang sebagai pupuk. Limbah ini diproses menggunakan sistem bernama BLiSS yang mengubah air limbah sintetis menjadi larutan kaya nutrisi.
Dalam eksperimen, larutan ini dicampurkan dengan regolith simulasi bulan dan Mars yang kemudian diaduk selama 24 jam. Hasilnya, tercipta interaksi kimiawi yang memecah mineral dalam regolith sehingga nutrisi penting seperti sulfur, kalsium, dan magnesium bisa diserap oleh tanaman.
Selain perubahan kimia, proses ini juga mengubah tekstur regolith yang tadinya tajam dan kasar menjadi lebih halus, mendekati tekstur tanah biasa. Ini memberi harapan besar bahwa tanah ekstraterestrial bisa diolah menjadi media tanam yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Walaupun hasil ini menjanjikan, para ilmuwan menegaskan masih harus diuji coba dengan regolith asli dari bulan dan Mars agar hasilnya lebih realistis dan dapat diterapkan di lapangan. Penelitian ini menjadi fondasi penting untuk pertanian luar angkasa yang berkelanjutan.
Referensi:
[1] https://www.interestingengineering.com/space/human-waste-into-fertilizer-for-food-on-mars
[1] https://www.interestingengineering.com/space/human-waste-into-fertilizer-for-food-on-mars
Analisis Ahli
Dr. Lisa Pratt (Astrobiolog)
"Pendekatan bioregeneratif seperti ini berpotensi merevolusi cara kita membangun kehidupan berkelanjutan di luar angkasa, karena memanfaatkan sumber daya yang sudah ada secara efisien sangat penting untuk misi jangka panjang."
Prof. Mark Zabel (Terraforming Specialist)
"Walaupun mengolah regolith menggunakan limbah terlihat menjanjikan, tantangan teknis dan biokimia akan sangat besar. Uji coba dengan regolith asli adalah langkah yang tidak bisa ditunda."
Analisis Kami
"Penelitian ini merupakan langkah krusial untuk mengatasi masalah utama kolonisasi luar angkasa, yakni ketergantungan pada pasokan dari Bumi. Namun, adaptasi dengan kondisi regolith asli dan risiko kesehatan yang berkaitan dengan penggunaan limbah manusia harus ditangani dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan masalah baru."
Prediksi Kami
Dalam beberapa dekade mendatang, teknologi daur ulang limbah manusia untuk mengubah tanah di Bulan dan Mars akan berkembang pesat, memungkinkan koloni manusia mandiri yang dapat bertani dan memenuhi kebutuhan pangan sendiri di luar angkasa.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa tujuan utama penelitian ini?A
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menciptakan pertanian berkelanjutan di bulan dan Mars dengan mengubah limbah manusia menjadi pupuk.Q
Siapa penulis utama dari studi ini?A
Penulis utama dari studi ini adalah Harrison Coker.Q
Apa itu BLiSS?A
BLiSS adalah sistem dukungan kehidupan bioregeneratif yang digunakan untuk mengubah limbah sintetis menjadi solusi kaya nutrisi.Q
Mengapa limbah manusia penting untuk pertanian di luar angkasa?A
Limbah manusia penting karena dapat menghasilkan tanah yang sehat dan bergizi untuk mendukung pertanian di luar angkasa.Q
Di mana hasil penelitian ini dipublikasikan?A
Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal ACS Earth and Space Chemistry.


.jpg)
