Fokus

Dominasi Kuantum & Transistor Tiongkok

Share

Artikel-artikel ini menyorot berbagai terobosan oleh peneliti Tiongkok di bidang teknologi kuantum dan transistor canggih. Mulai dari gerbang foton empat-dimensi dan pengendalian chaos kuantum pada prosesor 78-qubit hingga transistor terkecil dan paling hemat energi untuk chip AI dan perangkat tanpa baterai, poin-poin inovatif ini menandai lompatan besar dalam efisiensi dan kecepatan komputasi.

26 Feb 2026, 22.49 WIB

Inovasi Gerbang Kuantum Empat Dimensi Percepat Quantum Computing Optik

Inovasi Gerbang Kuantum Empat Dimensi Percepat Quantum Computing Optik
Para peneliti dari TU Wien dan China berhasil mengembangkan teknologi baru yang memungkinkan komputer kuantum bekerja menggunakan empat keadaan sekaligus, bukan hanya dua seperti pada komputer klasik. Hal ini dilakukan dengan menggunakan foton yang memiliki state kuantum berbeda berdasarkan bentuk gelombang spasialnya. Teknologi ini memanfaatkan orbital angular momentum dari foton, yaitu properti kuantum yang dapat memiliki banyak keadaan berbeda, berbeda dari yang biasanya digunakan yaitu polarisasi dengan hanya dua keadaan. Dengan cara ini, satu foton bisa membawa lebih banyak informasi sekaligus. Tim peneliti menciptakan sebuah gerbang logika kuantum yang dapat mengoperasikan dua foton dalam superposisi berbagai bentuk gelombang tersebut dan bisa menghubungkan atau memisahkan mereka secara terkontrol. Gerbang ini dinamakan controlled phase-flip gate yang telah diuji secara eksperimen. Teknologi ini juga dilengkapi dengan sistem phase-locking yang sangat presisi untuk memastikan performa gerbang tetap stabil dan akurat selama operasi, dengan tingkat kesetiaan proses mencapai angka antara 0,71 hingga 0,85, yang cukup tinggi untuk eksperimental quantum computing. Penemuan ini membuka kemungkinan yang lebih luas untuk pengembangan teknologi kuantum optik dengan kapasitas data yang lebih besar dan stabilitas lebih baik, serta aplikasi potensial yang bisa berkembang di berbagai bidang teknologi informasi dan komunikasi kuantum di masa depan.
25 Feb 2026, 19.58 WIB

Peneliti Cina Ciptakan Transistor Terkecil dan Hemat Energi untuk Chip AI Masa Depan

Peneliti Cina Ciptakan Transistor Terkecil dan Hemat Energi untuk Chip AI Masa Depan
Para peneliti di Peking University, Cina, berhasil mengembangkan transistor terkecil dan paling hemat energi yang dapat digunakan untuk chip kecerdasan buatan (AI) masa depan. Transistor ini disebut ferroelectric field-effect transistor (FeFET), yang menyimpan dan memproses data dalam satu unit, mirip dengan cara kerja otak manusia. Teknologi chip konvensional saat ini menggunakan silikon yang menyimpan data dan memprosesnya secara terpisah. Hal ini menyebabkan konsumsi energi tinggi dan panas berlebih saat memindahkan data. Dengan peningkatan kebutuhan AI yang memproses data jumlah besar, teknologi chip ini mulai menunjukkan keterbatasan signifikan. Perbedaan utama dari FeFET yang dikembangkan adalah penggunaan elektroda gerbang dengan ukuran satu nanometer, lebih kecil dari molekul DNA yang lebarnya sekitar dua nanometer. Desain ini memungkinkan pengoperasian pada tegangan hanya 0,6 volt, sehingga lebih hemat energi dibandingkan model FeFET sebelumnya yang memerlukan 1,5 volt. Transistor ini juga menawarkan kecepatan operasi yang sangat tinggi dengan waktu respons hanya 1,6 nanodetik. Ini akan memungkinkan chip AI melakukan komputasi lebih cepat dan efisien, sekaligus mengurangi penggunaan tenaga listrik secara signifikan. Pengembangan ini sudah dipatenkan oleh Peking University dan diperkirakan akan membawa perubahan besar di bidang pembuatan chip, termasuk kemungkinan menciptakan chip dengan node di bawah satu nanometer. Ini menjadi harapan agar data center masa depan dan perangkat AI bisa lebih hemat energi dan memiliki performa lebih tinggi.
25 Feb 2026, 05.19 WIB

Transistor Ferroelectric Terkecil dan Hemat Energi Dorong Chip AI Masa Depan

Para ilmuwan China berhasil menciptakan transistor ferroelectric terkecil dan paling hemat energi di dunia. Transistor ini memiliki kemampuan unik karena dapat mengintegrasikan memori dan pemrosesan data dalam satu unit, mirip dengan cara kerja neuron di otak manusia. Ini adalah terobosan besar yang diharapkan bisa mempercepat perkembangan hardware kecerdasan buatan. Pada chip komputer konvensional, penyimpanan data dan proses komputasi terjadi di tempat yang terpisah, sehingga menyebabkan keterlambatan karena data harus berpindah antara kedua area tersebut. Terobosan baru ini mengatasi masalah tersebut dengan menggabungkan fungsi tersebut dalam satu transistor, mengurangi waktu yang hilang pada transfer data. Penelitian ini dipimpin oleh Qiu Chenguang dan Peng Lianmao dari Peking University dan Chinese Academy of Sciences. Penemuan mereka dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkemuka, Science Advances, yang menandai relevansi dan keabsahan ilmiah dari hasil studi ini. Menurut para peneliti, kemampuan komputasi di dalam memori (in-memory computing) dari transistor ferroelectric ini sejalan dengan kebutuhan evolusi chip AI yang semakin menuntut efisiensi, kecepatan, dan integrasi proses dan memori secara maksimal. Industri teknologi menganggap ini sebagai kunci pengembangan AI dan komputasi neuromorfik di masa mendatang. Terobosan ini membuka peluang baru bagi pengembangan AI hardware yang lebih hemat energi dan berukuran sangat kecil, memungkinkan aplikasi yang lebih luas dan besar dalam berbagai teknologi seperti robotika, sistem cerdas, hingga perangkat mobile pintar. Ini bisa menjadi fondasi penting untuk generasi chip komputer berikutnya.
20 Feb 2026, 21.04 WIB

Penemuan Tahap Prethermalisation Buka Jalan Kontrol Dekohersi Kuantum

Para ilmuwan di Institute of Physics, Chinese Academy of Sciences, berhasil mengamati dan mengendalikan tahap prethermalisation dalam sistem kuantum menggunakan prosesor kuantum Chaung tzu 2.0 dengan 78 qubit. Tahap ini adalah fase sementara di mana sistem kuantum mempertahankan informasinya sebelum terjadinya decoherence secara penuh. Dalam komputasi kuantum, decoherence menjadi masalah utama karena menyebabkan qubit kehilangan data penting sehingga hasil komputasi tidak bisa disimpan atau diakses. Komputer klasik belum mampu menghitung atau memodelkan proses ini secara efisien karena kompleksitas ruang keadaan sistem kuantum yang sangat besar. Penelitian menggunakan Chaung tzu 2.0 menunjukkan bahwa selama prethermalisation, sistem kuantum bertahan dalam keadaan relatif stabil dan informasi yang tersimpan tidak langsung tersebar. Tahap ini mirip dengan ketika es mulai mencair tetapi suhu tetap stabil sebelum air berubah kondisi. Para peneliti juga berhasil mengatur durasi dan pola fase prethermalisation melalui kontrol khusus yang membuat mereka bisa memperpanjang atau mempersingkat periode ini sesuai kebutuhan. Pengendalian ini penting untuk menjaga informasi kuantum agar tetap utuh lebih lama. Penemuan ini membuka peluang besar dalam mengembangkan teknologi komputasi kuantum yang lebih andal, dengan potensi peningkatan masa koherensi qubit dan pengembangan metode koreksi kesalahan yang lebih efektif. Ini juga memperlihatkan kemampuan komputer kuantum mengatasi masalah yang tidak dapat diselesaikan komputer klasik.
20 Feb 2026, 08.23 WIB

Penemuan Tahap Stabil Sementara yang Bisa Lindungi Informasi Kuantum

Para ilmuwan di Tiongkok berhasil mengamati dan mengendalikan suatu fase sementara yang stabil dalam sistem kuantum menggunakan prosesor kuantum superkonduktor bernama ‘Chuang-tzu 2.0’ dengan 78 qubit. Fase ini dikenal sebagai prethermalisation dan merupakan tahap peralihan penting dalam evolusi sistem kuantum setelah terganggu. Jika sistem kuantum terganggu, energi dan informasi di dalamnya tersebar hingga merata, mirip seperti ayunan yang setelah digerakkan akan berhenti. Ini menimbulkan masalah besar dalam komputasi kuantum karena informasi yang berubah terlalu cepat akan sulit disimpan dan diakses kembali dengan akurat. Sebelumnya, asal usul dan durasi proses ini sulit diprediksi oleh komputer klasik karena kompleksitas sistem kuantum yang sangat tinggi. Namun dalam studi ini, para peneliti berhasil menemukan bahwa ada fase peralihan yang sementara dan relatif stabil sebelum sistem mencapai keseimbangan. Kemampuan untuk mengendalikan kecepatan evolusi kuantum ini sangat penting bagi pengembangan teknologi kuantum. Dengan memanfaatkan kondisi prethermalisation, informasi kuantum dapat dipertahankan lebih lama, sehingga meningkatkan efektivitas komputasi dan pengolahan data kuantum. Penemuan ini bukan hanya membuka jalan untuk kemajuan teknologi kuantum, tetapi juga memberikan alat baru bagi para peneliti dalam mengelola dan memanipulasi sistem kuantum yang kompleks, yang sebelumnya sulit untuk dikendalikan secara presisi.