Industri teknologi global sedang menghadapi krisis serius dalam pasokan memori yang sudah berlangsung sejak akhir tahun lalu. Krisis ini menimbulkan tekanan besar di berbagai bagian industri elektronik, mulai dari smartphone, PC, hingga TV yang memerlukan komponen memori sebagai bagian penting produksinya.
Menurut CEO Phison, Pua Kheing Sen, banyak perusahaan elektronik diprediksi akan mengalami masa sulit dalam beberapa tahun ke depan. Penurunan produksi smartphone diperkirakan antara 200 hingga 250 juta unit, sementara produksi PC dan TV juga mengalami penurunan signifikan.
Tidak hanya berdampak pada jumlah produksi, krisis ini juga menimbulkan risiko kebangkrutan bagi banyak vendor dan perusahaan elektronik. Beberapa produsen terpaksa menghentikan lini produksinya karena masalah kekurangan komponen memori yang vital untuk perangkat elektronik mereka.
Upaya peningkatan kapasitas produksi sedang dilakukan oleh beberapa produsen seperti Samsung, Micron, dan SK Hynix, namun kapasitas baru ini hanya mampu menambah 3-5% dari total produksi global, sementara kebutuhan kekurangan mencapai 10-20%. Selain itu, produsen juga mulai menerapkan kebijakan pembayaran di muka selama tiga tahun, yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Diperkirakan krisis ini bisa berlanjut hingga tahun 2030, membuat para pelaku industri harus menyiapkan strategi baru untuk bertahan. Krisis ini juga memengaruhi pasar domestik China yang sangat besar, sehingga produk murah dari sana tidak akan banyak keluar ke pasar global.