Global Talent Competitiveness Index (GTCI) 2025 baru-baru ini merilis peringkat daya saing talenta negara-negara di dunia dan Indonesia menempati posisi ke-80 dari 135 negara. Indeks ini menilai kemampuan suatu negara dalam mengembangkan, menarik, dan mempertahankan talenta sebagai faktor penting di ekonomi global yang semakin kompetitif.
Indonesia masuk dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas dengan nilai keseluruhan 41,18, yang berada di bawah rata-rata kelompok tersebut yaitu 43,14. Penilaian dalam laporan ini dilakukan melalui berbagai indikator, termasuk kemampuan teknologi, kualitas pendidikan, serta kebijakan dan regulasi yang mendukung talenta.
Pada aspek adaptasi talenta, Indonesia mendapat skor paling rendah, terutama dalam kemampuan menggunakan software bisnis dan cloud, pemberdayaan perempuan, serta pelatihan dalam perusahaan. Namun, Indonesia justru unggul dalam pemusatan talenta di bidang kecerdasan buatan (AI), yang menjadi sektor penting di era digital ini.
Laporan GTCI 2025 menambahkan indikator baru seperti penggunaan AI, ketahanan tenaga kerja, dan kesejahteraan karyawan. Pilar-pilar penilaian mencakup Effectiveness of regulation, kemampuan menarik talenta, pendidikan dan pelatihan, serta menjaga kualitas hidup karyawan. Indonesia cukup baik di pilar Retain dan Enable, tapi masih perlu berbenah di Attract dan Grow.
Untuk mengingkatkan posisi di masa depan, Indonesia perlu fokus pada pengembangan keterampilan digital dan penyesuaian sistem pendidikan serta pelatihan dengan kebutuhan industri teknologi tinggi yang terus berkembang. Langkah ini penting agar ekonomi Indonesia bisa bersaing di skala global dan menarik talenta lokal maupun asing.