
Selama bertahun-tahun, cara mengukur hormon manusia hanya bisa dilakukan dengan mengambil darah di laboratorium klinis. Namun, sejak 2026, metode pengukuran hormon mulai berubah dengan penggunaan teknologi baru seperti cartridge saliva yang dianalisis oleh AI smartphone, sensor biosensor DNA, alat wearable berbentuk earring-back, dan sensor keringat. Inovasi ini bertujuan membuat pelacakan hormon menjadi mudah dan rutin layaknya pengukuran detak jantung.
Pasar teknologi hormonal ini tumbuh cepat. Pada 2025, nilai pasar sekitar 325,7 juta dolar dan diperkirakan akan mencapai 716,2 juta dolar pada 2035. Pasar hormonal health lebih luas bahkan diperkirakan mencapai peluang bisnis 600 miliar dolar. Banyak startup dan institusi riset berlomba menciptakan teknologi baru yang mempercepat proses pengukuran hormon menerapkan AI dan hardware canggih.
Perkembangan teknologi biosensor termasuk yang dibuat di Caltech oleh Profesor Wei Gao menunjukkan kemajuan besar di bidang ini, misalnya pengukuran hormon estrogen dari keringat dengan presisi tinggi. Perusahaan seperti Level Zero Health, Pheal, Delphea, Eli Health, dan Clair berusaha menciptakan produk wearable yang bisa memonitor hormon secara terus-menerus dengan akurasi klinis.
Selain teknologi, aspek regulasi juga mulai teruji dengan sertifikasi produk berbasis saliva oleh Inne di Uni Eropa dan Inggris serta penghargaan produk inovasi di CES yang menunjukkan kematangan pasar hormon non-darah. Penggunaan AI juga makin penting untuk memberikan analisis prediktif terkait hormon dan kondisi tubuh, yang akan meningkatkan nilai dan retensi pengguna pada platform tersebut.
Dengan integrasi data hormonal ke dalam berbagai layanan kesehatan, olahraga, dan kesejahteraan, pengukuran hormon di masa depan akan menjadi sinyal penting dalam sistem kesehatan presisi. Transformasi ini tidak hanya akan mengubah akses dan pemahaman individu terhadap hormon, tapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui inovasi di bidang femtech dan kesehatan pria.