Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus

Sorotan Inovasi Global: Sains & Teknologi

Share

Kumpulan berita ini menghadirkan terobosan dan perkembangan terkini dalam sains dan teknologi, mulai dari material canggih dan energi terbarukan, penelitian biomedis, robotika, hingga penemuan astronomi dan pemantauan cuaca. Ada juga sorotan khusus pada inovasi lokal di Indonesia dan isu lingkungan global.

27 Feb 2026, 23.58 WIB

Penurunan Polusi dan Pemanasan Global Bikin Radiasi Matahari di Eropa Meningkat

Penurunan Polusi dan Pemanasan Global Bikin Radiasi Matahari di Eropa Meningkat
Risiko polusi udara dan pemanasan global saling terkait, dan sebuah studi baru menunjukkan bahwa berkurangnya polusi aerosol di Eropa telah menyebabkan peningkatan radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi. Peningkatan ini telah berlangsung antara tahun 1994 hingga 2023 dengan rata-rata 2% per dekade, khususnya di wilayah Eropa tengah-barat. Peningkatan radiasi tidak terjadi merata di seluruh daratan Eropa. Wilayah seperti Prancis timur laut, Benelux, dan Jerman barat mengalami peningkatan hampir 4% secara total selama tiga dekade terakhir, bahkan mencapai 5% dalam 20 tahun terakhir. Faktor utama yang memengaruhi adalah perubahan pada tingkat polusi aerosol dan cakupan awan yang menurun. Aerosol memiliki dua pengaruh utama terhadap radiasi matahari, yakni secara langsung dengan menyerap serta memantulkan sinar matahari dan secara tidak langsung dengan mempengaruhi cakupan dan sifat awan. Penurunan aerosol menyebabkan atmosfir menjadi lebih transparan, sehingga sinar matahari lebih mudah menembus dan mencapai permukaan bumi lebih banyak. Akibat kenaikan radiasi matahari, suhu di wilayah Eropa juga meningkat dan perubahan pola cuaca mulai terlihat, termasuk penurunan pembentukan awan dan perubahan pola presipitasi. Situasi ini berdampak luas pada berbagai sektor ekonomi mulai dari pertanian, pariwisata, hingga edukasi dan energi terbarukan. Meskipun peningkatan radiasi matahari akan memberikan keuntungan bagi tenaga surya dan efisiensi panel fotovoltaik, efek samping berupa kenaikan suhu dan perubahan iklim akan menimbulkan tantangan baru yang harus dihadapi oleh banyak sektor dan kebijakan masyarakat di masa depan.
27 Feb 2026, 19.53 WIB

Gerhana Matahari Cincin Langka di Antartika dan Fenomena Langit Mendatang

Gerhana Matahari Cincin Langka di Antartika dan Fenomena Langit Mendatang
Pada 17 Februari, terjadi gerhana matahari cincin yang hanya terlihat dari bagian terpencil Antartika. Awalnya dianggap tidak ada yang menyaksikan, namun para ilmuwan di stasiun penelitian Concordia dan Mirny berhasil mengabadikan momen indah gerhana tersebut. Gerhana ini memperlihatkan bulan menutupi hampir seluruh permukaan matahari, menyisakan cincin api yang indah untuk selama beberapa menit. Gerhana matahari cincin terjadi ketika bulan berada sedikit lebih jauh dari bumi sehingga ukuran tampaknya lebih kecil dari matahari, menyebabkan munculnya cincin cahaya di sekitar bulan. Di Concordia, fenomena ini bertahan selama sekitar 2 menit, dengan 96% matahari tertutupi. Selain itu, stasiun Mirny yang berada di pesisir Antartika juga melihat gerhana serupa dengan durasi sedikit lebih pendek. Selain pengamatan dari Bumi, Badan Antariksa Eropa (ESA) berhasil merekam gerhana itu beberapa kali menggunakan satelit Proba-2 yang dilengkapi dengan kamera khusus untuk mengamati sinar ultraviolet ekstrim matahari. Foto-foto ini menjadi bukti penting yang mendokumentasikan gerhana dari sudut pandang luar angkasa. Setelah gerhana matahari ini, akan terjadi gerhana bulan total pada 3 Maret, yang dapat disaksikan dari Amerika Utara terutama di wilayah barat menjelang pagi hari. Pada gerhana bulan tersebut, Bulan akan berubah warna menjadi kemerahan yang disebut 'blood moon' dan berlangsung selama hampir satu jam. Ini menjadi kesempatan terakhir menyaksikan gerhana bulan total di wilayah tersebut sebelum beberapa tahun ke depan. Selain itu, beberapa peristiwa astronomi lain yang akan menarik perhatian termasuk peluncuran misi Artemis 2 oleh NASA pada bulan April dan kemungkinan munculnya komet Kreutz yang sangat langka bernama C/2026 A1 (MAPS). Peristiwa-peristiwa ini melanjutkan rangkaian penting dalam observasi dan eksplorasi luar angkasa yang sangat menarik bagi para pengamat langit.
27 Feb 2026, 12.03 WIB

AI dalam Kesehatan: Dari Hype ke Integrasi Operasional dan Tata Kelola Cerdas

AI dalam Kesehatan: Dari Hype ke Integrasi Operasional dan Tata Kelola Cerdas
Konferensi Vive 2026 dan HIMSS 2026 menegaskan pentingnya AI dalam teknologi kesehatan, khususnya bagi CIO dan pengambil keputusan. Fokus utama saat ini adalah pada hasil nyata yang bisa diukur dan perbaikan operasional yang efektif dengan AI, bukan sekadar proyek eksperimental atau inovasi tanpa arah yang jelas. Rumah sakit harus mengintegrasikan AI secara mendalam ke dalam alur kerja inti, bukan hanya sebagai pilot proyek sampingan. AI digunakan untuk mengotomatisasi berbagai tugas, seperti dokumentasi ambient yang mengurangi beban dokter dan otomatisasi proses siklus pendapatan seperti pengkodean dan otorisasi sebelumnya. Sistem informasi rumah sakit berusaha membuat AI beroperasi secara seamless dalam platform seperti EMR agar pengguna tidak perlu berpindah sistem atau terganggu saat menggunakan AI. Hal ini meningkatkan penerimaan dan efektivitas AI, serta langsung memberikan manfaat pada produktivitas klinis dan operasional. Tantangan besar muncul dalam tata kelola AI, terutama dengan munculnya regulasi seperti Texas Chapter 183, yang mengharuskan setiap konten klinis yang dihasilkan AI harus ditinjau oleh tenaga medis bersertifikat. Berbagai negara bagian memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengatur penggunaan AI, memberikan kompleksitas bagi organisasi kesehatan yang beroperasi lintas wilayah. Diskusi utama di konferensi adalah bagaimana membuat AI menjadi infrastruktur yang mendukung sekaligus aman dan patuh terhadap regulasi yang ketat. CIO harus memainkan peran krusial untuk memastikan AI tidak hanya meningkatkan efisiensi dan pengalaman pasien, tetapi juga tetap dalam kerangka tata kelola yang tepat.
27 Feb 2026, 04.12 WIB

Mengapa YouTube Lebih dari Sekadar Saluran Iklan Berbayar untuk Merek

Mengapa YouTube Lebih dari Sekadar Saluran Iklan Berbayar untuk Merek
Dalam beberapa tahun terakhir, anggaran pemasaran banyak berpindah ke platform video pendek vertikal seperti TikTok dan Instagram, yang menawarkan kecepatan dan penilaian kinerja yang efisien. Namun, YouTube justru semakin memperkuat posisinya dalam menghadirkan konten berdurasi panjang dan suasana tontonan televisi terhubung yang lebih mendalam dan berkelanjutan. Data dari Nielsen menunjukkan YouTube kini menjadi platform terbesar dalam penggunaan layar televisi di Amerika Serikat. Meskipun demikian, banyak pemasar Fortune 500 masih melihat YouTube hanya sebagai tempat membeli media iklan berbayar, tanpa memahami bahwa platform ini merupakan ekosistem kreator yang membangun budaya dan cerita yang lebih lama dan berulang. Andrew Graham dari Creative Artists Agency mengkritik pendekatan ini sebagai pandangan yang terlalu sempit dan mengabaikan potensi YouTube dalam membentuk narasi yang lebih tahan lama. Para kreator seperti Larray menggarisbawahi bahwa produksi konten YouTube biasanya memerlukan waktu dan usaha kreatif yang lebih besar, sehingga brand integrations di dalamnya terlihat lebih natural dan disambut audiens dengan baik. Pendekatan ini berbeda dengan platform pendek seperti TikTok yang lebih menonjolkan selebriti tradisional dengan konten yang ringan namun sementara. Seiring pertumbuhan waktu tontonan YouTube di layar televisi terhubung dan peningkatan investasi iklan di lingkungan streaming yang sudah mencapai US$ 30 miliar pada tahun 2025, strategi pemasaran juga perlu menyesuaikan diri. Pemasaran di YouTube tidak lagi hanya soal transaksi cepat, melainkan tentang mengakses komunitas yang setia dan melibatkan audiens secara mendalam melalui cerita yang terstruktur dan berkelanjutan. Di masa depan, jika TikTok dan Instagram mengikuti pola YouTube dalam penggunaan iklan berbayar secara dominan, maka merek yang mampu berinvestasi dalam integrasi jangka panjang dan naratif di YouTube akan mendapatkan keunggulan kompetitif di tengah persaingan yang semakin ketat untuk perhatian konsumen di berbagai platform.
26 Feb 2026, 21.52 WIB

MicroBooNE Fermilab Tegaskan Steril Neutrino Tidak Ada dengan Keyakinan Tinggi

MicroBooNE Fermilab Tegaskan Steril Neutrino Tidak Ada dengan Keyakinan Tinggi
Neutrino adalah partikel kecil yang sulit dideteksi karena hampir tidak berinteraksi dengan materi. Beberapa eksperimen sebelumnya menemukan hasil yang aneh saat mengamati neutrino, sehingga ilmuwan menduga adanya partikel baru bernama neutrino steril. Neutrino steril berbeda dari neutrino aktif karena hanya berinteraksi lewat gravitasi dan tidak dengan gaya lemah biasa. Untuk menguji keberadaan neutrino steril, proyek MicroBooNE di Fermi National Accelerator Laboratory menggunakan detektor besar seukuran bus yang menerima neutrino dari dua jalur berbeda. Data dari kedua jalur ini membantu ilmuwan membandingkan hasil interaksi neutrino dengan prediksi yang ada di Model Standar fisika partikel. Hasil analisa dari MicroBooNE menunjukkan bahwa tidak ada bukti cukup untuk mendukung keberadaan neutrino steril dengan tingkat keyakinan 95 persen. Bahkan, ada defisit pada satu jalur neutrino, sedangkan di jalur lain tidak ditemukan hal serupa, menandakan ada proses lain yang masih perlu dipahami. Walaupun begitu, para ilmuwan percaya bahwa fenomena misterius tersebut bisa jadi diyebabkan oleh osilasi neutrino yang lebih rumit atau ada fisika baru yang belum terungkap sepenuhnya. Maka dari itu, laboratorium ini berharap eksperimen selanjutnya dengan detektor baru akan membantu memecahkan teka-teki ini. Kesimpulan dari MicroBooNE menjadi langkah maju penting dalam dunia fisika neutrino dan menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan terus berkembang dengan pengujian dan pembuktian yang lebih akurat. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature dan mengundang banyak eksperimen lanjutan untuk membuka rahasia alam semesta.
26 Feb 2026, 21.32 WIB

Mesin Kapal Bertenaga Amonia WinGD Tembus Uji Standar Dunia Pertama Kali

WinGD, sebuah perusahaan energi laut asal Swiss, mengumumkan keberhasilan mesin kapal bertenaga amonia X-DF-A melewati uji tipe dan uji pabrik, sebuah prestasi dunia pertama. Mesin ini menggunakan amonia sebagai bahan bakar yang tidak mengandung karbon, sehingga sangat ramah lingkungan jika diproduksi dari sumber terbarukan. Tes dilakukan di fasilitas HD Hyundai Heavy Industries di Korea Selatan dengan mesin bore 52 yang akan dipasang pada kapal pengangkut LPG dan amonia berkapasitas 46.000 meter kubik milik perusahaan Belgia, EXMAR. Kapal ini diperkirakan menjadi kapal gas bertenaga amonia pertama yang beroperasi secara komersial. Semua pengujian diawasi oleh lembaga klasifikasi Lloyd’s Register dan dihadiri oleh perwakilan dari lembaga klasifikasi lainnya serta pengawas dari EXMAR, menegaskan standar keamanan dan kualitas yang tinggi. WinGD juga melaporkan telah menerima 30 pesanan mesin ini dari berbagai segmen kapal seperti gas carrier, bulk carrier, tanker, dan container vessel. Amonia sebagai bahan bakar dipandang penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca karena bebas karbon dan memiliki kerapatan energi lebih tinggi dibandingkan hidrogen. Proyeksi menyebut amonia bisa menjadi hampir 50 persen dari bahan bakar kapal pada 2050, yang akan sangat membantu mengurangi dampak perubahan iklim dari industri pelayaran. Para ahli WinGD menegaskan bahwa hasil pengujian ini membuktikan teknologi amonia memiliki keandalan, performa, dan keselamatan yang dibutuhkan untuk aplikasi komersial. Kolaborasi dengan pelaku industri seperti EXMAR menjadi kunci membawa teknologi ini ke pasar dan mempercepat transisi energi bersih di sektor pelayaran.
26 Feb 2026, 20.40 WIB

Perjuangan Jerapah Melawan Badai: Posisi Berdiri Jadi Kunci Bertahan

Video yang menampilkan beberapa jerapah bertahan di tengah badai di Massai Mara, Kenya, baru-baru ini menjadi viral dan menarik perhatian banyak netizen. Hal ini membuka kesadaran banyak orang bahwa tubuh besar jerapah membuat mereka sulit mencari perlindungan dari hujan dan angin kencang. Jerapah yang tingginya bisa mencapai 5,5 meter harus bertahan hanya dengan berdiri tegak. Mereka tidak bisa berlindung di bawah pohon atau di balik bebatuan seperti binatang lain, karena ukurannya yang besar membatasi kemampuan mereka untuk berteduh. Menurut ahli dari Kebun Binatang Taronga di Sydney, posisi berdiri adalah posisi paling aman bagi jerapah saat badai. Jika jerapah duduk atau berbaring, mereka menjadi rentan karena butuh waktu lama untuk kembali berdiri dan lebih sulit mengamati sekitar. Selain itu, suara hujan yang deras bisa menutupi suara predator, sehingga jerapah yang duduk lebih berisiko diserang. Tanah yang basah dan licin juga membuat mereka tidak bisa bergerak dengan cepat jika ada bahaya mendekat. Untuk menghadapi cuaca dingin, jerapah memiliki kemampuan mengatur suhu tubuh secara internal melalui jaringan pembuluh darah di area bercak gelap dan kulit leher yang lebih tebal, yang berfungsi sebagai isolasi. Hal ini membuat mereka mampu bertahan di berbagai kondisi lingkungan.
26 Feb 2026, 19.00 WIB

Rahasia Jalur Unik Sungai Green Membelah Pegunungan Uinta Terungkap

Sungai biasanya mengalir mengitari pegunungan, namun Sungai Green di Utah, Amerika Serikat, justru membelah langsung Pegunungan Uinta. Fenomena ini membingungkan para ahli selama lebih dari satu abad dan menimbulkan pertanyaan mengenai asal-usul jalur sungai yang aneh ini. Tim ahli geologi dari University of Glasgow melakukan studi untuk mencari tahu penyebab jalur unik tersebut. Mereka menggunakan pencitraan seismik dan pemodelan geologi canggih untuk mengamati struktur di bawah Pegunungan Uinta dan menemukan bahwa kerak Bumi di sana lebih tipis beberapa kilometer dibandingkan area sekitarnya. Menurut penelitian, Sungai Green mulai membentuk jalurnya antara 8 juta hingga 1,5 juta tahun yang lalu, jauh setelah Pegunungan Uinta terbentuk sekitar 50 juta tahun lalu. Proses lithospheric dripping yang membuat kerak Bumi melengkung dan menurunkan elevasi sekitar 400 meter memungkinkan sungai ini mengalir melalui pegunungan. Ketika daratan kembali terangkat, sungai tetap mengalir di jalur yang sama dan secara perlahan mengikis batuan, membentuk ngarai sedalam 700 meter antara puncak pegunungan setinggi 4 kilometer. Perubahan ini juga memengaruhi garis pemisah benua serta habitat satwa di daerah tersebut. Penemuan ini memberikan jawaban atas perdebatan panjang soal jalur Sungai Green dan memperkuat pemahaman tentang fenomena lithospheric dripping dalam pembentukan lanskap Bumi. Studi ini juga membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai dampak proses geologi terhadap perubahan alam dan lingkungan.
26 Feb 2026, 08.55 WIB

Punch Bayi Monyet Viral Belajar Sosialisasi di Tengah Dinamika Kelompok

Punch adalah bayi monyet makaka Jepang yang viral karena videonya yang membawa boneka monyet sebagai teman penggantinya saat merasa kesepian. Boneka itu membantu Punch mengatasi rasa sepinya, membuatnya unik dan terkenal di dunia maya. Namun, belakangan ini video baru dari Punch kembali viral karena menunjukkan ia terlihat seperti sedang ditindas oleh monyet dewasa lain di kebun binatang tempat ia tinggal, yaitu kebun binatang Ichikawa di Jepang. Pihak kebun binatang memberikan klarifikasi bahwa kejadian tersebut terjadi karena Punch mencoba mendekati bayi monyet lain, namun induk dari bayi itu merasa terganggu dan menanggapi dengan agresi yang merupakan perilaku normal dalam dunia monyet. Monyet makaka Jepang memiliki sistem hierarki khusus yang mendominasi kelompok mereka, terutama oleh monyet betina dewasa yang melindungi anaknya. Oleh karena itu, agresi terhadap anggota yang dianggap mengganggu adalah hal yang wajar. Punch sendiri sedang dalam proses belajar beradaptasi dan bersosialisasi dengan kelompok monyetnya. Pihak kebun binatang memastikan tidak ada agresi serius pada Punch dan bahwa pengalaman seperti ini penting untuk perkembangan sosialnya.
26 Feb 2026, 07.45 WIB

Penemuan Dinosaurus Berleher Panjang Raksasa Tongnanlong di China Mengubah Pemahaman Evolusi

Para ilmuwan menemukan fosil dinosaurus sauropoda raksasa bernama Tongnanlong zhimingi yang hidup sekitar 147 juta tahun lalu di Distrik Tongnan, Chongqing, China. Dinosaurus ini sangat besar dengan panjang tubuh sekitar 28 meter atau 92 kaki, lebih panjang dari panjang gerbong kereta di Indonesia. Fosil yang ditemukan terdiri dari tulang belakang, gelang bahu, dan bagian tungkai belakang, sehingga memberikan data penting untuk mengidentifikasi jenis dinosaurus ini. Struktur tulangnya unik karena memiliki rongga udara internal yang membantu meringankan bobot sekaligus memperkuat kerangka tubuh dinosaurus. Tongnanlong termasuk dalam keluarga Mamenchisauridae, kelompok dinosaurus dengan leher sangat panjang. Penemuan ini juga menunjukkan bahwa dinosaurus jenis ini menyebar secara global di periode Jura Akhir, bukan hanya terbatas di Asia Timur, bertolak belakang dengan pandangan ilmuwan sebelumnya. Lingkungan tempat fosil ditemukan adalah kawasan tepi danau dengan iklim relatif kering yang menyediakan banyak tumbuhan sebagai sumber makanan. Proses penguburan cepat akibat banjir memungkinkan fosil ini terawetkan dengan baik sehingga dapat diteliti secara detail oleh para ilmuwan. Penelitian selanjutnya diharapkan akan memperjelas apakah ukuran besar Tongnanlong dipengaruhi oleh kondisi lokal, perubahan iklim global, atau sebagai hasil evolusi dalam garis keturunan dinosaurus. Penemuan tulang tambahan dari bagian kepala dan leher akan sangat membantu dalam memahami lebih jauh tentang dinosaurus ini.
Setelahnya

Baca Juga

  • Dari Reaktor ke Ramadan

  • Jejak Teknologi Masa Depan

  • Robot humanoid tampilkan kung fu mabuk dengan nunchaku di Gala Musim Semi China

  • Gelombang Teknologi Pintar

  • Dinamika AI Global 2026

  • Humanoids go mainstream as China’s robotics champions appear at CCTV spectacle

  • Sorotan Inovasi Global: Sains & Teknologi

  • Frontier Otomasi & AI

  • Lompatan Teknologi Global

  • AI menciptakan hewan buatan yang seiring waktu mengembangkan penglihatan yang berfungsi tanpa instruksi