Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus

Dari Reaktor ke Ramadan

Share

Kumpulan artikel yang mencakup penemuan ilmiah dan inovasi teknologi dari penghapusan inti nuklir di Jerman hingga robotaxi otonom di China, fenomena alam mengejutkan serta sorotan budaya Ramadan dan tips kehidupan sehari-hari.

24 Feb 2026, 08.58 WIB

Kekhawatiran AI Tekan Saham Teknologi Hong Kong Setelah Wall Street Merosot

Kekhawatiran AI Tekan Saham Teknologi Hong Kong Setelah Wall Street Merosot
Pasar saham Hong Kong turun pada hari Selasa karena investor merasa khawatir dengan perlombaan kecerdasan buatan yang dianggap dapat mengubah banyak hal secara drastis di sektor pekerjaan dan ekonomi. Kekhawatiran ini muncul setelah indeks Wall Street juga jatuh karena sentimen negatif terkait dampak AI. Indeks Hang Seng turun 0,6 persen ke angka 26.913,68 di pembukaan hari tersebut, meski sebelumnya sempat naik 2,5 persen pada hari Senin. Indeks teknologi Hang Seng Tech juga anjlok 1 persen, terutama akibat penurunan saham perusahaan teknologi besar di Hong Kong. Beberapa saham penting yang mengalami penurunan termasuk chipmaker Semiconductor Manufacturing International Corporation, Baidu sebagai mesin pencari utama, perusahaan e-commerce Alibaba dan platform video pendek Kuaishou Technology. Penurunan ini menjadi tanda bahwa sektor teknologi sedang mendapat tekanan kuat dari investor. Di sisi lain, pasar saham daratan Tiongkok justru menunjukkan tren positif. Indeks CSI 300 naik 1,4 persen dan Shanghai Composite melonjak 1,2 persen, terutama karena sentimen positif dari awal Tahun Kuda dalam kalender Tiongkok. Saham di sektor non-teknologi seperti asuransi dan pertambangan juga mengalami kenaikan. Sementara itu, indeks utama Amerika Serikat seperti S&P 500, Nasdaq, dan Dow mengalami penurunan lebih dari 1 persen setelah sebuah tulisan viral dari Citrini Research memprediksi dampak negatif AI terhadap pekerjaan putih-collar. Pasar saham Asia lainnya seperti Nikkei dan Kospi justru mencatat kenaikan kecil.
24 Feb 2026, 08.44 WIB

Wassenaar Arrangement Dorong China Jadi Mandiri dan Ungguli Teknologi Militer Barat

Wassenaar Arrangement Dorong China Jadi Mandiri dan Ungguli Teknologi Militer Barat
Wassenaar Arrangement adalah sebuah rezim internasional yang mengontrol ekspor senjata dan teknologi canggih untuk menjaga agar negara-negara tertentu tidak mendapat akses senjata mutakhir. Rezim ini memiliki 42 anggota dari negara maju hingga berkembang, termasuk negara-negara yang dekat dengan China seperti Rusia dan India. China sendiri melihat rezim ini sebagai bentuk isolasi dan perlakuan tidak adil sehingga memotivasi negara tersebut untuk mengembangkan teknologi pertahanan secara mandiri. Tekanan semacam ini menjadi pemicu utama bagi China untuk mengejar kemandirian teknologi nasionalnya. Kini, setelah 30 tahun berdirinya Wassenaar Arrangement, perkembangan teknologi militer China semakin maju. Contohnya senjata hipersonik dengan mesin udara, laser berdaya tinggi, dan pesawat tempur siluman generasi keenam yang masih dalam tahap uji coba. Selain itu, China mengembangkan kapal induk drone dengan sistem elektromagnetik, robot humanoid dan anjing robot yang sudah diproduksi dalam skala besar dan menjadi pemimpin dunia dalam segi teknologi tersebut. Mereka juga menjadi produsen utama semikonduktor dan komponen komputasi kuantum yang berperan penting dalam peperangan cyber dan teknologi militer lainnya. Semua perkembangan ini menunjukkan bahwa China tidak hanya mengejar kemandirian teknologi tetapi juga berpotensi membalikkan dominasi negara-negara Barat dalam hal kekuatan pertahanan dan inovasi teknologi global.
24 Feb 2026, 07.50 WIB

OpenAI Siapkan Speaker dan Kacamata Pintar, Tantangan Daya Komputasi Jadi Hambatan

OpenAI Siapkan Speaker dan Kacamata Pintar, Tantangan Daya Komputasi Jadi Hambatan
OpenAI semakin serius dalam mengembangkan perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi menggantikan fungsi ponsel tradisional. Perusahaan ini telah mempekerjakan lebih dari 200 orang untuk menciptakan berbagai perangkat AI, seperti speaker pintar, kacamata pintar, dan lampu pintar. Perangkat ini dirancang untuk memberikan pengalaman interaktif tanpa layar dan mengandalkan perintah suara maupun visual. Perangkat pertama yang dijadwalkan diluncurkan adalah speaker pintar dengan rentang harga sekitar Rp 3.34 juta (US$200) -300. OpenAI menargetkan pengiriman perangkat ini pada Februari 2027. Speaker tersebut akan dilengkapi dengan kamera untuk mengumpulkan informasi terkait pengguna dan lingkungan sekitar, sehingga memberikan pengalaman asisten yang lebih cerdas dan personal. Selain speaker, OpenAI juga merencanakan produksi massal kacamata pintar pada 2028. Kacamata ini akan berfungsi untuk berinteraksi dengan lingkungan fisik secara langsung tanpa memerlukan layar. Sejalan dengan itu, OpenAI juga telah membeli startup io Products yang dimiliki mantan desainer Apple, Jony Ive, sebagai langkah masuk ke pasar perangkat keras dengan nilai akuisisi sebesar Rp 108.55 triliun (US$6,5 miliar) . Namun, OpenAI menghadapi tantangan besar yaitu keterbatasan daya komputasi yang menjadi kendala utama dalam mengembangkan perangkat AI ini. Dibandingkan dengan perusahaan teknologi besar lainnya seperti Amazon dan Google yang sudah memiliki sumber daya komputasi besar, OpenAI masih kesulitan untuk mengakses komputasi yang cukup untuk menjalankan perangkat AI yang kompleks. Selain masalah daya komputasi, ada juga tantangan dalam menciptakan asisten AI yang personal dan dapat meniru sikap serta suara seperti teman. OpenAI juga harus mencari cara untuk menyeimbangkan pengalaman interaktif dengan perlindungan privasi pengguna. Semua hal ini menjadi fokus utama agar perangkat AI yang mereka kembangkan dapat diterima pengguna luas di masa depan.
24 Feb 2026, 03.32 WIB

Anthropic Tuduh Perusahaan AI China Gunakan Akun Palsu untuk Meniru Claude

Anthropic Tuduh Perusahaan AI China Gunakan Akun Palsu untuk Meniru Claude
Anthropic, perusahaan AI dari San Francisco, menuduh tiga perusahaan AI besar asal China yaitu DeepSeek, MiniMax, dan Moonshot menggunakan ribuan akun palsu untuk mencuri data dari model AI mereka yang bernama Claude. Tindakan ini dilakukan agar perusahaan-perusahaan tersebut bisa mengembangkan model AI mereka sendiri dengan meniru teknologi yang lebih maju. Metode yang digunakan disebut distilasi, yaitu melatih model yang lebih kecil berdasarkan output dari model yang lebih canggih. Namun, Anthropic menganggap cara ini telah disalahgunakan karena dilakukan secara besar-besaran dan melanggar aturan yang telah ditetapkan dalam penggunaan model mereka. Selain Anthropic, OpenAI yang dipimpin oleh Sam Altman juga pernah mengeluarkan tuduhan serupa terhadap DeepSeek. Hal ini semakin meningkatkan perhatian pemerintah Amerika Serikat terhadap perusahaan AI asal China yang mungkin menggunakan teknologi Amerika untuk berkembang lebih cepat secara tidak wajar. Perusahaan DeepSeek pernah membuat heboh industri AI dengan merilis model yang diklaim jauh lebih murah dari sistem AI besar lainnya. Sementara MiniMax sudah melantai di pasar saham dan Moonshot sedang mencari pendanaan besar, menandakan pertumbuhan cepat ekosistem AI di China yang mulai menantang dominasi perusahaan Amerika. Anthropic kini memperkuat sistem deteksi mereka terhadap praktik distilasi ilegal dan berbagi informasi ancaman dengan perusahaan AI lain. Mereka menekankan perlunya kerjasama global antara pembuat AI, penyedia layanan cloud, dan pembuat kebijakan untuk menghadapi ancaman ini bersama-sama.
24 Feb 2026, 03.06 WIB

AI Impact Summit 2026: Ambisi Global South dalam Tata Kelola AI Teruji

AI Impact Summit 2026: Ambisi Global South dalam Tata Kelola AI Teruji
AI Impact Summit 2026 di New Delhi dihadiri oleh hampir 90 negara dan berupaya memperkenalkan pendekatan pembangunan terlebih dahulu dalam tata kelola AI. India berperan sebagai tuan rumah dan mencoba memperkuat posisi Global South dalam menentukan masa depan teknologi AI yang berkeadilan. Deklarasi New Delhi yang dihasilkan menekankan akses dan inklusi AI, dengan tujuh pilar utama seperti sumber daya manusia, keamanan, dan efisiensi energi. Namun, dokumen ini bersifat sukarela tanpa sistem penegakan, menimbulkan keraguan atas dampak nyata deklarasi tersebut. Selama acara, terdapat masalah signifikan terkait logistik dan manajemen peserta. Kemacetan lalu lintas, keterbatasan ruang, dan pengelolaan peserta yang kurang baik membuat pengalaman pengunjung kurang nyaman, padahal antusiasme terhadap AI sangat tinggi. Kredibilitas acara juga sempat tercoreng akibat klaim palsu tentang teknologi yang dipamerkan, seperti robot dan drone yang bukan hasil karya asli institusi terkait. Kasus ini mengangkat pentingnya pengawasan dan integritas dalam penyelenggaraan acara AI bergengsi. Selain itu, diplomasi puncak menjadi panggung simbolis dengan kehadiran tokoh global seperti Narendra Modi, Sam Altman, dan Sundar Pichai. Namun, aksi politik dan pembatasan protes menunjukkan adanya ketegangan antara aspirasi inklusif dan realitas politik di dalam negeri.
23 Feb 2026, 19.42 WIB

Limbah Roti Jadi Sumber Hidrogen Hijau Pengganti Bahan Bakar Fosil

Banyak orang biasanya melihat roti keras atau bagian yang sudah kering hanya sebagai sampah atau makanan burung. Namun, ilmuwan di Universitas Edinburgh menemukan cara unik memanfaatkan limbah roti untuk proses kimia penting yang disebut hidrogenasi, yang sering digunakan untuk membuat obat, plastik, dan bensin. Dalam penelitian ini, mereka menggunakan bakteri E. coli untuk mengonsumsi gula dari roti sisa tersebut. Bakteri ini kemudian menghasilkan gas hidrogen secara alami dalam kondisi tanpa oksigen. Gas hidrogen ini penting karena biasanya dibuat dari bahan bakar fosil yang berpolusi. Proses hidrogenasi sendiri biasanya memerlukan suhu dan tekanan sangat tinggi, serta menggunakan katalis logam seperti palladium. Namun penelitian ini berhasil menjalankan reaksi tersebut pada suhu hampir ruangan, menggunakan sedikit katalis dan tanpa bahan bakar fosil. Metode ini tidak hanya mengurangi limbah roti yang berpotensi menciptakan emisi metana di tempat pembuangan sampah, tapi juga menyediakan alternatif hijau untuk kebutuhan industri kimia yang selama ini bergantung pada bahan bakar fosil. Tim peneliti melanjutkan penelitian untuk menghilangkan kebutuhan katalis logam sehingga prosesnya lebih ramah lingkungan dan berbiaya rendah. Mereka berharap teknologi ini dapat mendorong revolusi industri hijau di Inggris dan negara lain di masa depan.
23 Feb 2026, 15.50 WIB

WhatsApp Siapkan Fitur Kirim Pesan Otomatis Sesuai Jadwal di iOS

WhatsApp tengah mengembangkan fitur baru yang memungkinkan pengguna mengirim pesan secara otomatis pada waktu yang telah dijadwalkan. Fitur ini akan tersedia untuk perangkat iOS dan dapat dipakai baik di chat pribadi maupun grup. Dengan fitur ini, pengguna bisa mengetik pesan dan menentukan kapan pesan tersebut akan dikirim. Menurut informasi dari WABetaInfo, setelah mengetik pesan, pengguna dapat memilih tanggal dan jam yang diinginkan untuk pengiriman otomatis. Fitur ini sangat berguna untuk berbagai keperluan, mulai dari mengingatkan janji, mengirim ucapan ulang tahun, sampai menyampaikan pesan kerja tanpa mengganggu penerima pada jam tertentu. Pesan yang dijadwalkan namun belum terkirim akan tersimpan di dalam aplikasi, dan selama periode itu pengguna masih dapat menghapus pesan tanpa penerima menerima notifikasi apapun. Ikon jam dan tanda centang akan ditampilkan di Info Chat sebagai tanda bahwa pesan dijadwalkan. Sebelumnya, fitur kirim pesan secara terjadwal telah hadir di WhatsApp Business lewat fitur Business Broadcasts, namun fitur itu berbayar dan khusus pengguna bisnis. Kini, fitur tersebut akan hadir di WhatsApp reguler, yang tentu lebih memudahkan pengguna biasa. Fitur ini masih dalam tahap pengembangan dan belum dirilis secara resmi. Namun, kehadirannya akan menjadi inovasi yang bermanfaat bagi banyak pengguna WhatsApp untuk mengatur komunikasi lebih efektif dan efisien.
23 Feb 2026, 07.00 WIB

Penemuan Liang Makam Massal Abad ke-9 Ungkap Kekerasan Terarah pada Perempuan dan Anak

Pada abad kesembilan, wilayah Gomolava di Serbia menjadi saksi penemuan sebuah liang makam massal yang berisi puluhan korban perempuan dan anak-anak yang tewas akibat kekerasan terarah. Hal ini menunjukkan perubahan besar dalam pola kekerasan dan dinamika sosial yang sebelumnya belum pernah terlihat pada masa itu di Eropa Tenggara. Para peneliti menganalisis 77 jenazah dan menemukan bahwa sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak muda. Tidak ada hubungan kekerabatan signifikan antara kebanyakan korban, kecuali satu ibu dan dua anak perempuannya, yang menegaskan bahwa ini adalah tindakan kekerasan yang sistematis dan terencana. Awalnya dikira kematian korban disebabkan oleh pandemi, namun setelah dilakukan pemeriksaan DNA terhadap pathogen, tidak ditemukan bukti infeksi yang mendukung asumsi tersebut. Hal ini menguatkan bahwa kematian lebih disebabkan oleh aksi kekerasan yang terarah dan penuh strategis. Temuan ini juga memberikan petunjuk bahwa pada masa itu terjadi pergeseran sosial dan ketegangan akibat interaksi antara komunitas migran dan penduduk yang menetap di wilayah tersebut. Kekerasan yang menargetkan perempuan dan anak-anak menandai perubahan dramatis dalam hubungan kekuasaan dan gender. Studi lebih lanjut akan membantu memahami dinamika sosial dan migrasi penduduk Eropa Tenggara pada awal Iron Age, serta implikasi sosial-politik yang muncul dari konflik kekerasan yang terarah seperti yang terlihat di Gomolava ini.
22 Feb 2026, 19.00 WIB

Parade Enam Planet dan Gerhana Bulan Total: Momen Langka di Langit Malam

Pada tanggal 28 Februari, enam planet dari tata surya kita akan muncul bersama di langit malam, termasuk Venus, Merkurius, Saturnus, Neptunus, Uranus, dan Yupiter. Ini adalah kesempatan langka untuk mengamati banyak planet sekaligus setelah matahari terbenam, dengan catatan kondisi langit yang cerah dan pandangan ke arah barat tidak terhalang. Venus, Merkurius, dan Saturnus bisa langsung dilihat dengan mata telanjang, tetapi Neptunus dan Uranus membutuhkan teleskop kecil atau kacamata pembesar (binoculars) untuk terlihat. Para pengamat bisa menemukan Yupiter di arah selatan dengan mudah karena planet ini sangat terang dan berwarna putih stabil tanpa berkedip seperti bintang. Jendela waktu untuk mengamati sebagian planet, khususnya Venus, Merkurius, Saturnus, dan Neptunus agak singkat, yaitu sekitar 45 menit setelah matahari terbenam. Uranus dan Yupiter tetap hadir lebih lama dan bisa diamati dengan peralatan yang sesuai. Selain planet, bulan yang hampir penuh (waxing gibbous) juga akan berada dekat gugus bintang Beehive pada malam itu, menambah pengalaman pengamatan langit yang sangat menarik dan edukatif. Hanya beberapa hari setelah parade planet ini, pada tanggal 3 Maret akan terjadi gerhana bulan total yang dikenal sebagai 'Worm Moon' atau 'bulan cacing'. Fenomena ini akan berubah warna menjadi kemerahan selama hampir satu jam dan dapat diamati terbaik dari beberapa bagian dunia seperti Amerika Serikat bagian barat dan Asia Timur.
22 Feb 2026, 18.00 WIB

Nebula Telur: Mengungkap Rahasia Awal Kehidupan Bintang Mirip Matahari

Nebula Telur merupakan objek langka di angkasa yang menawarkan ilmu pengetahuan berharga tentang tahap awal peralihan bintang sebelum menjadi nebula planetari. Ini adalah satu-satunya nebula pre-planet yang dekat dan mudah diamati oleh teleskop seperti Hubble. Walaupun disebut nebula planetari, objek ini tidak ada hubungannya dengan planet. Sebutan tersebut berasal dari abad ke-18 karena bentuknya yang mirip planet ketika diamati dengan teleskop pertama. Sebenarnya nebula ini adalah awan gas dan debu yang dilepaskan oleh bintang tua. Fase pre-planet sangat singkat, hanya beberapa ribu tahun, sehingga sangat sulit menangkap proses ini. Dalam tahap ini, bintang kian habis bahan bakarnya dan mulai melepaskan lapisan gas dan debu secara teratur, bukan dengan ledakan besar. Gambar terbaru dari Hubble menunjukkan bagaimana cahaya dari bintang berhasil keluar melalui lubang di kutub, membentuk dua berkas cahaya yang indah. Pola busur konsentris menandakan bahwa pelepasan materi ini terjadi secara berkala dan terkendali. Penelitian lebih lanjut pada Nebula Telur dapat membantu memahami bagaimana bintang yang mirip matahari akan berakhir dan bagaimana materi bintang itu kembali disebarkan ke ruang angkasa, berperan dalam pembentukan bintang dan planet baru.
Sebelumnya
Setelahnya

Baca Juga

  • Revolusi Tekno-Bisnis 2026

  • Lompatan Teknologi Global

  • Dari Reaktor ke Ramadan

  • Jejak Teknologi Masa Depan

  • Robot humanoid tampilkan kung fu mabuk dengan nunchaku di Gala Musim Semi China

  • Gelombang Teknologi Pintar

  • Dinamika AI Global 2026

  • Humanoids go mainstream as China’s robotics champions appear at CCTV spectacle

  • Sorotan Inovasi Global: Sains & Teknologi

  • Frontier Otomasi & AI