TLDR
Kekhawatiran tentang gangguan AI mempengaruhi sentimen pasar saham di Hong Kong. Indeks saham di daratan China menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan dengan Hong Kong. Perusahaan teknologi besar di Hong Kong mengalami penurunan nilai saham, sementara beberapa sektor lain menunjukkan pertumbuhan. Pasar saham Hong Kong turun pada hari Selasa karena investor merasa khawatir dengan perlombaan kecerdasan buatan yang dianggap dapat mengubah banyak hal secara drastis di sektor pekerjaan dan ekonomi. Kekhawatiran ini muncul setelah indeks Wall Street juga jatuh karena sentimen negatif terkait dampak AI.Indeks Hang Seng turun 0,6 persen ke angka 26.913,68 di pembukaan hari tersebut, meski sebelumnya sempat naik 2,5 persen pada hari Senin. Indeks teknologi Hang Seng Tech juga anjlok 1 persen, terutama akibat penurunan saham perusahaan teknologi besar di Hong Kong.Beberapa saham penting yang mengalami penurunan termasuk chipmaker Semiconductor Manufacturing International Corporation, Baidu sebagai mesin pencari utama, perusahaan e-commerce Alibaba dan platform video pendek Kuaishou Technology. Penurunan ini menjadi tanda bahwa sektor teknologi sedang mendapat tekanan kuat dari investor.Di sisi lain, pasar saham daratan Tiongkok justru menunjukkan tren positif. Indeks CSI 300 naik 1,4 persen dan Shanghai Composite melonjak 1,2 persen, terutama karena sentimen positif dari awal Tahun Kuda dalam kalender Tiongkok. Saham di sektor non-teknologi seperti asuransi dan pertambangan juga mengalami kenaikan.Sementara itu, indeks utama Amerika Serikat seperti S&P 500, Nasdaq, dan Dow mengalami penurunan lebih dari 1 persen setelah sebuah tulisan viral dari Citrini Research memprediksi dampak negatif AI terhadap pekerjaan putih-collar. Pasar saham Asia lainnya seperti Nikkei dan Kospi justru mencatat kenaikan kecil.
Penurunan saham teknologi di Hong Kong akibat sentimen negatif tentang AI mencerminkan ketakutan investor akan perubahan besar di sektor pekerjaan dan ekonomi. Meski pasar mainland tampil solid, ketidakpastian global terkait AI bisa menyebabkan volatilitas berkelanjutan pada saham teknologi yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan pasar.