
Courtesy of Forbes
Temukan Gaya Desain Rumahmu Berdasarkan Psikologi dan Otak
Membantu pembaca memahami bahwa preferensi desain rumah mereka berakar pada mekanisme psikologis dan neurologis, sehingga bisa memilih gaya yang benar-benar mendukung kesejahteraan mental dan emosional melalui alat khusus seperti Design DNA Quiz.
27 Feb 2026, 21.30 WIB
295 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Gaya desain rumah kita mencerminkan kebutuhan psikologis dan neurologis kita.
- Lingkungan yang sesuai dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional.
- Menggunakan kerangka kerja DNA desain membantu dalam menciptakan ruang yang lebih personal dan mendukung kesehatan mental.
Sering kali kita merasa bingung memilih gaya desain interior yang cocok untuk rumah karena hanya mengikuti trend atau keindahan semata. Namun, pilihan desain sebenarnya tidak hanya soal penampilan, melainkan bagaimana otak dan psikologi kita merespon lingkungan sekitar. Penelitian baru menunjukkan bahwa gaya yang cocok bisa membantu kita lebih rileks, fokus, dan merasa nyaman secara emosional.
Kita memproses begitu banyak informasi visual dalam satu ruangan, mulai dari warna hingga pola dan tekstur. Jika ruangan terlalu ramai atau penuh dengan benda, otak harus bekerja ekstra untuk memilah informasi ini, yang bisa menyebabkan stres dan kelelahan mental. Sebaliknya, ruangan yang sesuai dengan preferensi visual kita justru membantu otak memproses informasi dengan mudah dan membuat kita merasa tenang.
Warna juga berperan penting karena warna tertentu mampu mengaktifkan sistem limbik di otak yang mengatur emosi. Warna hangat seperti coklat atau oranye bisa membuat kita merasa lebih akrab dan nyaman, sedangkan warna dingin dan kontras tinggi seperti biru dan hitam dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesan glamor. Jadi, pemilihan warna rumah harus disesuaikan dengan karakter psikologis kita.
Dalam penemuan terbaru, ada tiga dimensi penting dalam mendesain ruang yang nyaman: kompleksitas, sintesis, dan suhu visual. Misalnya, orang dengan karakteristik desain ‘restrained’ akan lebih cocok dengan ruangan minimalis yang sederhana dan rapi, sementara mereka yang berkarakter ‘ornate’ membutuhkan ruang yang lebih banyak detail dan elemen dekoratif agar terstimulasi secara mental.
Dengan memahami design DNA-mu, kamu tidak perlu lagi menebak-nebak gaya dekorasi mana yang tepat. Ada kuis khusus yang dapat membantu mengidentifikasi profil psikologismu sehingga kamu bisa menciptakan ruang tinggal yang bukan hanya cantik tapi juga meredakan stres dan mendukung kesehatan mental. Ini adalah langkah baru dalam praktik upaya menjaga kesejahteraan diri melalui desain.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/02/27/find-your-design-dna-with-this-science-inspired-quiz-by-a-psychologist/
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/02/27/find-your-design-dna-with-this-science-inspired-quiz-by-a-psychologist/
Analisis Ahli
Antonio Damasio
"Pendekatan neuropsikologis terhadap estetika internal ini selaras dengan penelitian saya tentang bagaimana lingkungan memengaruhi emosi dan fungsi kognitif manusia."
Ellen Langer
"Konsep bahwa lingkungan mendukung fokus dan mengurangi stres sangat penting dalam psikologi kesadaran; desain yang sesuai DNA kognitif mampu meningkatkan mindful awareness di rumah."
Analisis Kami
"Pendekatan yang menghubungkan psikologi, neurologi, dan desain interior ini sangat revolusioner karena menempatkan kesejahteraan mental sebagai prioritas utama dalam penciptaan ruang. Saya percaya tren ini akan memaksa desainer untuk lebih ilmiah dalam memahami preferensi klien, bukan sekadar mengikuti mode atau estetika semata."
Prediksi Kami
Di masa depan, semakin banyak orang dan profesional desain interior akan mengintegrasikan ilmu neuroestetika dan psikologi lingkungan untuk menciptakan ruang tinggal yang bukan hanya estetik tapi juga menyehatkan mental secara neurologis.





