Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus

Google adds music-generation capabilities to the Gemini app

Share

Kelompok ini terdiri dari berbagai perusahaan dan tokoh terkenal yang terlibat dalam dunia teknologi dan inovasi.

28 Feb 2026, 21.30 WIB

Xiaomi Leitzphone: Kerjasama Leica Bawa Kualitas Kamera Premium ke Pasar Global

Xiaomi Leitzphone: Kerjasama Leica Bawa Kualitas Kamera Premium ke Pasar Global
Xiaomi meluncurkan versi internasional dari 17 Ultra yang diberi branding Leica Leitzphone, menandai pertama kali Leica logo merah digunakan secara resmi pada perangkat Xiaomi di luar Jepang dan China. Ini adalah langkah penting dalam kemitraan Xiaomi dan Leica yang sudah berjalan sejak 2022. Leitzphone adalah versi 17 Ultra dengan desain berbeda, termasuk cincin kamera yang bisa diputar dan fitur perangkat lunak khusus dari Leica seperti mode pemotretan Leica Essential. Selain kamera, ponsel ini memiliki spesifikasi kelas atas dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, RAM 16GB, serta baterai tahan dua hari dengan pengisian cepat. Meski punya kamera dan desain yang unggul, Leitzphone dibanderol dengan harga premi jauh lebih mahal dari versi standar 17 Ultra. Fitur cincin kamera dinilai kurang praktis, sehingga pembeli disarankan memilih versi standar kecuali mereka sangat menghargai branding Leica dan fitur eksklusif yang ditawarkan.
27 Feb 2026, 22.00 WIB

Observatorium Vera C. Rubin Buka Mata Digital Terbesar untuk Deteksi Kosmik Cepat

Observatorium Vera C. Rubin Buka Mata Digital Terbesar untuk Deteksi Kosmik Cepat
Pada tanggal 24 Februari 2026, Observatorium Vera C. Rubin di Chile mengumumkan pencapaian luar biasa dengan mendeteksi 800.000 perubahan kosmik dalam satu malam, berkat kamera digital terbesar di dunia yang dipasang di teleskop mereka. Hal ini menandai dimulainya sistem peringatan real-time yang mampu memberi tahu para ilmuwan dalam waktu dua menit setelah pengamatan. Terletak di puncak Cerro Pachón, observatorium ini didanai bersama oleh National Science Foundation dan Departemen Energi Amerika Serikat dengan biaya sebesar 473 juta dollar. Misi utamanya adalah melakukan survei langit selatan selama 10 tahun dengan merekam langit setiap 3-4 malam, menciptakan film astronomi resolusi tinggi dari langit jauh. Kamera LSST beresolusi 3.200 megapiksel dengan 189 sensor individual mengambil gambar setiap 40 detik, yang kemudian dikirim melalui kabel serat optik ke pusat komputasi di California untuk dibandingkan dengan gambar sebelumnya dan mendeteksi perubahan penting seperti ledakan bintang, supernova, dan asteroid. Dengan kemampuan ini, observatorium diharapkan dapat mendeteksi hingga 90 persen asteroid besar yang berpotensi berbahaya bagi Bumi dalam jarak 7 juta kilometer serta menemukan berbagai objek seperti komet antarbintang, planet pengembara, dan jutaan supernova. Data ini akan membantu ilmuwan memetakan galaksi dan mempelajari misteri materi gelap. Para ahli menyatakan bahwa keberhasilan ini didukung oleh tahun-tahun inovasi dalam teknologi pemrosesan data. Observatorium Vera C. Rubin membuka era baru dalam astronomi yang memungkinkan manusia mengikuti peristiwa alam semesta secara langsung dan menerapkan penelitian ini demi keselamatan dan pengetahuan umat manusia.
23 Feb 2026, 02.32 WIB

Polisi Australia Uji Coba Drone Jarak Jauh untuk Cegah Kejahatan di Moree

Polisi Australia Uji Coba Drone Jarak Jauh untuk Cegah Kejahatan di Moree
Di Moree, sebuah kota kecil di Australia yang rawan kejahatan seperti pencurian dan pembobolan, polisi kini menguji coba teknologi drone yang bisa dioperasikan dari jauh untuk meningkatkan pengawasan. Drone-drone tersebut ditempatkan di atap kantor polisi setempat dan dapat terbang otomatis tanpa ada pilot di lokasi. Inisiatif ini bagian dari proyek percobaan enam bulan bernama PolAir-rural, di mana drone ini dikendalikan oleh pilot bersertifikat yang berada di Sydney, sekitar 595.46 km (370 mil) jauhnya dari Moree. Dengan teknologi ini, gambar dan video dari udara dapat langsung dipantau secara real-time oleh petugas di pusat kendali dan di lokasi kejadian. Drone yang digunakan adalah model DJI Matrice 4-TD yang dilengkapi kamera resolusi tinggi dan sistem pengisian daya otomatis. Mereka dapat meluncur, memantau situasi, dan kembali untuk mengisi ulang tanpa perlu campur tangan manusia di lapangan, sehingga mempercepat waktu respons dan pengawasan di daerah yang sulit dijangkau. Selain membantu pengawasan kejahatan seperti pencurian kendaraan dan pembobolan, drone ini juga telah digunakan dalam insiden kebakaran dan kerusuhan, memberikan informasi situasi secara langsung kepada petugas dan memungkinkan tindakan cepat dan terkoordinasi. Jika program ini sukses, teknologi drone jarak jauh ini berpotensi diadopsi lebih luas di seluruh wilayah pedesaan Australia sehingga meningkatkan keamanan dan efisiensi penegakan hukum di daerah yang selama ini sulit dijangkau secara efektif.
20 Feb 2026, 19.16 WIB

Toyota Gunakan Robot Humanoid Digit untuk Tingkatkan Produksi dan Keselamatan Kerja

Toyota Gunakan Robot Humanoid Digit untuk Tingkatkan Produksi dan Keselamatan Kerja
Toyota Motor Manufacturing Canada (TMMC) mengumumkan rencana untuk menggunakan robot humanoid Digit dari Agility Robotics di pabrik mereka. Strategi ini diambil setelah pilot proyek yang sukses dengan tujuan membantu tugas-tugas logistik yang seringkali membutuhkan tenaga fisik berat. Robot-robot ini akan berperan dalam bongkar muat suku cadang secara otomatis demi meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban kerja manusia. Agility Robotics menyediakan tidak hanya robot Digit, tetapi juga platform cloud Agility Arc yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengelola dan mengoptimalkan kinerja robot secara real-time. Sistem ini memungkinkan robot beradaptasi dengan perubahan alur kerja di pabrik tanpa perlu mengubah infrastruktur secara besar-besaran, sehingga memudahkan integrasi dan penyesuaian tugas. Sejumlah perusahaan besar dalam industri otomotif seperti BMW, Tesla, dan Amazon juga mulai menguji dan menggunakan robot humanoid dalam lingkungannya. Pengalaman dari perusahaan-perusahaan ini menjadi bukti bahwa penggunaan robot dalam tugas manufaktur bisa meningkatkan produktivitas secara signifikan sambil menjaga keselamatan pekerja dari tugas-tugas yang memerlukan tenaga fisik berat dan berulang. Agility Robotics tengah mengembangkan generasi baru robot Digit yang dirancang agar dapat bekerja berdampingan dengan manusia tanpa pengawasan langsung. Teknologi ini diharapkan dapat memungkinkan kolaborasi manusia dan robot yang lebih aman dan efisien di pabrik di masa depan, sehingga mendorong adopsi robot humanoid dalam skala yang lebih luas di berbagai sektor industri. Dengan peluncuran robot Digit di pabrik Toyota, jelas bahwa era manufaktur berbasis robot humanoid semakin dekat. Langkah ini tidak hanya mengurangi risiko cedera pekerja dan meningkatkan produktivitas, tapi juga membuka peluang inovasi dalam manajemen proses produksi yang lebih fleksibel dan adaptif dengan bantuan teknologi AI dan robotik.
20 Feb 2026, 13.41 WIB

General Catalyst Berinvestasi 5 Miliar Dolar untuk Dorong AI dan Startup India

General Catalyst Berinvestasi 5 Miliar Dolar untuk Dorong AI dan Startup India
General Catalyst, firma ventura asal Silicon Valley, berencana menginvestasikan 5 miliar dolar selama lima tahun ke depan di India. Ini merupakan peningkatan yang signifikan dibanding sebelumnya yang hanya 500 juta sampai 1 miliar dolar. Investasi ini dilakukan menyusul merger dengan firma ventura lokal Venture Highway dan diumumkan di India AI Impact Summit di New Delhi. Investasi General Catalyst akan difokuskan pada startup yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI), layanan kesehatan, teknologi pertahanan, fintech, dan teknologi konsumen. India tengah giat membangun infrastruktur AI dan menargetkan 200 miliar dolar investasi dalam dua tahun ke depan, sehingga menjadi lokasi yang menarik bagi para investor teknologi global. Perusahaan-perusahaan besar di India seperti Adani Group dan Reliance Industries juga telah mengumumkan rencana untuk menghabiskan investasi besar untuk membangun pusat data AI yang canggih. Selain itu, kolaborasi antara OpenAI dengan Tata Group menunjukkan bahwa raksasa teknologi global sangat berminat mengembangkan AI di India. General Catalyst menilai India memiliki keunggulan dalam penerapan AI skala besar di dunia nyata ketimbang hanya mengembangkan model AI terbaru. Infrastruktur digital pemerintah yang kuat, pasar yang sangat besar, dan sumber daya manusia yang berpengalaman menjadi faktor pendukung utama strategi ini. General Catalyst juga mengembangkan kerangka kerja untuk akselerasi adopsi AI di sektor utama di India. Dengan dukungan yang menyeluruh dari tahap awal hingga go public, diharapkan startup-startup India dapat tumbuh cepat dan memberikan solusi teknologi yang berdampak besar di dalam dan luar negeri.
20 Feb 2026, 13.38 WIB

Wu Fei: AI dan Hardware Baru Bawa Kacamata Pintar Jadi Teman Sehari-hari

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini merambah berbagai produk elektronik konsumen mulai dari perangkat wearable hingga alat rumah tangga yang interaktif. Namun, dampak terbesar AI terlihat pada cara kita berinteraksi dengan teknologi, yang semakin bergerak dari layar menjadi perangkat yang langsung berada di dekat atau bahkan di wajah kita. Kacamata pintar mulai dilihat sebagai batas akhir baru dalam evolusi teknologi antarmuka. Inovasi ini memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan AI secara lebih intuitif dan praktis, tanpa harus bergantung pada perangkat tradisional seperti smartphone atau tablet. Wu Fei, pendiri dan CEO LLVision, perusahaan pembuat kacamata augmented reality di Beijing, menyatakan bahwa revolusi interaksi selanjutnya akan terjadi tepat di depan mata kita dengan dukungan AI dan kemajuan dalam miniaturisasi perangkat keras. Ide ini muncul dari pengalamannya menyaksikan bagaimana iPhone mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi sekitar tahun 2010. Ia percaya bahwa inti dari teknologi adalah melayani kebutuhan manusia, dan generasi perangkat berikutnya haruslah lebih selaras dengan insting kognitif manusia agar penggunaan teknologi dapat menjadi lebih alami dan efisien. Ini berarti kacamata pintar harus mampu beradaptasi dengan cara kita berpikir dan merespons lingkungan sekitar. Dengan teknologi yang semakin maju dan ukuran perangkat yang semakin kecil, tidak lama lagi kacamata pintar dengan AI canggih akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, menawarkan cara baru yang lebih mudah dan praktis untuk berkomunikasi dan mengakses informasi.
20 Feb 2026, 11.50 WIB

AI Jadi Alasan PHK, Tapi Dampaknya Terhadap Pekerjaan Baru Akan Muncul Nanti

Teknologi kecerdasan buatan atau AI semakin berkembang dan banyak perusahaan mulai menggunakan alasan AI ketika melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, menurut CEO OpenAI, Sam Altman, banyak perusahaan sebenarnya hanya menggunakan AI sebagai alasan untuk kebijakan internal yang sudah direncanakan, bukan karena AI benar-benar menggantikan pekerjaan. Beberapa perusahaan besar seperti Amazon, IBM, Salesforce, dan HP dikabarkan menyebut AI dalam pengumuman PHK mereka. Namun, tidak ditemukan bukti kuat bahwa mereka melakukan apa yang disebut sebagai 'AI washing', yaitu melebih-lebihkan peran AI agar alasan PHK tampak lebih diterima. Sam Altman juga menjelaskan meski AI akan mengubah pekerjaan manusia, terutama menggantikan beberapa pekerjaan tertentu, AI juga akan membuka berbagai pekerjaan baru yang membutuhkan adaptasi dan kemampuan baru. Dampak ini diperkirakan baru akan terasa dalam beberapa tahun ke depan, bukan secara langsung saat ini. CEO Anthropic, Dario Amodei, menambahkan prediksinya bahwa AI dapat menghilangkan sekitar setengah dari pekerjaan kerah putih tingkat pemula dalam lima tahun ke depan. Sedangkan CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, mengatakan AI menyebabkan perlambatan dalam perekrutan untuk posisi junior berdasarkan bukti yang dilihatnya. Dari berbagai pandangan ini, jelas bahwa meskipun AI membawa perubahan besar dalam dunia kerja, dampak riilnya akan bertahap dan memerlukan kesiapan adaptasi dari tenaga kerja agar tetap relevan dan dapat memanfaatkan peluang baru yang muncul.
18 Feb 2026, 23.00 WIB

Google Hadirkan Fitur AI Lyria 3 untuk Membuat Musik Unik di Aplikasi Gemini

Google baru saja memperkenalkan fitur baru di aplikasi Gemini yang memungkinkan pengguna menciptakan lagu lewat AI. Dengan model terbaru dari DeepMind, Lyria 3, pengguna cukup memberikan deskripsi tentang lagu yang ingin dibuat, seperti genre, mood, hingga tema, dan aplikasi akan menghasilkan lagu lengkap dengan lirik serta cover art. Fitur ini juga dapat memahami foto atau video yang diunggah guna menciptakan musik yang sesuai dengan suasana media tersebut. Selain itu, pengguna dapat mengatur aspek musik seperti gaya, vokal, dan tempo sesuai dengan keinginan mereka, memberikan kebebasan kreatif yang lebih luas. Google juga memperluas akses model Lyria 3 melalui fitur Dream Track di YouTube, yang kini tersedia untuk kreator di seluruh dunia, tidak hanya terbatas di Amerika Serikat. Ini memudahkan para kreator untuk membuat musik AI guna mendukung konten mereka secara global. Meski bisa memasukkan nama artis dalam permintaan lagu, Google menegaskan bahwa Lyria 3 tidak untuk meniru suara atau karya artis tertentu secara langsung. Sistem ini berfokus pada inspirasi gaya dan mood, sekaligus dilengkapi dengan filter untuk menghindari pelanggaran konten yang sudah ada. Semua lagu yang dihasilkan dengan Lyria 3 akan diberi watermark SynthID agar mudah diidentifikasi sebagai karya AI, dan pengguna dapat memeriksa apakah suatu lagu dibuat oleh AI dalam aplikasi Gemini. Fitur ini mendukung berbagai bahasa utama, menjangkau pengguna dewasa di seluruh dunia.
16 Feb 2026, 05.07 WIB

David Greene Gugat Google Karena Suara AI Diduga Tiru Suaranya

David Greene, yang dulu menjadi pembawa acara utama di NPR, sekarang menuduh Google karena suara pria dalam alat AI mereka, NotebookLM, mirip dengan suaranya. Greene mulai curiga setelah banyak teman dan rekan kerja memberitahunya tentang kemiripan suara tersebut. Dia mengatakan bahwa suara itu sangat mirip dengan caranya berbicara termasuk intonasi dan kata pengisi seperti “uh”. Google membantah tuduhan ini dan mengatakan bahwa suara yang digunakan dalam NotebookLM adalah suara dari aktor profesional yang telah mereka bayar untuk merekam suara tersebut. Aplikasi Google ini memiliki fitur yang memungkinkan pengguna membuat podcast dengan pembawa acara AI. Google ingin meyakinkan publik bahwa suara tersebut bukan hasil tiruan dari seseorang. Kasus David Greene bukanlah yang pertama dalam sejarah hukum terkait suara dan AI. Sebelumnya, aktris terkenal Scarlett Johansson juga meminta OpenAI untuk menghapus suara ChatGPT yang dianggap mirip dengan suaranya. Hal ini menunjukkan bahwa ada masalah serius tentang bagaimana teknologi AI menggunakan suara asli manusia tanpa izin. Masalah ini membuka diskusi penting tentang hak atas suara seseorang, terutama ketika suara menjadi bagian dari identitas dan karier seseorang. Banyak orang mulai khawatir tentang penyalahgunaan teknologi ini yang bisa meniru suara tanpa persetujuan. Kasus-kasus seperti ini akan mendorong regulasi dan hukum yang lebih ketat terkait penggunaan suara digital. Di masa depan, perusahaan teknologi besar seperti Google perlu berhati-hati dan memastikan penggunaan suara dalam produk AI mereka tidak melanggar hak pribadi. Kasus David Greene ini bisa menjadi contoh bagaimana teknologi harus bertanggung jawab dan menghormati hak individu agar tidak menimbulkan konflik hukum dan etika.
15 Feb 2026, 00.56 WIB

AI Digital Twin Bantu Arsitek Desain Bangunan Nol Energi Lebih Nyaman dan Hemat

Dalam era perubahan iklim, bangunan dituntut untuk menggunakan energi secara efisien tanpa mengorbankan kenyamanan penghuninya. Sayangnya, alat desain tradisional sering kali menggunakan simulasi statis yang tidak memberikan umpan balik secara langsung, menyulitkan para arsitek dalam mengambil keputusan yang tepat terutama untuk sistem pendingin Task-Ambience yang berfokus pada area kerja individu. Untuk mengatasi masalah ini, Profesor Teng bersama timnya dari Kanazawa University dan Fushou University mengembangkan model AI simbolik bernama VEEM-ZEB. Model ini memungkinkan evaluasi real-time terhadap penggunaan energi dan tingkat kenyamanan pada tahap desain bangunan nol energi, dengan memisahkan pengaturan suhu antara area kerja dan ruang yang lebih luas di sekitarnya. VEEM-ZEB menggunakan indikator kenyamanan standar seperti PMV dan PPD agar hasilnya bisa dipahami dengan mudah. Selain itu, model ini dilengkapi dengan tampilan virtual reality (VR) yang memungkinkan desainer melihat langsung bagaimana perubahan rancangan atau pengaturan pendingin akan memengaruhi konsumsi energi serta kenyamanan penghuni. Tim peneliti menguji model ini dengan menjalankan 48.000 skenario berbeda, termasuk variasi musim, jumlah penghuni, dan perilaku orang di kantor. Hasilnya membuktikan VEEM-ZEB dapat mengidentifikasi strategi pendinginan yang paling efisien dan nyaman, memberi kejelasan yang biasanya tidak tersedia pada tahap desain sebelumnya. Pendekatan ini menggeser proses evaluasi dari fase operasional ke tahap perancangan, memberikan arsitek dan insinyur alat bantu keputusan yang lebih akurat dan interaktif. Dengan teknologi ini, diharapkan bangunan nol energi di masa depan akan lebih mudah dirancang dengan keseimbangan terbaik antara penghematan energi dan kenyamanan penghuni.
Setelahnya

Baca Juga

  • Humanoids go mainstream as China’s robotics champions appear at CCTV spectacle

  • Bos Microsoft Ramal AI Gantikan Karyawan Kantoran dalam 18 Bulan

  • Front Baru AI dan Perangkat Pintar

  • Terobosan Teknologi Global

  • Gejolak Tekno-Ekonomi

  • Frontier Teknologi Terkini

  • Semua berita penting dari KTT Dampak AI India yang sedang berlangsung

  • Google adds music-generation capabilities to the Gemini app

  • Revolusi AI Chip 2026

  • Inovasi Teknologi Terdepan