
Courtesy of Forbes
Mengapa Otak Tidak Bisa Multitasking: Memahami Dampak Attention Residue
Memberikan pemahaman tentang fenomena "attention residue" agar pembaca menyadari pentingnya disengagement psikologis sebelum beralih ke tugas baru untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi kelelahan mental.
27 Feb 2026, 20.30 WIB
44 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Residu perhatian dapat mengurangi produktivitas dan meningkatkan kelelahan mental.
- Pentingnya disengagement psikologis dari tugas yang belum selesai untuk meningkatkan kinerja.
- Menggunakan strategi seperti mindfulness dapat membantu mengurangi residu perhatian dan meningkatkan fokus.
Budaya kerja masa kini sangat menekan kita untuk melakukan multitasking, seperti mengerjakan email saat rapat dan berpindah antar tugas dengan cepat. Namun, secara ilmiah otak manusia tidak bisa benar-benar melakukan multitasking, melainkan hanya beralih fokus dari satu tugas ke tugas lain.
Ketika kita beralih tugas, sisa perhatian atau "attention residue" dari tugas sebelumnya masih aktif dalam pikiran kita, membuat kita sulit berkonsentrasi dan menurunkan kecepatan serta akurasi berpikir. Meski terlihat sepele, efek ini bisa bertambah dan membuat kita lelah secara mental sepanjang hari.
Konsep attention residue pertama kali diperkenalkan oleh Sophie Leroy yang menemukan bahwa cara terbaik untuk berpindah tugas adalah dengan benar-benar melepas keterikatan mental pada tugas sebelumnya, bukan hanya menyelesaikannya secara fisik. Cara ini membantu mengurangi gangguan saat mengerjakan tugas berikutnya.
Otak bagian prefrontal cortex berperan mengatur perhatian dan menyimpan informasi tugas. Karena kapasitasnya terbatas, mengelola beberapa tujuan secara bersamaan bisa menyebabkan gangguan antar tugas. Orang dengan kontrol eksekutif yang lebih baik lebih mampu melepaskan fokus dari tugas sebelumnya.
Ada strategi yang bisa membantu kita mengurangi attention residue, seperti menggunakan blok waktu kerja tanpa gangguan dan membiasakan mindfulness. Penting untuk memahami bahwa kesulitan berpindah fokus bukan berarti kita kurang disiplin, tapi itu cara kerja otak yang alami.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/02/27/the-no-1-habit-that-hurts-your-productivity-by-a-psychologist/
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/02/27/the-no-1-habit-that-hurts-your-productivity-by-a-psychologist/
Analisis Ahli
Sophie Leroy
"Pengertian saya tentang attention residue membantu dunia kerja memahami bahwa penyelesaian psikologis tugas sebelumnya adalah kunci sukses dalam transisi tugas."
Para peneliti Neuropsychopharmacology 2021
"Fungsi prefrontal cortex yang terbatas menjadi dasar ilmiah mengapa multitasking sebenarnya memperlambat proses dan menurunkan kualitas kerja."
Analisis Kami
"Fenomena attention residue sangat relevan di era kerja modern yang serba cepat dan penuh gangguan. Mengabaikan efek ini adalah kesalahan besar bagi produktivitas dan kesehatan mental jangka panjang para pekerja."
Prediksi Kami
Jika budaya kerja tetap menuntut multitasking tanpa penyesuaian, maka produktivitas pekerja akan menurun dan risiko stres, burnout, serta kelelahan mental akan semakin meningkat.





