
Planet terbentuk dari partikel debu yang sangat kecil di sekitar bintang muda, yang kemudian bertumbuh melalui serangkaian tumbukan besar. Planet gas raksasa, seperti Jupiter dan Saturnus, muncul dari inti berbatu besar yang kemudian mengumpulkan gas dari piringan di sekitar bintang mereka. Sedangkan planet berbatu seperti Bumi melewati fase bertumbukan besar setelah gas di sekitar bintang menghilang.
Tidak mudah untuk menentukan kapan planet berakhir. Beberapa ilmuwan mengatakan planet berakhir ketika benar-benar hancur, sementara yang lain menyebutnya berakhir ketika kondisi planet berubah secara drastis dari keadaan aslinya, seperti perubahan iklim yang membuat planet tidak lagi mendukung kehidupan seperti dahulu.
Bumi akan menghadapi 'kematian' yang terkait dengan evolusi Matahari. Sekitar 5 miliar tahun mendatang, Matahari akan kehabisan bahan bakar hidrogen dan berubah menjadi raksasa merah, yang pada akhirnya mungkin akan menelan Bumi. Sebelum itu, peningkatan intensitas sinar Matahari akan menyebabkan penguapan lautan dan membuat Bumi tidak lagi layak huni.
Planet yang mengorbit bintang katai merah bisa memiliki umur yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan Bumi karena bintang ini hidup selama triliunan tahun. Namun, aktivitas geologi internal planet tersebut, misalnya proses konveksi mantel dan pencairan mantel, memiliki batas waktu yang bisa menyebabkan kematian planet jauh sebelum bintang induknya berakhir.
Planet gas besar bisa kehilangan atmosfer mereka jika terlalu dekat dengan bintang dan terkena radiasi kuat. Seiring waktu, planet bisa mengalami perubahan besar dalam kondisi dan bahkan mungkin terlontar dari orbitnya atau terbentur objek lain di galaksi, dan pada akhirnya berkelana di ruang antarbintang selamanya.