Matahari memang berputar, seperti planet-planet di tata surya kita. Sejak abad ke-17, ilmuwan seperti Galileo Galilei mengamati bintik-bintik gelap di permukaan matahari, yang membantu mereka menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan matahari untuk satu kali putaran. Pada awalnya, rotasi ini diperkirakan sekitar 28 hari berdasarkan gerakan bintik matahari yang terlihat melalui teleskop sederhana.
Di era yang lebih modern, Richard Carrington mengamati rotasi matahari dengan teleskop yang lebih canggih dan menetapkan periode rotasi sekitar 27,3 hari di sekitar 30 derajat lintang, tempat bintik matahari paling sering muncul. Namun, ini adalah nilai yang dipengaruhi oleh pergerakan Bumi mengelilingi matahari sehingga mengukur rotasi relatif terhadap bintang-bintang (periode sideris) memberikan nilai sebenarnya yang sedikit lebih pendek, yaitu sekitar 25,4 hari di lintang tersebut.
Matahari berbeda dari bumi karena terdiri dari gas panas yang memungkinkan rotasi berbeda di berbagai bagian. Ini disebut rotasi diferensial. Misalnya, di ekuator matahari, rotasi terjadi lebih cepat sekitar 24,5 hari, sementara di kutubnya lebih lambat, lebih dari 34 hari. Perbedaan ini terjadi sampai kedalaman tertentu di dalam matahari, khususnya di zona konveksi yang berada di bawah permukaan.
Lebih dalam di matahari, di zona radiatif yang berada antara zona konveksi dan inti, rotasi lebih konsisten seperti benda padat dengan periode sekitar 26,6 hari. Namun, rotasi inti matahari masih menjadi misteri karena keterbatasan pengukuran yang ada. Ini merupakan tantangan penting dalam sains yang akan menjadi fokus penelitian di masa datang.
Teknik observasi modern seperti heliosismologi dan pengukuran pergeseran Doppler memungkinkan ilmuwan mengukur rotasi matahari secara lebih detail dan akurat. Pemahaman tentang berapa lama matahari berputar dan bagaimana variasinya sangat penting untuk mempelajari aktivitas matahari yang berdampak langsung pada kondisi di Bumi, seperti badai matahari yang dapat memengaruhi sistem komunikasi dan satelit.