Fokus
Sains

Pengamatan Astronomi dan Fenomena Luar Angkasa yang Baru

Share

Kumpulan berita yang membahas penemuan dan observasi baru tentang fenomena astronomi, mulai dari bintang yang 'bangkit kembali' hingga gerakan dan perubahan benda langit, yang dapat meningkatkan pemahaman kita tentang alam semesta.

04 Feb 2026, 18.04 WIB

Panduan Lengkap Proyektor Bintang Terbaik untuk Nikmati Langit Malam di Rumah

Panduan Lengkap Proyektor Bintang Terbaik untuk Nikmati Langit Malam di Rumah
Proyektor bintang adalah perangkat yang memungkinkan kita menikmati pemandangan langit malam dan objek luar angkasa secara mudah di rumah. Ada berbagai jenis proyektor yang menampilkan warna dan pola yang bisa disesuaikan, atau gambar yang akurat berdasarkan foto nyata dari NASA. Harganya bervariasi mulai dari 20 hingga 220 dolar, tergantung fitur dan kualitasnya. Salah satu produk terbaik adalah Orzorz Galaxy Lite yang menawarkan gambar tajam dan warna hidup dengan desain yang elegan. Proyektor ini bisa digunakan tanpa listrik karena memiliki baterai yang dapat diisi ulang, sehingga fleksibilitas penempatan lebih baik. Selain itu, proyektor ini mendukung beberapa disk bergambar yang bisa diganti, mulai dari galaksi hingga bulan. Sega Toys Homestar Flux juga populer di kalangan penggemar astronomi karena menampilkan gambar yang lebih ilmiah dan presisi dengan banyak disk pilihan yang dijual terpisah. Model ini hadir dengan desain premium dan fitur yang mudah digunakan meski tanpa tambahan kontrol suara atau speaker Bluetooth. Model lain seperti BlissLights Evolve lebih cocok untuk suasana santai dan pesta karena menawarkan pilihan warna yang kaya dan kontrol suara lewat aplikasi, meski kurang akurat dari segi astronomi. Sementara itu, proyektor seperti Hommkiety Galaxy dan Brainstorm Toys hadir dengan harga terjangkau namun tetap mampu memproyeksikan gambar yang cerah dan bagus untuk edukasi anak-anak dan keluarga. Ada juga proyektor bertema seperti Astronaut Starry Sky dan Dinosaur Egg Galaxy yang dirancang khusus untuk anak-anak, dengan berbagai fitur tambahan seperti remote control dan suara bawaan. Masing-masing model memiliki keunggulan tersendiri sehingga penting untuk menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan penggunaan, apakah untuk hiburan, edukasi, atau sebagai alat bantu tidur.
03 Feb 2026, 15.10 WIB

Gerhana Matahari Annular 2026: Cincin Api Jelang Ramadan Hanya Terlihat di Antartika

Gerhana Matahari Annular 2026: Cincin Api Jelang Ramadan Hanya Terlihat di Antartika
Pada tanggal 17 Februari 2026, tepat sebelum bulan Ramadan, akan terjadi fenomena gerhana matahari annular atau sering disebut gerhana matahari cincin. Fenomena ini terjadi ketika bulan berada di posisi yang menutupi sekitar 96 persen piringan matahari, sehingga menciptakan efek cahaya yang terlihat seperti cincin api di langit. Gerhana ini akan mencapai puncaknya pada pukul 07.12 waktu EST atau 19.12 WIB. Namun, fase cincin ini hanya bisa diamati oleh orang-orang yang berada di jalur sempit sepanjang 4.282 kilometer dan lebar 616 kilometer, yang dalam tahun ini cuma meliputi wilayah terpencil di Antartika. Di luar jalur cincin, beberapa daerah lain seperti sebagian wilayah Antartika, Afrika bagian selatan, dan bagian selatan Amerika Selatan masih bisa menyaksikan gerhana matahari parsial. Itu berarti bulan hanya menutupi sebagian piringan matahari, bukan seluruhnya. Bagi masyarakat yang berada di luar wilayah tersebut, peristiwa ini tetap bisa dinikmati secara daring melalui siaran langsung resmi yang akan diumumkan kemudian. Siaran langsung ini diharapkan memberikan kesempatan luas untuk belajar dan mengamati gerhana tanpa harus bepergian jauh. Secara astronomi, gerhana matahari terjadi ketika bulan berada tepat di antara bumi dan matahari saat fase bulan baru, sehingga bayangan bulan jatuh di permukaan bumi. Perbedaan antara gerhana total dan annular terletak pada jarak bulan ke bumi, sehingga pada gerhana annular bulan tampak lebih kecil dan tidak menutupi matahari sepenuhnya.
02 Feb 2026, 07.00 WIB

Korona Matahari Mengembang dan Menciut: Dampak Besar untuk Bumi dan Ilmu Pengetahuan

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa korona, lapisan terluar atmosfer Matahari, memiliki batas yang berubah-ubah seperti ikan buntal yang mengembang dan mengempis. Hal ini terjadi sesuai tingkatan aktivitas Matahari, yang secara langsung mempengaruhi medan magnet Bumi, satelit, dan fenomena seperti aurora. Memahami batas ini membantu meningkatkan prediksi gangguan yang disebabkan oleh aktivitas Matahari. Sebuah foto menarik menampilkan kunang-kunang yang terbang di sekitar akselerator partikel, menunjukkan jejak cahaya yang seperti partikel bermuatan di detektor fisika. Foto ini menggabungkan keindahan alam Jepang dan kemajuan ilmu fisika partikel, dan menjadi salah satu nominasi ajang Global Physics Photowalk 2025. Badai matahari terbesar dalam 20 tahun telah menciptakan aurora spektakuler yang bisa terlihat di tempat-tempat yang biasanya jarang mengalami fenomena ini, seperti Selandia Baru di belahan selatan dan bahkan di beberapa negara bagian di belahan utara seperti Inggris dan Amerika Serikat. Di bidang arkeologi, ditemukan seni batu berupa stensil tangan tertua berusia setidaknya 67.800 tahun di Pulau Muna, Sulawesi, Indonesia. Penemuan ini mengindikasikan manusia purba telah berada di wilayah Australia dan Papua Nugini lebih awal dari dugaan sebelumnya, menambah wawasan tentang sejarah migrasi manusia. Dalam bidang biologi dan kedokteran, penelitian tentang sel ameloblas dan odontoblas yang berperan dalam pembentukan dan kemajuan gigi membuka harapan baru untuk regenerasi gigi menggunakan teknologi sel punca, yang dikenal sebagai produksi bio-tooth atau gigi biologis.
01 Feb 2026, 09.15 WIB

Bulan Menjauh, Gerhana Matahari Total Akan Hilang dalam 600 Juta Tahun

Bulan secara perlahan menjauh dari Bumi dengan kecepatan sekitar 3,8 cm tiap tahun. Jarak ini tidak selalu tetap dan telah terukur secara akurat sejak misi Apollo pada tahun 1960-an, yang menempatkan reflektor di permukaan Bulan. Reflektor ini memungkinkan para ilmuwan mengukur waktu pantulan sinar laser untuk menentukan jarak Bulan dan Bumi secara presisi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Bulan perlahan-lahan menjauh. Dampak dari fenomena ini tidak hanya soal jarak, tapi juga berpengaruh terhadap fenomena alam seperti gerhana matahari. Saat ini, ukuran Bulan hampir sama dengan Matahari ketika diamati dari Bumi, sehingga gerhana matahari total dapat terjadi dan diamati dengan jelas. Banyak yang tidak tahu bahwa Bulan dulunya berukuran jauh lebih besar ketika pertama kali terbentuk dan menempati orbit yang berbeda. Sekitar empat miliar tahun lalu, diameter Bulan diperkirakan tiga kali lipat lebih besar dari ukuran Bulan saat ini. Dengan jarak yang semakin berubah, fenomena langka seperti gerhana matahari pun akan terpengaruh frekuensi dan tampilannya. Ilmuwan NASA, Richard Vondrak, menyatakan bahwa seiring waktu jumlah dan frekuensi gerhana matahari total akan terus berkurang. Para generasi mendatang diprediksi tidak akan lagi menikmati keindahan gerhana matahari total. Diperkirakan dalam 600 juta tahun lagi, fenomena ini akan hilang dari Bumi karena Bulan semakin kecil dan menjauh. Dengan jarak Matahari yang 400 kali lebih jauh dari Bumi dan diameter yang 400 kali lebih besar daripada Bulan, saat ini Bulan mampu menutupi Matahari secara sempurna saat gerhana total. Namun perubahan jarak Bulan ke Bumi menjadi sebuah pengingat bahwa fenomena-fenomena alam yang kita nikmati saat ini tidak abadi dan bisa berubah seiring waktu.
31 Jan 2026, 17.00 WIB

Matahari Berputar: Fakta Menarik dan Variasi Kecepatan Rotasinya

Matahari memang berputar, seperti planet-planet di tata surya kita. Sejak abad ke-17, ilmuwan seperti Galileo Galilei mengamati bintik-bintik gelap di permukaan matahari, yang membantu mereka menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan matahari untuk satu kali putaran. Pada awalnya, rotasi ini diperkirakan sekitar 28 hari berdasarkan gerakan bintik matahari yang terlihat melalui teleskop sederhana. Di era yang lebih modern, Richard Carrington mengamati rotasi matahari dengan teleskop yang lebih canggih dan menetapkan periode rotasi sekitar 27,3 hari di sekitar 30 derajat lintang, tempat bintik matahari paling sering muncul. Namun, ini adalah nilai yang dipengaruhi oleh pergerakan Bumi mengelilingi matahari sehingga mengukur rotasi relatif terhadap bintang-bintang (periode sideris) memberikan nilai sebenarnya yang sedikit lebih pendek, yaitu sekitar 25,4 hari di lintang tersebut. Matahari berbeda dari bumi karena terdiri dari gas panas yang memungkinkan rotasi berbeda di berbagai bagian. Ini disebut rotasi diferensial. Misalnya, di ekuator matahari, rotasi terjadi lebih cepat sekitar 24,5 hari, sementara di kutubnya lebih lambat, lebih dari 34 hari. Perbedaan ini terjadi sampai kedalaman tertentu di dalam matahari, khususnya di zona konveksi yang berada di bawah permukaan. Lebih dalam di matahari, di zona radiatif yang berada antara zona konveksi dan inti, rotasi lebih konsisten seperti benda padat dengan periode sekitar 26,6 hari. Namun, rotasi inti matahari masih menjadi misteri karena keterbatasan pengukuran yang ada. Ini merupakan tantangan penting dalam sains yang akan menjadi fokus penelitian di masa datang. Teknik observasi modern seperti heliosismologi dan pengukuran pergeseran Doppler memungkinkan ilmuwan mengukur rotasi matahari secara lebih detail dan akurat. Pemahaman tentang berapa lama matahari berputar dan bagaimana variasinya sangat penting untuk mempelajari aktivitas matahari yang berdampak langsung pada kondisi di Bumi, seperti badai matahari yang dapat memengaruhi sistem komunikasi dan satelit.
30 Jan 2026, 20.30 WIB

Kisah Seru Kotoran Melayang dalam Misi Apollo 10 di Luar Angkasa

Pada tahun 1969, misi Apollo 10 mengelilingi Bulan dengan tiga astronaut yakni Tom Stafford, Gene Cernan, dan John Young. Dalam perjalanan tersebut, mereka menghadapi insiden unik yaitu adanya kotoran manusia yang melayang di dalam modul kecil tempat mereka berada. Hal ini mengindikasikan masalah dalam pengelolaan limbah manusia di luar angkasa pada era tersebut. Transkrip resmi percakapan para astronaut menunjukkan kehebohan ketika mereka menyadari ada kotoran yang mengambang di udara. Mereka saling bertanya siapa yang bertanggung jawab, namun tidak ada yang mengaku. Kotoran tersebut diduga keluar dari kantung penyimpanan yang digunakan sebagai toilet di lingkungan tanpa gravitasi. NASA menjelaskan bahwa pada misi Apollo, astronaut menggunakan kantung khusus yang dicampur dengan disinfektan sebagai pengganti toilet. Sistem ini memang dinilai memuaskan oleh teknisi, tetapi para astronaut pasti menilai sistem tersebut kurang nyaman karena berbagai kendala praktis yang dialami mereka selama perjalanan luar angkasa. Perkembangan teknologi toilet luar angkasa terus dilakukan hingga saat ini. Di Stasiun Luar Angkasa Internasional, astronaut seperti Samantha Cristoforetti menggunakan toilet dengan teknologi penyedotan khusus yang lebih efisien untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan di lingkungan tanpa gravitasi. Kisah insiden kotoran melayang ini mengingatkan kita bahwa aspek teknis kecil seperti pengelolaan limbah juga sangat penting dan harus diperhatikan secara serius dalam setiap misi luar angkasa. Teknologi yang semakin maju akan membantu astronaut menjalani perjalanan yang lebih aman dan nyaman di masa depan.