Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Astronomi, Eksplorasi Luar Angkasa, dan Penemuan Kuantum

Share

Kumpulan berita mengenai pengamatan fenomena astronomi, perkembangan misi luar angkasa, dan terobosan pada fisika kuantum yang merevolusi pemahaman kita tentang alam semesta.

03 Feb 2026, 14.34 WIB

China Luncurkan Program Ambisius Eksplorasi dan Penambangan Planet Antariksa

China Luncurkan Program Ambisius Eksplorasi dan Penambangan Planet Antariksa
Pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump, Menteri Pertahanan AS Jim Mattis memperingatkan bahwa China berpotensi mengadopsi model kekuatan ala Dinasti Ming, yang menonjolkan kemajuan militer dan teknologi. Namun, pernyataannya sempat dianggap berlebihan karena pada waktu itu China masih tertinggal jauh dari Amerika Serikat dalam berbagai bidang. Kini, pandangan tersebut menjadi nyata seiring dengan perkembangan pesat yang dilakukan China dalam bidang teknologi dan pertahanan. Pada tanggal 29 Januari, China mengumumkan peluncuran resmi program nasional untuk pengembangan sumber daya luar angkasa, sebuah proyek ambisius yang direncanakan berlangsung selama hampir seratus tahun. Program ini bertujuan membangun armada antariksa yang luas untuk melakukan eksplorasi dan penambangan sumber daya di planet-planet seperti Mars, Jupiter, Saturnus, Merkurius, dan Venus, memperlihatkan langkah besar China dalam mengeksplorasi batas-batas baru luar angkasa. Proyek ini dinamai berdasarkan karya ensiklopedik Dinasti Ming yang berjudul Tiangong Kaiwu atau 'The Exploitation of the Works of Nature' yang diterbitkan pada tahun 1637. Penamaan ini menunjukkan bahwa program modern China ini terinspirasi oleh filosofi sains tradisional China yang menganggap bahan-bahan dilahirkan oleh alam dan kemudian diolah oleh manusia melalui keterampilan. Dengan teknologi yang terus berkembang dan dukungan pemerintah yang besar, China berusaha tidak hanya mengikuti, tetapi juga mengambil peranan utama dalam perlombaan antarplanet untuk memanfaatkan sumber daya luar angkasa. Ini merupakan perubahan signifikan yang memperlihatkan bagaimana China telah meningkatkan kemampuan teknologinya untuk menjadi pemain utama dalam percaturan geopolitik dan ekonomi dunia. Program pengembangan sumber daya luar angkasa ini juga memicu spekulasi tentang pengaruhnya terhadap keseimbangan kekuatan global. Jika sukses, China dapat mengamankan akses ke sumber daya yang sangat melimpah di luar bumi, yang mana akan menjadi keunggulan strategis dan ekonomi yang besar bagi negara tersebut di masa depan.
30 Jan 2026, 19.00 WIB

Fenomena Langka: Bintang Terang Regulus Tertutup Bulan Purnama 'Snow Moon'

Fenomena Langka: Bintang Terang Regulus Tertutup Bulan Purnama 'Snow Moon'
Stargazers di wilayah timur Amerika Utara akan menyaksikan sebuah kejadian langka di langit malam. Sebuah bintang terang bernama Regulus akan tertutup sementara oleh bulan purnama yang dikenal dengan julukan 'Snow Moon'. Kejadian ini disebut lunar occultation, di mana bulan melewati depan Regulus hingga membuatnya menghilang dari pandangan. Bulan akan mencapai fase purnama pada Minggu, 1 Februari, dan pada malam berikutnya, 2 Februari, akan menutupi Regulus di rasi bintang Leo. Fenomena ini akan terlihat dengan mata telanjang dari sebagian besar wilayah Amerika Utara bagian timur, dari Midwest hingga pantai timur, serta bagian timur Kanada dan Afrika barat laut. Waktu terbaik untuk melihat fenoma ini di kota-kota seperti New York, Toronto, dan Boston adalah antara pukul 8:40 dan 10:05 malam setempat. Contohnya, di New York, Regulus akan menghilang pada sekitar pukul 8:51 malam dan muncul kembali sekitar pukul 9:54 malam. Semakin ke barat wilayahnya, semakin rendah posisi fenomena di langit dan tidak terlihat di wilayah barat Amerika Utara. Meskipun bisa dilihat tanpa alat bantu, menggunakan binokular atau teleskop kecil akan membuat momen awal dan akhir occultation lebih dramatis. Pada saat masuk (ingress), Regulus akan berada di tepi terang bulan sebelum benar-benar tertutup, dan pada saat keluar (egress), bintang tersebut akan muncul kembali dari sisi sebaliknya bulan. Setelah occultation Regulus ini, fenomena besar selanjutnya yang melibatkan bulan adalah occultation Venus pada 17 Juni, namun tidak akan terlihat dari Amerika Utara karena terjadi pada siang hari. Oleh karena itu, moment ini adalah kesempatan ideal untuk menyaksikan keajaiban langit malam langsung.
30 Jan 2026, 19.00 WIB

Fenomena Langit Spektakuler Tahun 2026: Gerhana dan Bulan Merah yang Menakjubkan

Fenomena Langit Spektakuler Tahun 2026: Gerhana dan Bulan Merah yang Menakjubkan
Pada akhir Januari hingga awal Februari 2026, berbagai fenomena astronomi menarik akan menghiasi langit malam. Salah satu momen menakjubkan adalah ketika bulan hampir penuh melintas dekat dengan planet Jupiter di rasi bintang Gemini, sebuah pemandangan yang dapat dinikmati tanpa alat bantu. Tanggal 3 Maret akan menampilkan gerhana bulan total yang berubah warna menjadi merah terang selama hampir satu jam. Peristiwa ini akan sangat terlihat di wilayah barat Amerika Utara, menjadikannya salah satu gerhana bulan paling memukau dalam beberapa tahun terakhir. Gerhana matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari, meskipun hanya dapat dilihat dari Antartika saja. Sedangkan pada 12 Agustus, akan terjadi gerhana matahari total yang dapat dilihat di bagian utara benua Eropa, termasuk Greenland, Islandia, dan Spanyol, di mana langit akan gelap selama beberapa menit. Selain fenomena gerhana, pengamat langit juga dapat menikmati pemandangan konstelasi musim dingin seperti Taurus, lengkap dengan bintang terang Aldebaran dan gugus bintang Hyades dan Pleiades yang terkenal. Orion dengan sabuk bintang yang khas juga akan mudah dikenali di langit malam. Dengan beragam fenomena menarik ini, tahun 2026 menjadi tahun yang sangat spesial untuk astronomi. Para penggemar langit dan masyarakat umum disarankan menggunakan aplikasi planetarium dan peralatan sederhana untuk mendapatkan pengalaman terbaik saat mengamati langit malam.
30 Jan 2026, 02.30 WIB

SpaceX dan xAI Bersiap Bergabung Sebelum IPO, Menggabungkan AI dan Luar Angkasa

SpaceX dan xAI Bersiap Bergabung Sebelum IPO, Menggabungkan AI dan Luar Angkasa
SpaceX dan xAI, dua perusahaan yang dipimpin oleh Elon Musk, sedang mempertimbangkan untuk bergabung menjadi satu perusahaan yang lebih besar. Langkah ini dilaporkan oleh Reuters dan terjadi menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO) SpaceX yang dijadwalkan tahun ini. Jika penggabungan ini terjadi, produk-produk seperti chatbot Grok, platform X, satelit Starlink, dan roket SpaceX akan berada di bawah satu atap. Meskipun belum ada pernyataan resmi dari perusahaan terkait, terdapat indikasi kuat dari dokumen yang menunjukkan didirikannya dua perusahaan baru di Nevada, yaitu K2 Merger Sub Inc. dan K2 Merger Sub 2 LLC pada tanggal 21 Januari. Penggabungan ini akan memberikan kesempatan bagi xAI untuk menempatkan pusat data mereka di luar angkasa, sebuah visi yang sering diutarakan oleh Musk. Strategi ini juga sesuai dengan tren penggabungan perusahaan-perusahaan milik Elon Musk yang sudah terlihat sejak tahun lalu. SpaceX telah menyetujui investasi sebesar 2 miliar dolar AS di xAI, demikian pula Tesla baru-baru ini mengumumkan investasi 2 miliar dolar AS ke dalam startup AI tersebut, memperkuat hubungan antara bisnis Musk yang berbeda. Pada tahun lalu, xAI membeli perusahaan X dengan valuasi 80 miliar dolar AS sementara X sendiri dinilai sebesar 33 miliar dolar AS. Sedangkan SpaceX, yang berdiri sejak 2002, telah menggelar penjualan sekunder yang menghargai perusahaan tersebut hingga 800 miliar dolar AS, menjadikannya perusahaan swasta paling bernilai di Amerika Serikat. Sebuah laporan Financial Times mengungkapkan bahwa Musk ingin melaksanakan IPO SpaceX pada bulan Juni tahun ini. Namun, mengingat catatan waktu pelaksanaan berbagai rencana besar Musk yang sering molor, waktu pastinya masih belum pasti. Penggabungan ini berpotensi mendukung ambisi besar Musk dalam inovasi teknologi.
30 Jan 2026, 02.01 WIB

Momen Emas Maret 2026: Peluang Terakhir Menyaksikan Auroraboralis Dekade Ini

Momen Emas Maret 2026: Peluang Terakhir Menyaksikan Auroraboralis Dekade Ini
Fenomena aurora borealis atau cahaya utara menarik perhatian banyak orang karena keindahan alamnya yang luar biasa. Pada bulan Maret 2026 nanti, para penggemar dan penikmat aurora memiliki kesempatan istimewa untuk melihat pertunjukan cahaya alam yang mungkin menjadi yang terbaik dalam dekade ini. Kesempatan ini muncul karena beberapa faktor alam yang saling bertepatan, mulai dari siklus matahari hingga posisi bulan di langit malam. Salah satu faktor penting adalah fase bulan yang akan berada pada kuartal terakhir dan bulan baru sekitar tanggal 11 hingga 19 Maret 2026, memberikan langit yang gelap dan jelas untuk melihat aurora. Selain itu, adanya ekuinoks musim semi pada tanggal 20 Maret menambah peluang terlihatnya aurora karena orientasi medan magnet bumi yang mendukung interaksi dengan angin matahari yang membawa partikel bermuatan. Siklus matahari mencapai puncaknya atau solar maksimum antara 2024 dan 2025, berarti aktivitas matahari seperti ledakan dan lontaran massa juga berada di puncak sehingga memungkinkan aurora yang kuat dan sering terjadi. Namun setelah itu, aktivitas matahari mulai menurun menuju solar minimum sekitar tahun 2030, yang membuat peluang melihat aurora spektakuler semakin kecil. Waktu setelah ekuinoks bertanda dengan bertambahnya lama waktu siang di belahan bumi utara, sehingga langit malam menjadi lebih terang dan menyulitkan untuk menikmati aurora, khususnya di kawasan yang selama ini sering dilalui oleh fenomena ini. Maka dari itu, bulan Maret 2026 menjadi kesempatan terakhir yang sangat berharga bagi para pemburu aurora, bahkan untuk mereka yang tinggal di lintang yang lebih rendah. Secara keseluruhan, fenomena aurora borealis di Maret 2026 diprediksi menjadi momen yang sangat spesial dan langka karena gabungan dari keadaan alam serta siklus astronomi. Bagi siapa saja yang ingin mengamati dan mengabadikan aurora, persiapan dan pengamatan tepat waktu sangat dianjurkan untuk mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan.
29 Jan 2026, 18.00 WIB

AI Temukan Ribuan Objek Aneh di Arsip Gambar Kosmos Hubble

Para ilmuwan dari European Space Agency (ESA) menggunakan alat kecerdasan buatan bernama AnomalyMatch untuk menyisir arsip gambar dari Teleskop Luar Angkasa Hubble yang telah mengumpulkan data selama lebih dari 35 tahun. Dengan hanya dua hari pencarian, mereka berhasil menemukan sekitar 1.300 objek kosmik aneh, termasuk 800 yang sebelumnya belum pernah ditemukan oleh para astronom. Objek-objek tersebut terdiri dari galaksi yang sedang bergabung, benda langit dengan jelajah gas yang memanjang, galaksi yang bentuknya menyerupai ubur-ubur, dan disk yang membentuk planet di galaksi kita yang menyerupai bentuk hamburger. Menariknya, beberapa dari objek-objek ini tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori astronomi yang sudah ada saat ini, artinya mereka belum dapat dijelaskan atau diklasifikasikan oleh ilmu pengetahuan. Alat AI ini dilatih untuk mendeteksi pola dan fitur yang tidak biasa dalam gambar-gambar kecil dari arsip Hubble, yang sangat luas hingga mencakup sekitar 100 juta potongan gambar. Metode ini jelas mengatasi batasan analisis manual dan juga membantu mempercepat penelitian dibandingkan dengan cara tradisional yang mengandalkan pengamatan ahli astronom banyak waktu. Selain menemukan berbagai keanehan, alat ini juga mendeteksi fenomena gravitasi lensa pada galaksi-galaksi, di mana cahaya dari galaksi latar belakang ditekuk oleh gravitasi galaksi depan menjadi pola melingkar atau busur. Penemuan ini memverifikasi kemampuan AI dalam mengenali fenomena fisika yang rumit pada gambar kosmik. Para peneliti menegaskan bahwa teknologi AI seperti ini akan sangat berguna untuk menganalisis data dari teleskop terbaru seperti Euclid, Nancy Grace Roman, serta Vera C. Rubin Observatory yang akan menghasilkan data dalam jumlah sangat besar. Ini membuka harapan bahwa masa depan astronomi akan sangat bergantung pada AI untuk menyingkap keajaiban alam semesta secara lebih cepat dan efektif.
29 Jan 2026, 14.31 WIB

Fenomena Langka Snow Moon 2026: Bulan Tutupi Bintang Terang Regulus

Pada tanggal 1 Februari 2026, terjadi fenomena bulan purnama yang dikenal dengan sebutan Snow Moon, bulan purnama kedua dari 13 bulan purnama dalam satu tahun. Nama Snow Moon diberikan karena biasanya di waktu ini di Amerika Utara tertutup salju. Menariknya, sehari setelah purnama atau pada 2 Februari, bulan hampir purnama tersebut akan mengaburkan bintang paling terang di rasi Leo, yaitu Regulus. Kejadian ini disebut occultasi dan sangat jarang terjadi, terakhir terjadi baru akan terulang pada tahun 2035. Peristiwa occultasi Regulus dapat dilihat mulai pukul 8:40 hingga 10:05 malam waktu setempat di bagian timur Amerika Utara. Contohnya di New York City, bintang Regulus hilang di balik bulan pada pukul 8:51 malam dan muncul kembali pukul 9:54 malam EST. Tahun 2026 sendiri sangat istimewa karena akan memiliki 13 bulan purnama, termasuk fenomena menarik lainnya seperti blood moon atau gerhana bulan total pada bulan Maret, blue moon, dan beberapa supermoon di akhir tahun. Gerhana bulan total pada 3 Maret 2026 yang berlangsung sekitar 58 menit akan menjadi satu-satunya gerhana total tahun itu dan tidak akan terjadi lagi hingga 2029. Semua fenomena ini memberikan banyak kesempatan bagi pengamat langit dan astronom amatir untuk mendapatkan pengalaman luar biasa.

Baca Juga

  • Astronomi, Eksplorasi Luar Angkasa, dan Penemuan Kuantum

  • Inovasi Medis dan Bioteknologi

  • Inovasi Medis dan Bioteknologi

  • Dampak Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim

  • Pengamatan Astronomi dan Fenomena Luar Angkasa yang Baru