Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Dampak Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim

Share

Kumpulan berita yang mengulas fenomena cuaca ekstrem, penelitian perubahan iklim, dan inovasi untuk mitigasi dampak lingkungan, memperlihatkan tantangan global dalam menghadapi perubahan alam.

07 Feb 2026, 13.45 WIB

Perubahan Iklim dan Teknologi AI Kunci Atasi Banjir Ekstrem Jakarta

Perubahan Iklim dan Teknologi AI Kunci Atasi Banjir Ekstrem Jakarta
Perubahan iklim global semakin nyata dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, seperti hujan deras yang menyebabkan banjir dan siklon tropis yang melanda beberapa wilayah Indonesia, terutama Jakarta dan pantai utara Jawa. Hal ini menyebabkan bencana hidrometeorologi yang berdampak besar pada masyarakat dan infrastruktur. Profesor Eddy Hermawan dari BRIN menjelaskan bahwa hujan ekstrem dengan durasi pendek biasanya disebabkan oleh gelombang atmosfer ekuatorial seperti Kelvin wave. Sedangkan hujan deras yang berlangsung lama dalam hari bahkan minggu dipicu oleh fenomena La Niña dan Indian Ocean Dipole, yang membuat hujan terus-menerus terjadi. Jakarta merupakan wilayah yang ideal terbentuknya pusaran atmosfer, karena kondisi geografis seperti dataran aluvial dan pantai landai serta pemanasan intensif yang terjadi lebih dari 12 jam setiap hari. Hal ini mengakibatkan pusaran angin kuat dan hujan deras lama di satu wilayah yang memicu banjir besar. Dalam upaya mitigasi bencana, Eddy menekankan pentingnya mengembangkan sistem peringatan dini dengan memanfaatkan teknologi AI, big data, machine learning, dan deep learning. Hal ini diharapkan dapat menghasilkan prediksi cuaca yang lebih akurat, tepat waktu, dan sesuai lokasi yang akan terdampak. Selain faktor atmosfer, peran lingkungan juga tidak kalah penting. Perubahan tutupan lahan dari hutan hijau menjadi daerah beton mengurangi ruang resapan air, sehingga banjir Jakarta bukan hanya soal curah hujan melainkan juga ketidaksiapan lanskap kota dalam menghadapi bebaban hidrometeorologi yang ekstrem.
04 Feb 2026, 11.15 WIB

Waspada! Hujan Lebat dan Cuaca Ekstrem Terus Melanda Jakarta dan Sejumlah Wilayah Indonesia

Waspada! Hujan Lebat dan Cuaca Ekstrem Terus Melanda Jakarta dan Sejumlah Wilayah Indonesia
Pada pagi hari Rabu, 4 Februari 2026, wilayah Jakarta diguyur hujan lebat yang menandai awal dari periode cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung beberapa hari ke depan. BMKG mengaitkan kondisi ini dengan dorongan angin utara yang melintasi ekuator dan aktivitas gelombang atmosfer yang aktif, terutama Monsun Asia. Menurut informasi dari akun resmi PPID BMKG, sejumlah wilayah Indonesia mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan. Faktor utama yang menyebabkan cuaca ekstrem ini adalah penguatan aliran angin timur laut dari Asia ke wilayah maritim tropis, diikuti dengan indeks Cold Surge dan Cross Equatorial Northerly Surge yang kuat. Selain itu, adanya gelombang Kelvin yang aktif di Samudra Hindia dari Barat Lampung hingga Pulau Jawa mempercepat pembentukan awan hujan dengan cakupan yang luas. Wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat termasuk Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan beberapa daerah lainnya. Beberapa daerah juga diperkirakan akan menghadapi angin kencang dan petir. BMKG mengimbau masyarakat agar selalu waspada dan menghindari berada di tempat terbuka saat hujan petir serta menjauh dari pohon atau bangunan rapuh saat angin kencang terjadi. Keselamatan menjadi aspek penting selama cuaca buruk ini berlangsung. Secara keseluruhan, kondisi atmosfer Indonesia menunjukkan tanda-tanda akan mengalami periode cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan banjir dan gangguan aktivitas sehari-hari. Pemerintah dan masyarakat disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan dan penerapan mitigasi bencana secara berkelanjutan.
04 Feb 2026, 10.45 WIB

Rahasia Penurunan Kalsium Laut: Kunci Perubahan Iklim Bumi 66 Juta Tahun Lalu

Rahasia Penurunan Kalsium Laut: Kunci Perubahan Iklim Bumi 66 Juta Tahun Lalu
Sekitar 66 juta tahun lalu, setelah zaman dinosaurus, Bumi mengalami perubahan iklim drastis dari iklim tropis yang hangat menjadi sangat dingin. Para ilmuwan dari berbagai negara berkolaborasi untuk menemukan penyebab perubahan ini, salah satunya dengan meneliti kadar kalsium dalam air laut yang berubah secara signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa kadar kalsium terlarut di laut menurun lebih dari 50% selama 66 juta terakhir. Pada awal Era Senozoikum, kadar kalsium tinggi menyebabkan karbondioksida disimpan lebih sedikit di laut sehingga lebih banyak dilepaskan ke udara, membuat Bumi lebih hangat. Saat kadar kalsium menurun, karbon dioksida akhirnya terserap kembali oleh laut dari atmosfer, sehingga menurunkan suhu Bumi hingga 15-20 derajat Celsius. Fenomena ini menjadi salah satu penjelasan utama perubahan iklim besar pada waktu tersebut. Para peneliti menggunakan fosil makhluk laut kecil yang ditemukan di dasar laut serta membuat model komputer untuk melihat bagaimana perubahan kadar kalsium mempengaruhi pertukaran kimia dan kehidupan laut seperti karang dan plankton yang menyimpan karbon. Selain itu, penemuan juga mengaitkan penurunan kadar kalsium dengan perlambatan proses pemekaran dasar samudera yang merupakan aktivitas vulkanik pembentuk dasar laut baru. Proses ini mempengaruhi pertukaran kimia antara batuan dan air laut, sehingga memicu perubahan iklim jangka panjang.
04 Feb 2026, 07.50 WIB

Pencairan Es Antartika Barat Justru Lemahkan Penyerapan Karbon Samudra Selatan

Pencairan Es Antartika Barat Justru Lemahkan Penyerapan Karbon Samudra Selatan
Penelitian terbaru mengungkap bahwa pencairan lapisan es di Antartika Barat dapat melemahkan kemampuan Samudra Selatan dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Hal ini penting karena Samudra Selatan berperan besar dalam mengatur iklim global dengan menyerap gas rumah kaca. Selama masa lalu yang hangat, gunung es yang terlepas dari Antartika Barat membawa sedimen kaya zat besi ke laut. Namun, zat besi ini telah mengalami pelapukan kimia sehingga sulit dimanfaatkan oleh alga, yang biasanya membutuhkan zat besi untuk tumbuh dan membantu menyerap karbon. Penelitian ini berbeda dengan studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa debu kaya zat besi selama zaman es mampu meningkatkan pertumbuhan alga dan penyerapan karbon di laut. Kini diketahui bahwa sumber utama zat besi di wilayah tersebut pada periode hangat adalah gunung es, bukan debu. Para peneliti menegaskan bahwa bukan cuma jumlah zat besi yang masuk ke laut yang penting, melainkan bentuk kimia zat besi tersebut. Kondisi saat ini dan masa depan yang menyebabkan pencairan es kemungkinan memperparah kondisi ini. Jika pemanasan global terus berlanjut, pencairan es Antartika Barat bisa terjadi dalam skala besar seperti 130.000 tahun lalu. Hal ini mengancam kemampuan Samudra Selatan menyerap karbon dan mempercepat krisis perubahan iklim di masa depan.
04 Feb 2026, 06.30 WIB

Varaha Bangun Proyek Penghapusan Karbon Murah dari India untuk Pasar Global

Varaha Bangun Proyek Penghapusan Karbon Murah dari India untuk Pasar Global
Varaha adalah startup teknologi iklim yang berbasis di India yang baru-baru ini berhasil mengumpulkan 20 juta dolar AS sebagai bagian dari putaran pendanaan Seri B sebesar 45 juta dolar. Perusahaan ini berfokus pada pengembangan proyek penghapusan karbon di wilayah Asia dan Afrika, dengan tujuan menjadi pemasok kredit karbon yang terverifikasi dengan biaya lebih rendah dibandingkan kawasan Eropa dan Amerika Utara. Didirikan pada 2022, Varaha memanfaatkan biaya operasional yang rendah di negara berkembang, ketersediaan rantai pasokan pertanian yang luas, serta bakat teknis yang besar di India. Mereka memanfaatkan empat jalur untuk penghapusan karbon, yaitu pertanian regeneratif, agroforestri, biochar, dan pelapukan batuan yang ditingkatkan, bekerja sama dengan petani kecil dan mitra industri. Hingga saat ini, Varaha telah berhasil menghapus lebih dari 2 juta ton karbon dioksida, menghasilkan sekitar 150 ribu kredit karbon yang diverifikasi lewat registri internasional. Mereka menjadi yang pertama di India dan Asia menerbitkan kredit karbon dari proyek biochar dan pelapukan batuan yang diverifikasi secara internasional. Pendapatan Varaha mencapai 430 juta Rupee (sekitar 4,76 juta dolar) pada tahun keuangan terakhir dan diproyeksikan meningkat hingga hampir 2 miliar Rupee (sekitar 22,15 juta dolar) pada tahun berikutnya. Startup ini juga sudah berhasil menjalin perjanjian jangka panjang dengan perusahaan global besar seperti Google, Microsoft, Lufthansa, Swiss Re, dan Capgemini. Dengan operasi yang tersebar di India, Nepal, Bangladesh, Bhutan, dan Pantai Gading, serta memperluas pasar ke Vietnam dan Indonesia, Varaha berencana menggunakan pendanaan terbaru untuk memperluas jangkauan dan meluncurkan Program Mitra Industri untuk mendukung proses penghapusan karbon berbasis biochar melalui kemitraan strategis, bukan hanya dengan kepemilikan aset langsung.
03 Feb 2026, 15.45 WIB

Peneliti Ungkap Lanskap Tersembunyi di Bawah Es Antartika dengan Teknologi Baru

Para ilmuwan berhasil menemukan gambaran paling rinci tentang bentuk daratan yang tersembunyi di bawah lapisan es Antartika yang sangat luas. Penemuan ini sangat membantu karena selama ini wilayah ini lebih sedikit diketahui dibandingkan permukaan Mars atau Venus. Studi menggunakan teknik terbaru bernama Ice Flow Perturbation Analysis (IFPA), yang membaca pola gangguan pada permukaan es akibat bentuk daratan di bawahnya. Data ini kemudian digabungkan dengan pengamatan satelit untuk memetakan seluruh benua dengan lebih akurat. Dari penelitian ini, terungkap bahwa di bawah es terdapat ribuan bukit, lembah, pegunungan, dan ngarai yang belum pernah direkam sebelumnya. Kondisi ini sangat penting karena memengaruhi kecepatan aliran lapisan es menuju laut. Peneliti menjelaskan bahwa daratan yang kasar seperti pegunungan dapat memperlambat aliran es, sedangkan wilayah yang datar bisa mempercepatnya. Hal ini berhubungan erat dengan pemanasan global yang menyebabkan lapisan es menipis dan menyusut. Peta baru ini sangat berharga untuk menjadi dasar survei ilmiah berikutnya dan akan membantu meningkatkan akurasi model prediksi kenaikan permukaan laut di masa depan akibat perubahan iklim.
01 Feb 2026, 14.15 WIB

Peneliti Ungkap Suara Misterius Dari Langit Bukan Karena Gempa Bumi

Fenomena suara misterius yang berasal dari langit telah terdengar berkali-kali sejak ratusan tahun lalu. Banyak orang mengaitkan suara ini dengan gempa bumi. Namun, para ilmuwan melakukan penelitian untuk mencari tahu penyebab sebenarnya dari suara ini, khususnya yang pernah terdengar saat gempa New Madrid pada 1811-1812 dan Januari 2020. Peneliti menggunakan data seismik dari EarthScope Transportable Array (ESTA) untuk menggali lebih jauh tentang suara ini di Amerika Serikat. Mereka juga membandingkan suara tersebut dengan kejadian terbaru di tahun 2023. Penelitian ini melibatkan verifikasi data dari laporan berita dan data seismo akuistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suara-suara yang terdengar tersebut tidak ada kaitannya dengan gempa bumi. Suara tersebut lebih mungkin merupakan fenomena atmosfer yang menyebar melalui udara, bukan melalui tanah, seperti yang dijelaskan oleh peneliti Eli Bird. Selain data seismik, peneliti juga menganalisa data infrasonik, yaitu suara frekuensi rendah yang tidak terdengar oleh manusia. Mereka berhasil menangkap sinyal suara berdurasi 1-10 detik yang berhubungan dengan laporan ledakan yang didengar selama fenomena itu terjadi. Meski begitu, belum ada penjelasan pasti mengenai asal suara ini. Beberapa kemungkinan penyebab yang diduga adalah ledakan pesawat yang melewati kecepatan suara (sonik) atau bolide, yaitu meteorit besar yang melewati atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi tanpa terlihat jelas tapi menghasilkan suara keras.

Baca Juga

  • Astronomi, Eksplorasi Luar Angkasa, dan Penemuan Kuantum

  • Inovasi Medis dan Bioteknologi

  • Inovasi Medis dan Bioteknologi

  • Dampak Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim

  • Pengamatan Astronomi dan Fenomena Luar Angkasa yang Baru