Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus

Frontier Teknologi Terkini

Share

Kumpulan artikel ini membahas terobosan teknologi terkini, mulai dari robot mikro, inovasi perangkat elektronik seperti TV dan smartphone, hingga eksplorasi luar angkasa serta pengembangan bahan baterai canggih. Sorotan juga mencakup dinamika korporasi, kebijakan energi digital, dan riset kuantum yang membuka peluang baru untuk perangkat tanpa baterai. Semua topik ini merefleksikan kemajuan sains dan dampaknya pada kehidupan serta industri masa depan.

26 Feb 2026, 01.00 WIB

Gemini AI Google Kini Bisa Pesan Uber dan Makanan Otomatis di Ponsel

Gemini AI Google Kini Bisa Pesan Uber dan Makanan Otomatis di Ponsel
Google merilis pengembangan terbaru dari AI mereka yang bernama Gemini, dengan kemampuan baru untuk melakukan automasi tugas seperti memesan Uber atau DoorDash secara mandiri di beberapa ponsel terbaru, termasuk Pixel 10 dan Samsung Galaxy S26. Ini menandai kemajuan nyata agar AI menjadi lebih seperti asisten pribadi. Fitur task automation pada Gemini bekerja dengan cara membuka aplikasi dalam jendela virtual dan secara otomatis melanjutkan proses pemesanan langkah demi langkah. Pengguna dapat mengamati proses tersebut, menghentikannya, mengambil alih kendali, atau membiarkannya berjalan di latar belakang dengan mudah. Gemini juga akan meminta perhatian pengguna jika ada pilihan yang harus diputuskan, atau jika produk yang diinginkan habis stok. Setelah proses selesai, Gemini akan mengingatkan pengguna untuk memeriksa dan melakukan konfirmasi akhir pada pesanan atau pemesanan. Google sedang mendorong platform Android untuk mendukung teknologi ini lebih luas, dengan tools seperti MCP dan Android app functions untuk memudahkan developer aplikasi mengintegrasikan automasi AI. Fitur ini akan semakin diperluas di rilis Android berikutnya, yang disebut Android 17. Saat ini, fitur automasi baru ini terbatas di beberapa aplikasi dan negara tertentu sebagai uji coba awal. Google mengajak komunitas developer untuk bekerja sama agar teknologi AI ini bisa berkembang dengan baik tanpa mengganggu pengalaman aplikasi yang sudah ada.
25 Feb 2026, 19.49 WIB

Efek Hall Nonlinier: Kunci Perangkat Elektronik Tanpa Baterai Masa Depan

Efek Hall Nonlinier: Kunci Perangkat Elektronik Tanpa Baterai Masa Depan
Sekelompok ilmuwan internasional telah menemukan cara untuk mengendalikan efek Hall nonlinier, sebuah fenomena kuantum yang memungkinkan konversi sinyal listrik bolak-balik langsung menjadi arus searah tanpa perlu medan magnet. Ini bisa membawa perubahan besar dalam teknologi energi. Efek Hall adalah fenomena yang ditemukan pada 1879, saat arus listrik mengalir pada logam atau semikonduktor dengan medan magnet, menghasilkan tegangan melintang secara tegak lurus. Saat ini, efek ini banyak digunakan dalam berbagai sensor di kendaraan dan perangkat elektronik sehari-hari. Berbeda dengan efek Hall klasik, efek Hall nonlinier memungkinkan pengubahan sinyal listrik tanpa medan magnet dan komponen besar seperti dioda. Hal ini membuka kemungkinan perangkat yang dapat mengambil energi langsung dari lingkungan tanpa butuh baterai. Penelitian dilakukan pada material topologis khusus yang menjaga stabilitas efek ini hingga suhu kamar. Para peneliti mendapati bahwa pada suhu rendah, ketidaksempurnaan kecil dalam material mengontrol efek ini, sedangkan pada suhu tinggi, getaran kristal memainkan peran penting mengubah arah sinyal yang dihasilkan. Penemuan ini sangat berpotensi mendukung pengembangan sensor pintar yang beroperasi sendiri, teknologi wearable, hingga komponen cepat untuk komunikasi nirkabel masa depan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
23 Feb 2026, 22.40 WIB

NASA Tunda Peluncuran Artemis II Karena Masalah Sistem Helium di Roket

NASA Tunda Peluncuran Artemis II Karena Masalah Sistem Helium di Roket
NASA kembali menunda peluncuran misi Artemis II yang direncanakan membawa empat astronot mengelilingi bulan. Penundaan terjadi akibat gangguan aliran helium pada roket Space Launch System (SLS) tahap atas, yang sangat penting untuk pengendalian bahan bakar dan kondisi lingkungan mesin roket tersebut. Masalah aliran helium ini ditemukan setelah uji wet dress rehearsal yang berhasil pada hari Kamis, 19 Februari, yang menunjukkan sistem roket bekerja dengan baik saat pengisian bahan bakar. Namun, pada hari berikutnya ditemukan ketidakmampuan mengalirkan helium yang memaksa NASA untuk menunda peluncuran. Untuk memperbaiki masalah ini, roket SLS dan pesawat Orion akan dipindahkan kembali dari tempat peluncuran ke Vehicle Assembly Building di Kennedy Space Center, Florida, tempat di mana mereka akan diperiksa dan diperbaiki. Rollback ini diharapkan tidak memakan waktu lama agar jendela peluncuran pada bulan April tetap terbuka. Misi Artemis II sangat penting karena akan menjadi penerbangan manusia pertama NASA mengelilingi bulan dalam lebih dari 50 tahun, dan akan menampilkan kru dengan wanita dan pria kulit hitam, menandai kemajuan dalam keberagaman kru antariksa. Misi ini juga berfungsi sebagai uji coba penting sebelum misi pendaratan Artemis III pada tahun 2028. NASA terus menyelidiki penyebab masalah helium, termasuk mengevaluasi data dari misi Artemis I sebelumnya, yang juga mengalami masalah terkait pressurisasi helium. NASA berharap perbaikan cepat agar peluncuran April bisa terlaksana, walaupun ketidakpastian tetap ada karena kompleksitas teknis misi ini.
21 Feb 2026, 16.02 WIB

Baterai Organik Inovatif Tahan Lentur dan Hemat Biaya, Tantang Lithium-ion

Baterai Organik Inovatif Tahan Lentur dan Hemat Biaya, Tantang Lithium-ion
Para peneliti di Tianjin University dan South China University of Technology telah berhasil mengembangkan baterai lithium-organik yang menggunakan polimer konduktif PBFDO sebagai katoda. Baterai ini menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan baterai lithium-ion konvensional yang menggunakan logam berat seperti cobalt dan nikel. Baterai yang dibuat berbentuk pouch cell dengan kapasitas 2,5 ampere jam dan energi mencapai lebih dari 250 watt-jam per kilogram. Ini memberikan kinerja yang dapat bersaing dengan baterai lithium-ion tradisional. Selain itu, baterai ini dapat beroperasi di suhu mulai dari sangat dingin sampai sangat panas, dari -94°F hingga 176°F. Salah satu keunggulan utama baterai ini adalah elastisitasnya, yang membuat baterai tetap utuh dan berfungsi meskipun mengalami tekukan, peregangan, atau tekanan. Pengujian keselamatan termasuk tusukan jarum juga menunjukkan bahwa baterai ini aman tanpa risiko kebakaran atau ledakan. Inovasi ini penting untuk masa depan teknologi penyimpanan energi, terutama dalam pengembangan perangkat elektronik fleksibel dan wearable yang membutuhkan baterai yang tahan banting dan ringan. Berbagai negara dan tim riset sedang berlomba menciptakan baterai berbahan organik untuk mengurangi ketergantungan pada logam berat. Meskipun masih dalam tahap prototipe, baterai lithium-organik ini menunjukkan potensi besar untuk produksi skala industri dalam beberapa tahun ke depan. Industri otomotif dan penyimpanan energi diperkirakan akan mengadopsi teknologi ini sebagai solusi yang lebih aman, hemat biaya, dan berkelanjutan.
Sebelumnya

Baca Juga

  • Panorama Sains & Teknologi

  • Front Baru AI dan Perangkat Pintar

  • Terobosan Teknologi Global

  • Gejolak Tekno-Ekonomi

  • Frontier Teknologi Terkini

  • Revolusi AI Chip 2026

  • Inovasi Teknologi Terdepan

  • Tekno-Bisnis Nusantara

  • Revolusi Tekno-Bisnis 2026

  • Era Robotika dan Energi Bersih