Fokus

Horizon Teknologi Global

Share

Serangkaian artikel ini mengulas inovasi teknologi dan ancaman global, mencakup eksploitasi bug kritis di jaringan besar, evolusi pertahanan udara, solusi penyimpanan energi iron-air, hingga material beton pengikat CO2. Selain itu, dibahas tren AI, gaming, startup pasca-OpenAI, kebijakan teknologi, dan terobosan perangkat seperti ponsel lipat dan mesin pesawat hibrida. Cocok untuk memahami lanskap teknologi mutakhir yang membentuk masa depan berbagai industri.

26 Feb 2026, 23.03 WIB

Bug Kritis Cisco SD-WAN Dieksploitasi Selama Bertahun-tahun, Pemerintah Mendesak Perbaikan

Bug Kritis Cisco SD-WAN Dieksploitasi Selama Bertahun-tahun, Pemerintah Mendesak Perbaikan
Cisco menemukan adanya bug keamanan serius pada produk Catalyst SD-WAN yang bisa digunakan peretas untuk mengakses jaringan perusahaan dan pemerintah secara tersembunyi dan jangka panjang. Bug ini memiliki skor kerentanan paling tinggi, yaitu 10.0, dan sudah dieksploitasi selama minimal tiga tahun. Produk Catalyst SD-WAN sangat penting bagi organisasi besar dan instansi pemerintah karena membantu menghubungkan berbagai kantor dan jaringan privat mereka dengan aman melalui jarak jauh. Namun, cacat ini bisa membuat peretas mengambil alih sistem tersebut dan mengawasi hingga mencuri data penting secara tersembunyi. Bug tersebut telah menyebabkan beberapa organisasi infrastruktur penting, seperti listrik, air, dan transportasi berada dalam risiko. Beberapa negara seperti Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika Serikat sudah mengeluarkan peringatan dan menyerukan penanganan cepat untuk memperbaiki kerentanan ini. CISA, badan keamanan siber Amerika Serikat, bahkan memerintahkan agar semua lembaga pemerintah melakukan patch atau pembaruan pada sistem mereka secepatnya karena ancaman yang sangat besar dan sedang berlangsung. Sayangnya, serangan ini belum diketahui pasti siapa aktornya, meski aktivitasnya telah terdeteksi dan diberi label UAT-8616. Cisco sebelumnya juga memberikan peringatan serupa terhadap celah di software Async mereka yang juga berisiko tinggi dan sedang disalahgunakan oleh hacker. Ini menegaskan betapa pentingnya menjaga keamanan perangkat jaringan agar tidak mudah ditembus dan digunakan sebagai pintu masuk serangan cyber.
26 Feb 2026, 20.30 WIB

Bagaimana Ukraina Bertahan dari Serangan Udara Hebat Rusia dengan Sistem Pertahanan Canggih

Bagaimana Ukraina Bertahan dari Serangan Udara Hebat Rusia dengan Sistem Pertahanan Canggih
Dalam empat tahun terakhir, Ukraina menghadapi serangan besar-besaran dari Rusia yang menggunakan ribuan rudal dan drone serang. Meski serangan semakin intens dan presisi, Ukraina tetap bertahan berkat sistem pertahanan udara yang terus berkembang dan diperbarui untuk menghadapi berbagai ancaman, dari rudal hipersonik hingga drone berkecepatan rendah. Sejarah menunjukkan bahwa serangan serupa pernah terjadi saat Perang Dunia II di Inggris dan perang Iran-Irak, namun senjata masa kini jauh lebih akurat. Misalnya, drone Shahed Rusia dapat menyerang dengan presisi hingga 15 meter, yang cukup untuk melumpuhkan infrastruktur penting seperti pembangkit listrik dan blok apartemen. Sistem pertahanan udara Ukraina meliputi beragam teknologi mulai dari sistem jarak jauh seperti Patriot dan S-300, sistem menengah NASAMS dan IRIS-T, hingga senjata jarak dekat seperti senapan mesin dan turret otomatis Sky Sentinel yang digerakkan oleh AI. Semua ini bekerja terus-menerus untuk melindungi langit Ukraina. Selain sistem statis, Ukraina juga menggunakan pesawat tempur dan pesawat ringan seperti An-28 yang dilengkapi senjata mesin berat untuk memburu dan menjatuhkan drone. Di lini paling mutakhir, ribuan drone interceptor kecil seperti Sting yang relatif murah telah terbukti efektif menembak jatuh ratusan drone agresor setiap malam. Peran penggalangan dana, terutama melalui platform UNITED24, sangat penting dalam mendukung pengadaan berbagai sistem pertahanan canggih ini. Dengan tingkat intersepsi saat ini sekitar 84%, target ke depannya adalah mencapai 95%, yang akan membuat Ukraina semakin kuat dalam mempertahankan kedaulatannya.
26 Feb 2026, 01.47 WIB

Mengubah Abu Sampah Jadi Bahan Bangunan Ramah Lingkungan dengan Tekonologi Karbonasi

Mengubah Abu Sampah Jadi Bahan Bangunan Ramah Lingkungan dengan Tekonologi Karbonasi
Para ilmuwan Jerman sedang mengembangkan teknik inovatif untuk mengikat karbon dioksida secara permanen dalam abu hasil pembakaran sampah kota yang berbahaya. Abu ini dikenal mengandung zat beracun seperti logam berat dan dioxin, yang membuatnya sulit untuk dibuang secara aman. Tujuannya adalah mengubah abu ini menjadi bahan pengganti pasir, kerikil, atau bahan pengikat beton yang ramah lingkungan. Abu pembakaran sampah terdiri sebagian besar dari abu bawah dan abu terbang, yang jumlahnya sangat besar setiap tahunnya di Jerman. Bagian abu bawah sudah melalui proses penyaringan dan pembersihan agar dapat digunakan kembali. Proyek penelitian ini fokus pada reaksi karbonasi, di mana mineral dalam abu tersebut menyerap dan mengikat karbon dioksida dari lingkungan secara permanen. Sebuah pabrik percontohan sedang dibangun di Lindlar, Jerman, untuk menguji berbagai metode karbonasi. Metode pertama adalah karbonasi basah di bawah air yang mampu menyerap lebih banyak CO2, namun membutuhkan energi tambahan untuk pengeringan. Metode kedua adalah karbonasi dengan kelembapan terbatas, yang membentuk lapisan karbonasi padat di permukaan abu dengan penyerapan CO2 lebih sedikit. Setelah proses karbonasi berhasil, tim peneliti akan fokus memanfaatkan abu yang sudah diolah tersebut untuk menggantikan bahan-bahan konstruksi mentah yang membutuhkan energi tinggi saat diproduksi. Abu karbonasi ini nantinya dapat digunakan dalam konstruksi jalan maupun produksi beton, asalkan mampu memenuhi standar kualitas yang ketat. Jika seluruh tahap pengembangan ini berhasil, inovasi ini tidak hanya membantu mengurangi limbah berbahaya tetapi juga mendukung ekonomi sirkular dan perlindungan iklim dengan mengurangi emisi karbon dan pemakaian sumber daya alam secara berlebihan.
25 Feb 2026, 15.52 WIB

Google Bangun Pusat Data Baru di Minnesota dengan Baterai Terbesar Dunia

Google mengumumkan pembangunan pusat data baru di Pine Island, Minnesota, yang akan berjalan dengan energi bersih dari angin dan matahari. Proyek ini menandai fasilitas Google pertama di negara bagian tersebut dan berlokasi sekitar satu jam dari Minneapolis. Pusat data ini didukung dengan kapasitas energi 1,9 gigawatt (GW) yang dihasilkan dari sumber terbarukan. Untuk memastikan kelancaran operasi data center selama periode tanpa matahari atau angin, Google bekerja sama dengan Xcel Energy dan perusahaan baterai Form Energy untuk membangun baterai besi-udara berkapasitas besar. Baterai ini memiliki kapasitas 30 gigawatt-jam (GWh) dengan durasi penyimpanan hingga 100 jam, sebuah inovasi baru dalam sektor penyimpanan energi. Baterai besi-udara ini beroperasi dengan cara mengoksidasi besi menjadi karat dan kemudian mengembalikannya, menghasilkan listrik saat proses oksidasi dan menyimpan energi saat proses reduksi. Meskipun efisiensi penyimpanannya lebih rendah dibanding baterai lithium-ion konvensional, baterai ini punya keuntungan biaya yang jauh lebih murah, sekitar Rp 334.00 ribu ($20) per kilowatt-jam. Google dan Xcel Energy juga menciptakan skema biaya baru bernama Clean Energy Accelerator Charge (CEAC) yang memungkinkan investasi energi bersih tanpa membebani konsumen listrik secara langsung. Google berinvestasi sebesar Rp 835.00 miliar ($50 juta) untuk mendukung program Capacity Connect yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan keandalan jaringan listrik. Kolaborasi antara Google, Xcel Energy, dan Form Energy menawarkan model baru dalam pengoperasian pusat data dengan sumber energi bersih dan hemat biaya. Proyek ini bisa jadi pionir dalam penggunaan teknologi baterai jangka panjang yang dapat mendukung transisi global ke energi terbarukan.
21 Feb 2026, 03.30 WIB

Asha Sharma Pimpin Xbox: Komitmen Baru untuk Game Berkualitas dan AI Bijak

Microsoft Gaming mengalami perubahan besar dengan penggantian Phil Spencer oleh Asha Sharma sebagai CEO baru. Spencer mengundurkan diri setelah hampir 40 tahun berkarir di Microsoft dan 12 tahun memimpin Xbox. Sharma membawa pengalaman dari dunia AI dan teknologi yang diharapkan membawa fresh perspective pada Xbox dan masa depan gaming Microsoft. Dalam memo internal pertamanya, Sharma menyatakan tiga komitmen utama: memastikan game yang luar biasa, menghidupkan kembali identitas Xbox, dan mempersiapkan masa depan permainan yang inovatif dengan dukungan AI. Dia menekankan pentingnya menjaga kualitas seni dan kreativitas manusia dalam game, sekaligus tidak melupakan potensi AI dan monetisasi yang akan berkembang. Xbox akan tetap fokus pada konsol sebagai akar utama, namun dengan perluasan besar ke PC, mobile, dan cloud. Hal ini sesuai dengan strategi Xbox Everywhere yang mempermudah pengembang untuk menjangkau pemain di berbagai platform tanpa hambatan, menciptakan ekosistem game yang seamless dan instan. Matt Booty, pejabat senior Microsoft Gaming, mendukung visi Sharma dan menegaskan tidak akan ada perubahan organisasi untuk studio-studio yang ada, sehingga stabilitas pengembangan game tetap terjaga. Fokus utama adalah mendukung pengembang dan konten mereka dalam menghadapi perubahan industri game yang sangat cepat. Penggunaan AI akan menjadi bagian dari masa depan Xbox, namun Sharma menegaskan tidak akan membiarkan ekosistem Xbox dipenuhi oleh konten AI yang dangkal dan berlebihan. Game akan tetap menjadi seni yang diciptakan oleh manusia, dengan teknologi sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas. Hal ini memberikan harapan bagi penggemar dan pengembang agar inovasi tetap seimbang dengan kualitas dan nilai-nilai seni.
20 Feb 2026, 22.53 WIB

Dampak Hukum dan Lingkungan Peluncuran ByteDance Seedance 2.0 di Industri AI

ByteDance baru saja meluncurkan Seedance 2.0, sebuah model kecerdasan buatan yang mampu membuat video sinematik dengan audio yang sinkron secara otomatis. Model ini dijuluki sebagai “digital director” karena kemampuannya yang luar biasa dalam menghasilkan konten multimedia. Namun, peluncuran ini juga memicu berbagai permasalahan hukum dan lingkungan yang serius di industri AI. Dalam ranah hukum, Disney dan Paramount, dua raksasa Hollywood, menuduh ByteDance menggunakan perpustakaan karya yang dilindungi hak cipta secara ilegal untuk melatih model AI ini. Tuduhan ini menyebabkan ByteDance menangguhkan fitur yang memungkinkan kloning suara manusia asli untuk menghindari masalah lanjutan. Isu ini menjadi perhatian besar seiring dengan adanya regulasi baru di berbagai negara terkait perlindungan hak kekayaan digital dan identitas digital. Regulasi global kini semakin ketat. Uni Eropa akan menerapkan AI Act secara penuh mulai Agustus, sementara Amerika Serikat sedang menggodok undang-undang NO FAKES yang melindungi hak digital seseorang hingga 70 tahun setelah meninggal. Di India, pemerintah memberlakukan aturan penghapusan konten AI ilegal secara cepat dalam 3 jam, sebagai wujud penanganan cepat terhadap penyebaran konten yang merugikan. Selain aspek hukum, Seedance 2.0 juga memunculkan masalah lingkungan. Pengolahan video berkualitas tinggi ini memerlukan pusat data dengan sistem pendingin yang menguapkan hingga empat liter air bersih dalam 10 detik video. Konsumsi air di fasilitas besar mencapai lima juta galon per hari, menyebabkan persaingan ketat dengan sektor pertanian dan kebutuhan masyarakat lokal, terutama di wilayah seperti Northern Virginia dan Arizona di Amerika Serikat. Dengan melihat konflik hukum dan tantangan lingkungan ini, masa depan teknologi AI generatif video akan ditentukan oleh kemampuannya menyesuaikan diri pada peraturan yang terus berkembang dan keterbatasan sumber daya alam. Industri harus mencari cara untuk mengintegrasikan keberlanjutan dan kepatuhan hukum agar tetap relevan dan bertanggung jawab secara sosial dan ekologis.
20 Feb 2026, 19.00 WIB

Sam Altman Puji Kemajuan Cemerlang AI China di Tengah Persaingan Global

CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan kekagumannya atas perkembangan pesat teknologi di China khususnya di bidang kecerdasan buatan. Dia menilai bahwa perusahaan-perusahaan teknologi China sudah berada sangat dekat dengan inovasi terdepan di dunia meskipun beberapa sektor masih tertinggal. Hal ini menunjukkan bahwa China memfokuskan banyak usaha pada pengembangan AI. Persaingan antara Washington dan Beijing semakin ketat terutama dalam pengembangan artificial general intelligence (AGI), teknologi yang mampu menyamai kecerdasan manusia dan dapat diterapkan luas dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Pemerintah China juga serius memperkuat industri semikonduktor domestik agar dapat bersaing dengan perusahaan besar seperti Nvidia. Sentimen positif terhadap kemajuan teknologi China ini mendorong kenaikan saham perusahaan AI di bursa China. Namun, di sisi lain, pejabat perusahaan teknologi Amerika juga menyampaikan kekhawatiran mengenai subsidi besar yang diberikan pemerintah China kepada perusahaan AI lokal mereka. OpenAI sendiri sedang memperkuat model bisnisnya dengan menggalang dana besar sekitar Rp 1.17 quadriliun (US$70 miliar) dan merencanakan putaran pendanaan jumbo senilai Rp 1.67 quadriliun (US$100 miliar) . Mereka juga mulai mempertimbangkan iklan di platform ChatGPT sebagai salah satu cara untuk mengejar profitabilitas. Sam Altman menegaskan bahwa meskipun fokus utama perusahaan masih pada ekspansi dan pertumbuhan yang cepat, mereka tetap berusaha mencari waktu yang tepat untuk meraih keuntungan secara finansial. Dia pun menyampaikan bahwa format iklan yang akan diterapkan masih dalam tahap awal dan ingin mengikuti tren yang organik seperti di media sosial Instagram.