Masalah kissing number adalah teka-teki matematika yang diajukan Isaac Newton pada tahun 1694. Pertanyaan dasarnya adalah berapa banyak bola identik yang bisa menyentuh bola pusat tanpa tumpang tindih, yang diibaratkan seperti biji delima yang mengelilingi satu biji pusat. Untuk dunia tiga dimensi, jawabannya sudah lama terbukti yaitu 12 bola, bukan 13 seperti yang diperdebatkan Newton dan Gregory.
Seiring bertambahnya dimensi, masalah ini menjadi semakin rumit dan solusi yang tepat sulit ditemukan. Baru-baru ini, menggunakan metode AI canggih bernama PackingStar, para ilmuwan dari beberapa universitas dan institut di Cina berhasil mengeksplorasi dan menemukan konfigurasi bola dalam dimensi 13 yang sebelumnya belum terpecahkan.
PackingStar menggunakan dua agen AI yang bekerja sama dalam pendekatan reinforcement learning, memungkinkan mereka menemukan pola dan konfigurasi bola dalam ruang berdimensi tinggi yang sangat kompleks. Sistem ini beroperasi tanpa masukan manusia, menunjukkan kemampuan AI dalam menangani permasalahan kompleks di bidang matematika.
Penemuan ini bukan hanya penting dalam ranah teori matematika, tetapi juga memiliki potensi besar dalam teknologi, seperti membantu kompresi data agar lebih efisien dan mengoptimalkan distribusi sinyal komunikasi di bidang telekomunikasi satelit dan pengkodean kuantum. Namun, hasil dari AI ini masih perlu diuji dan diverifikasi oleh para ahli manusia.
Ke depan, kolaborasi antara kecerdasan buatan dan matematikawan diharapkan semakin berkembang, membawa kita ke era baru di mana masalah matematika yang dahulu dianggap mustahil dapat dipecahkan dengan bantuan algoritma pintar. Hal ini akan membuka peluang baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern.