Fokus

Lomba Inovasi Teknologi Global

Share

Kumpulan artikel ini membahas persaingan dan inovasi teknologi global: mulai dari lonjakan kekuatan Tiongkok dalam AI dan robotika, peluncuran ponsel mutakhir Galaxy S26, kesenjangan dalam pengembangan obat, hingga langkah-langkah strategis perusahaan seperti Alibaba, Kana, dan iRobot di ranah kecerdasan buatan, marketing, dan data pengguna.

27 Feb 2026, 07.00 WIB

Keterlambatan Dana Riset AS 2026: Dampak Keras bagi Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Keterlambatan Dana Riset AS 2026: Dampak Keras bagi Kemajuan Ilmu Pengetahuan
Kongres Amerika Serikat telah menolak potongan besar-besaran anggaran riset yang diajukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump untuk tahun anggaran 2026. Namun, dana riset yang disetujui hingga kini belum sepenuhnya dapat digunakan oleh berbagai lembaga riset utama seperti NIH dan NSF karena keterlambatan otorisasi dana dari Kantor Manajemen dan Anggaran (OMB). Biasanya, setelah anggaran tahunan disahkan, lembaga riset secara otomatis boleh mengakses sebagian dananya untuk biaya penting seperti gaji staf. Tahun ini, aturan itu diubah sehingga dana hanya boleh digunakan untuk hal-hal esensial saja, menyebabkan perlambatan dalam pemberian hibah dan proyek riset baru. National Institutes of Health (NIH), yang merupakan pemberi dana riset biomedis terbesar di dunia, baru mendapatkan sekitar sepertiga dari jumlah anggaran sebesar 47 miliar dolar Amerika Serikat. Akibatnya, jumlah hibah riset yang diberikan menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. National Science Foundation (NSF) mendapatkan otorisasi penuh atas dananya pada akhir Februari 2026, beberapa minggu setelah anggaran disetujui. Sebelumnya, mereka hanya bisa menggunakan dana untuk membayar gaji dan operasional fasilitas penting seperti stasiun penelitian di Antartika. NASA mendapatkan dana penuh, namun harus membatasi penggunaan dana untuk sepuluh program riset tertentu, termasuk misi eksplorasi ke Venus dan studi asteroid yang mengancam Bumi. Hal ini merupakan langkah tidak biasa yang mengindikasikan kendali ketat dari OMB atas alokasi dana riset.
27 Feb 2026, 05.23 WIB

Bahaya Penggunaan Bukti Video Tanpa Ahli Forensik di Era AI

Bahaya Penggunaan Bukti Video Tanpa Ahli Forensik di Era AI
Seorang pria bernama Gerald Benn dipenjara lebih dari lima tahun atas tuduhan pembunuhan ganda yang sebenarnya tidak dilakukannya. Kesalahan ini terjadi karena hakim di tingkat pengadilan melihat rekaman video pengawasan yang kabur dan memutuskan bahwa sosok di video itu adalah pelaku tanpa menggunakan metode forensik video yang benar. Tidak ada ahli forensik video yang dilibatkan atau metodologi ilmiah yang dipakai untuk membantu menilai rekaman tersebut. Pengadilan banding Alberta kemudian membatalkan vonis hukuman terhadap Benn setelah menemukan 'cacat serius' pada cara hakim sebelumnya menilai rekaman CCTV. Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya keahlian profesional dan standar yang ketat dalam menilai bukti video yang sering dipakai dalam sistem hukum saat ini. Namun, sayangnya, di banyak negara termasuk Amerika Serikat, belum ada standar federal yang wajib bagi evaluasi bukti video. Dalam era digital sekarang, lebih dari 80 persen kasus hukum di AS menggunakan bukti video, namun belum diatur secara jelas bagaimana bukti tersebut harus dianalisis secara ilmiah. Bahkan standar dari lembaga seperti NIST masih berupa usulan dan belum menjadi kewajiban. Kondisi ini berbahaya karena kemampuan teknologi AI untuk membuat atau memanipulasi rekaman video semakin maju, sehingga video yang tampak nyata bisa saja palsu. Penelitian menunjukkan bahwa memberi konteks yang sudah memihak dapat membuat ahli forensik video menggambar kesimpulan yang salah, dan ini memperkuat pentingnya proses yang tepat dalam analisis video, termasuk urutan kerja yang benar agar tidak terpengaruh bias. Kasus Benn dan beberapa kasus lain memperlihatkan bahwa banyak kesalahan dalam penilaian bukti video berasal dari kurangnya metode ilmiah dan supervisi yang memadai. Untuk menghindari kesalahan fatal di masa depan, pengacara harus selalu melibatkan ahli forensik video yang berkualitas dalam kasus yang melibatkan bukti digital, dan institusi hukum harus menetapkan standar yang wajib diikuti. Di tengah kemajuan teknologi AI, hanya dengan metode yang benar dan profesionallah keadilan bisa ditegakkan, tidak cukup hanya mengandalkan pengamatan biasa.
26 Feb 2026, 10.41 WIB

China Ungguli Korea Selatan dalam Teknologi Berkat Investasi R&D Strategis

China Ungguli Korea Selatan dalam Teknologi Berkat Investasi R&D Strategis
China kini menempati peringkat ketiga dalam tingkat kemampuan teknologi global, menurut penilaian yang dilakukan oleh Kementerian Sains dan ICT Korea Selatan. Posisi ini diperoleh setelah China berhasil mengungguli Jepang dan Korea Selatan dalam banyak sektor teknologi strategis pada periode 2022 hingga 2024. Penilaian ini menggunakan sejumlah indikator termasuk publikasi akademik dan paten di 11 bidang teknologi prioritas, seperti manufaktur, transportasi, dan pertahanan. Hasilnya menunjukkan China semakin mendekati Amerika Serikat yang masih menjadi pemimpin global dalam bidang teknologi. Perkembangan China didorong oleh fokus kebijakan nasional yang menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pusat strategi pembangunan negara. Investasi besar-besaran dilakukan untuk mengembangkan sektor seperti semikonduktor, energi baru, kecerdasan buatan, dan manufaktur maju. Di sisi lain, Korea Selatan masih tertinggal, dengan selisih sekitar 0,7 tahun dari China dalam rata-rata kemampuan teknologi keseluruhan. Hal ini menunjukkan perlunya Korea Selatan untuk terus meningkatkan inovasi dan melakukan transformasi kebijakan agar bisa bersaing secara efektif. Para analis juga menekankan pentingnya kedua negara ini menghindari kompetisi yang hanya menguntungkan salah satu pihak saja, dan sebaliknya mengupayakan kerjasama yang lebih dalam agar dapat mendorong kemajuan teknologi dan ekonomi di kawasan dengan lebih seimbang dan berkelanjutan.
26 Feb 2026, 05.26 WIB

Samsung Galaxy S26 Tawarkan Fitur AI dan Kamera Canggih di Tiga Model Baru

Samsung Galaxy S26 Tawarkan Fitur AI dan Kamera Canggih di Tiga Model Baru
Samsung baru saja meluncurkan seri Galaxy S26 yang terdiri dari tiga varian: S26, S26 Plus, dan S26 Ultra. Ketiganya membawa prosesor Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang khusus dibuat untuk Samsung, dengan peningkatan performa dan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI). Fitur ini memungkinkan pengguna men-screen panggilan tidak dikenal dan mengedit foto hanya dengan mengetik permintaan perubahan. Model dasar Galaxy S26 hadir dengan layar OLED 6,3 inci, baterai 4.300mAh, dan kamera belakang yang terdiri dari sensor utama 50 megapiksel, ultrawide 12 megapiksel, serta telefoto 10 megapiksel. Perangkat ini juga mendukung refresh rate hingga 120Hz, RAM 12GB, dan penyimpanan mulai dari 256GB. Harga mulai dari 899,99 dolar Amerika. Galaxy S26 Plus memiliki spesifikasi serupa dengan layar yang lebih besar 6,7 inci dan baterai yang lebih besar 4.900mAh, yang berpotensi membuat daya tahan baterainya lebih lama. Harga model ini mulai dari 1.099,99 dolar Amerika, menawarkan opsi bagi pengguna yang menginginkan layar lebih luas dan waktu pakai lebih panjang. Varian tertinggi, Galaxy S26 Ultra, dilengkapi dengan fitur paling lengkap, termasuk layar OLED 6,9 inci, baterai 5.000mAh, dan sistem kamera yang sangat canggih dengan sensor utama 200 megapiksel, serta dua lensa telefoto dengan zoom optik 3x dan 5x. Ultra juga mendukung stylus S Pen dan fitur layar privasi untuk menjaga informasi tetap tersembunyi dari pandangan orang lain. Ketiga model menjalankan Android 16 dengan konektivitas 5G, Wi-Fi 7, dan Bluetooth 6, dengan perbedaan pada dukungan mmWave yang hanya ada di S26 Plus dan Ultra. Semua ponsel ini juga memiliki sertifikasi IP68 untuk tahan debu dan air serta fitur pengisian nirkabel. Dengan harga mulai dari 899,99 hingga 1.299,99 dolar, Samsung menawarkan pilihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta preferensi tiap konsumen.
26 Feb 2026, 00.00 WIB

Inovasi Obat Murah dan Terobosan Baru dalam Pengobatan Kanker serta Obesitas

Obat biologis telah membantu banyak pasien kanker dan penyakit imun untuk hidup lebih sehat dan lebih lama, tetapi biaya tinggi menjadi masalah besar. Sejak 2015, FDA telah menyetujui lebih dari 90 biosimilar, obat dengan fungsi sama tapi harga lebih terjangkau, dan akan ada banyak lagi biosimilar yang menyusul dalam dua tahun ke depan. Hal ini penting untuk mengurangi biaya kesehatan dan membuat obat lebih mudah diakses. Pasar obat obesitas juga mengalami persaingan ketat antara perusahaan besar seperti Novo Nordisk dan Eli Lilly. Novo Nordisk sudah mengeluarkan versi pil dari obat obesitasnya Wegovy yang sangat populer. Kedua perusahaan juga berlomba mengembangkan obat oral generasi berikutnya yang mudah dikonsumsi dan produksi lebih murah. Para peneliti di University of Waterloo menciptakan bakteri yang bisa hidup di lingkungan dengan oksigen untuk membantu mengobati tumor padat yang sulit diobati. Mereka memasang 'saklar keamanan' pada bakteri ini agar hanya mulai aktif setelah tumbuh di tumor, mengurangi risiko efek samping di dalam tubuh pasien. Gilead mengakuisisi perusahaan bioteknologi Arcellx yang sedang mengembangkan terapi CAR-T untuk multiple myeloma dengan harga 7,8 miliar dollar. Ini menunjukkan minat tinggi dari perusahaan besar dalam mengembangkan terapi kanker yang inovatif dan berpotensi mendatangkan keuntungan besar dalam jangka panjang. FDA juga telah mengumumkan panduan baru untuk mempercepat dan menurunkan biaya pengembangan biosimilar, yang dapat menghemat hingga 100 juta dollar dan mempercepat obat masuk pasar. Meski begitu, tantangan dari harga obat yang kompleks dan persaingan dengan obat merek yang menurunkan harga setelah paten berakhir masih harus dihadapi.
25 Feb 2026, 20.40 WIB

Sam Altman Bantah ChatGPT Boros Air, Dorong Energi Terbarukan untuk AI

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT telah memicu diskusi mengenai konsumsi energi dan air yang sangat besar. CEO OpenAI, Sam Altman, menolak klaim bahwa tiap pertanyaan ChatGPT membutuhkan galon air, menyebutnya sebagai informasi yang salah dan berlebihan. Meski kebutuhan pendinginan pusat data memang menggunakan air dalam jumlah besar, teknologi terus berkembang sehingga beberapa fasilitas baru tidak lagi bergantung pada air sebagai sistem pendingin utama. Namun, laporan memperkirakan penggunaan air untuk pendinginan ini akan meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam 25 tahun mendatang seiring naiknya kebutuhan komputasi. Altman menyatakan bahwa masalah utama sebenarnya adalah konsumsi energi secara keseluruhan akibat meningkatnya penggunaan AI di seluruh dunia. Ia mengajak dunia untuk beralih ke energi nuklir, angin, dan surya sebagai sumber utama agar kebutuhan ini dapat terpenuhi secara ramah lingkungan. Secara menarik, Altman juga menyentuh perbandingan yang dibuat oleh Bill Gates tentang efisiensi energi otak manusia versus pelatihan AI. Menurut Altman, perbandingan yang lebih tepat adalah energi yang dibutuhkan AI dalam menjawab satu pertanyaan setelah model selesai dilatih, yang mungkin sudah setara atau lebih efisien daripada manusia. Perdebatan ini juga mendapat kritik dari pakar lain seperti Sridhar Vembu yang menolak penyamaan AI dengan manusia. Sementara itu, pembangunan pusat data baru menghadapi penolakan dari masyarakat setempat yang khawatir akan beban listrik dan kenaikan tarif listrik, menandai tantangan sosial dalam ekspansi teknologi AI.
21 Feb 2026, 19.15 WIB

Krisis Memori Global Picu Penurunan Produksi dan Kebangkrutan Industri Elektronik

Industri teknologi global sedang menghadapi krisis serius dalam pasokan memori yang sudah berlangsung sejak akhir tahun lalu. Krisis ini menimbulkan tekanan besar di berbagai bagian industri elektronik, mulai dari smartphone, PC, hingga TV yang memerlukan komponen memori sebagai bagian penting produksinya. Menurut CEO Phison, Pua Kheing Sen, banyak perusahaan elektronik diprediksi akan mengalami masa sulit dalam beberapa tahun ke depan. Penurunan produksi smartphone diperkirakan antara 200 hingga 250 juta unit, sementara produksi PC dan TV juga mengalami penurunan signifikan. Tidak hanya berdampak pada jumlah produksi, krisis ini juga menimbulkan risiko kebangkrutan bagi banyak vendor dan perusahaan elektronik. Beberapa produsen terpaksa menghentikan lini produksinya karena masalah kekurangan komponen memori yang vital untuk perangkat elektronik mereka. Upaya peningkatan kapasitas produksi sedang dilakukan oleh beberapa produsen seperti Samsung, Micron, dan SK Hynix, namun kapasitas baru ini hanya mampu menambah 3-5% dari total produksi global, sementara kebutuhan kekurangan mencapai 10-20%. Selain itu, produsen juga mulai menerapkan kebijakan pembayaran di muka selama tiga tahun, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Diperkirakan krisis ini bisa berlanjut hingga tahun 2030, membuat para pelaku industri harus menyiapkan strategi baru untuk bertahan. Krisis ini juga memengaruhi pasar domestik China yang sangat besar, sehingga produk murah dari sana tidak akan banyak keluar ke pasar global.
19 Feb 2026, 00.09 WIB

Unitree Robot Humanoid Tampil Memukau dan Siap Kirim 20.000 Unit Tahun 2026

Robot humanoid dari Unitree membuat headline setelah tampil mengesankan pada Gala Festival Musim Semi Cina 2026. Mereka menunjukkan aksi kompleks seperti seni bela diri dan loncatan trampolin yang mencapai ketinggian 3 meter, semua dilakukan tanpa campur tangan manusia. Penampilan ini mendapat perhatian luas berkat kemampuannya yang mirip dengan demonstrasi robotik dari Boston Dynamics. Setelah penampilan tersebut, Unitree mempublikasikan video baru di YouTube yang menampilkan lebih dari 40 robot G1 melakukan rutinitas sinkronisasi. Robot-robot ini membentuk pesan Tahun Baru dari sudut pandang atas, menunjukkan teknologi 'Cluster Cooperative Rapid Scheduling System' yang mereka gunakan. Unitree merencanakan untuk meningkatkan pengiriman robot humanoid mereka sebanyak hampir empat kali lipat menjadi 20.000 unit di tahun 2026, dibandingkan dengan 5.500 unit di 2025. Langkah ini menandai ambisi perusahaan untuk melayani pasar yang lebih luas dan menciptakan distribusi robot yang lebih besar di dunia nyata. Sementara itu, Elon Musk dari Tesla mengaku bahwa pesaing terbesar mereka untuk robot humanoid Optimus kemungkinan besar adalah perusahaan-perusahaan asal Cina. Meski sebelumnya Musk menjanjikan ribuan robot Optimus akan bekerja di pabrik Tesla, hingga akhir 2025 robot tersebut belum memberi kontribusi nyata dalam produksi mereka. Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri robot humanoid akan semakin kompetitif, terutama dengan kemunculan perusahaan Cina seperti Unitree yang bergerak cepat dalam meningkatkan kapasitas produksi. Ini bisa menjadi era baru bagi robotika di mana produk-produk asal Asia memiliki peranan dominan di pasar global.
18 Feb 2026, 22.08 WIB

Startup AI Pemasaran Kana Bawa Revolusi Fleksibel di Dunia Marketing

Dunia pemasaran saat ini semakin dipenuhi dengan berbagai alat berbasis AI yang ditawarkan oleh perusahaan besar dan startup kecil. Meski sudah banyak pilihan, banyak marketer masih merasa kesulitan menemukan alat yang benar-benar efektif dan mudah digunakan. Hal ini membuat hadirnya sebuah startup AI baru di bidang pemasaran perlu mendapat perhatian, terlebih jika didukung oleh pengalaman panjang para pendirinya. Kana, sebuah startup yang baru keluar dari tahap rahasia, membawa sebuah paket agen AI yang dapat membantu marketer dalam berbagai tugas penting seperti analisis data, menargetkan audiens, mengelola kampanye, berinteraksi dengan pelanggan, merencanakan media, dan mengoptimasi chatbot. Dengan pendekatan ini, Kana berharap dapat mempermudah dan mempercepat pekerjaan marketer. Pendiri Kana, Tom Chavez dan Vivek Vaidya, sudah lebih dari 25 tahun berkecimpung di dunia teknologi pemasaran dan memiliki startup sukses sebelumnya. Mereka percaya bahwa dengan pengalaman tersebut dan kecanggihan AI masa kini, mereka bisa menghadirkan solusi yang benar-benar menjawab kebutuhan pasar dan membantu mengurangi kesulitan yang dikeluhkan oleh pengguna. Salah satu keunggulan Kana adalah kemampuan agen AI-nya yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan secara cepat dan dapat diintegrasikan dengan perangkat lunak pemasaran yang sudah ada. Platform ini juga menggunakan data sintetis untuk melengkapi data pihak ketiga, yang membuat perusahaan bisa menghemat biaya dan menguji strategi dengan lebih efisien. Semua proses tetap melibatkan manusia agar kontrol tetap terjaga. Dengan pendanaan sebesar 15 juta dolar AS yang dipimpin oleh Mayfield dan bertambahnya anggota dewan termasuk Navin Chaddha, Kana siap memperluas timnya dan mempercepat pengembangan produk. Mereka yakin bahwa fleksibilitas dan kecepatan inovasi adalah kunci untuk bersaing dengan perusahaan besar yang sudah ada di pasar.