Fokus

Gelombang AI dan Intrik Teknologi

Share

Artikel-artikel ini mengulas gelombang adopsi AI yang menggerakkan pasar saham dan mendorong riset obat di China, sekaligus menyoroti krisis dan kebocoran keamanan siber di lembaga pemerintah AS. Di sisi lain, mereka mengungkap ketegangan etis dalam ekosistem teknologi—mulai dari perekrutan pekerja manusia oleh agen AI hingga perlawanan karyawan terhadap kebijakan imigrasi.

27 Feb 2026, 22.23 WIB

Lindungi Akun Gmail Anda dari Serangan Siber dengan Security Checkup Google

Lindungi Akun Gmail Anda dari Serangan Siber dengan Security Checkup Google
Akun email, khususnya Gmail, selalu menjadi target utama serangan siber karena popularitasnya yang sangat besar. Serangan fenomena baru bahkan memanfaatkan fitur pemulihan akun Google untuk mencuri akses pengguna. Oleh karena itu, penting bagi pengguna Gmail agar selalu waspada dan mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi akunnya dari serangan tersebut. Laporan terbaru menunjukkan bahwa serangan ini terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi, terutama kecerdasan buatan. Bukan hanya dari phishing biasa, tapi juga dari ekstensi browser berbahaya dan kebocoran informasi username dan password yang massive. Ancaman ini tidak hanya nyata tapi berdampak langsung pada kehidupan pengguna Gmail di seluruh dunia. Google sendiri sangat mendorong pengguna untuk menggunakan alat bernama Security Checkup yang mudah digunakan dan memberikan rekomendasi keamanan langsung pada akun mereka. Melalui fitur ini, pengguna dapat melihat aktivitas mencurigakan, meninjau perangkat yang mengakses akun, dan menyesuaikan pengaturan keamanan termasuk autentikasi dua faktor. Security Checkup dirancang agar mudah dipahami bahkan bagi pengguna yang tidak mengerti terlalu dalam soal keamanan siber. Dengan beberapa klik saja, pengguna bisa memperkuat pertahanan akun mereka terhadap berbagai bentuk serangan yang sedang marak terjadi. Ini adalah tindakan pencegahan yang paling efektif dan praktis saat ini. Kesimpulannya, di tengah ancaman siber yang semakin canggih dan beragam, menggunakan alat keamanan yang disediakan oleh Google secara rutin sangatlah penting. Dengan mengutamakan keamanan melalui tools seperti Security Checkup, pengguna Gmail dapat menjaga privasi dan data mereka tetap aman dari tangan jahat di dunia maya.
26 Feb 2026, 03.26 WIB

CISA Terpuruk: Kekurangan Staf dan Kepemimpinan Mengancam Keamanan Siber Nasional

CISA Terpuruk: Kekurangan Staf dan Kepemimpinan Mengancam Keamanan Siber Nasional
CISA, agensi keamanan siber AS yang bertanggung jawab menjaga keamanan jaringan pemerintah dan pemilu, saat ini menghadapi krisis besar akibat pemangkasan staf dan kurangnya kepemimpinan tetap. Sekitar sepertiga karyawannya hilang sejak pemerintahan Trump dimulai, menyebabkan banyak program penting terhenti. Program kontra-ransomware dan keamanan pemilu sangat terdampak, bahkan beberapa anggota tim keamanan pemilu telah keluar. Banyak staf juga dipindahkan untuk membantu operasi imigrasi di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang dianggap mengurangi fokus CISA pada tugas utama mereka. Pemerintahan Trump dianggap bertanggung jawab atas penurunan kondisi ini, terutama karena lebih memprioritaskan kebijakan imigrasi dan mencurigai CISA karena tidak mendukung klaim palsu mengenai hasil pemilu 2020. Pada akhirnya, CISA sekarang beroperasi dengan hanya sekitar 38% staf aslinya. Kepemimpinan CISA juga menjadi masalah karena sejak 2025 tidak ada direktur permanen, dan pelaksana tugasnya, Madhu Gottumukkala, dinilai kurang efektif memimpin. Hal ini memperburuk situasi, terutama selama shutdown pemerintah yang membuat operasi semakin terbatas. Meski begitu, CISA menegaskan komitmennya melindungi jaringan federal dari ancaman siber selama krisis saat ini. Namun, tanpa perbaikan segera dalam pendanaan dan kepemimpinan, keamanan nasional tetap berada dalam risiko besar dari serangan siber dan ancaman lain.
26 Feb 2026, 02.30 WIB

Eksekutif Keamanan Siber L3Harris Dijebloskan Penjara karena Jual Alat Hacking ke Rusia

Eksekutif Keamanan Siber L3Harris Dijebloskan Penjara karena Jual Alat Hacking ke Rusia
Peter Williams, mantan manajer Trenchant di L3Harris, dijatuhi hukuman 87 bulan penjara karena mencuri dan menjual alat peretasan kepada Operation Zero, sebuah firma asal Rusia yang dikenal sebagai broker eksploit berbahaya di dunia. Ia mendapatkan Rp 21.71 miliar ($1,3 juta) dalam bentuk crypto dari penjualan ini selama tahun 2022 hingga 2025. Trenchant adalah divisi yang mengembangkan alat hacking dan pengawasan untuk pemerintah AS dan sekutunya. Alat-alat ini, berupa zero-day exploits, memungkinkan peretas untuk mengeksploitasi celah keamanan di software populer, seperti iPhone, Android, dan browser web, yang biasanya tidak diketahui oleh pengembangnya. Sementara kasus ini berhasil diungkap dan pelaku dihukum, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, termasuk identitas pasti dari alat peretasan yang dicuri, bagaimana alat tersebut disebarkan, dan siapa yang menggunakannya setelah dijual oleh Operation Zero. Seorang pegawai lain di L3Harris yang dituduh dan dipecat oleh Williams akhirnya menjadi korban serangan spyware di iPhone pribadinya setelah kasus ini muncul. Dugaan muncul bahwa serangan tersebut mungkin terkait dengan investigasi FBI atau agen intelijen AS, namun hal ini belum dikonfirmasi secara resmi. Departemen Keuangan AS kemudian menjatuhkan sanksi kepada Operation Zero dan pendirinya, bersama individu terkait seperti anggota grup Trickbot, yang memperkuat posisi pemerintah AS dalam menangani ancaman nasional dari kebocoran alat hacking ini.
13 Feb 2026, 07.00 WIB

RentAHuman.ai: Ketika AI Menyewa Manusia untuk Tugas Dunia Nyata

RentAHuman.ai adalah situs web yang memungkinkan agen kecerdasan buatan untuk menyewa manusia melakukan berbagai tugas dunia nyata yang tidak dapat diselesaikan oleh AI sendiri. Contohnya termasuk menghitung jumlah merpati di suatu taman atau mencoba restoran baru. Situs ini diluncurkan pada awal Februari oleh dua pengembang perangkat lunak, Alexander Liteplo dan Patricia Tani. Platform ini memberitahukan bahwa "robot membutuhkan tubuhmu" dan menyediakan ruang bagi manusia untuk membuat profil keahlian serta menentukan bayaran yang diharapkan untuk tugas tersebut. Lebih dari 450.000 orang sudah mendaftar untuk menawarkan jasa mereka sebagai pekerja nyata bagi agen AI. Beberapa ilmuwan dan profesional juga telah membuat profil di platform ini, menawarkan keahlian di bidang matematika, fisika, biologi, dan pemrograman. Namun, sebagian besar tawaran pekerjaan yang diterima belum relevan atau bahkan berupa pesan spam berbahaya menurut salah satu pengguna terkemuka, insinyur AI David Montgomery. Saat ini, RentAHuman.ai belum banyak menyediakan pekerjaan ilmiah atau riset yang nyata, dan sebagian besar pekerjaan lebih bersifat ringan atau tugas rutin. Platform ini pun belum fokus khusus pada bidang sains atau penelitian, sehingga masih dianggap sebagai konsep yang menarik namun belum optimal. Ke depan, teknologi seperti RentAHuman.ai berpotensi menjadi pasar kerja baru yang menghubungkan AI dan manusia. Namun, perkembangan ini juga menuntut standar keamanan dan etika yang tinggi agar dapat berjalan dengan baik dan aman bagi para pekerjanya.
11 Feb 2026, 18.00 WIB

CEO Teknologi Diam Saat Kekerasan Imigrasi Meningkat, Karyawan Merasa Takut

Situasi kekerasan dan penindakan imigrasi yang dilakukan oleh ICE dan agen federal di Minneapolis serta berbagai kota di AS membuat para pekerja teknologi merasa tertekan dan takut. Walau kekerasan ini memicu protes publik luas, mayoritas CEO perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Google, dan Amazon tetap memilih diam dan tidak mengeluarkan pernyataan yang mendukung karyawan yang terdampak. Karyawan dari berbagai perusahaan teknologi menyampaikan bahwa mereka merasa budaya perusahaan mengarahkan mereka untuk fokus hanya pada pekerjaan mereka dan tidak membahas isu-isu sosial yang penting. Rasa takut kehilangan pekerjaan menyebabkan para pekerja memilih untuk tetap diam meskipun mereka merasa tidak nyaman dengan kebijakan dan kontrak perusahaan mereka dengan lembaga pemerintah seperti ICE. Beberapa petinggi perusahaan seperti CEO Apple Tim Cook dan OpenAI Sam Altman mengirim memo internal yang menyerukan meredakan ketegangan, sementara hanya sedikit pemimpin yang berani mengangkat suara secara publik. Hal ini sangat berbeda dengan aksi kolektif tahun 2018 dan dukungan sebelumnya terhadap gerakan hak-hak warga dan keadilan rasial di bidang teknologi. Ada seruan dari kelompok pekerja dan organisasi seperti ICEout.tech untuk agar perusahaan-perusahaan tersebut mengakhiri kontrak dengan ICE dan menentang kekerasan pemerintah. Petisi dengan ribuan tanda tangan muncul, menuntut langkah nyata dari pimpinan perusahaan untuk menunjukkan sikap mereka secara terbuka dan melindungi karyawannya. Karyawan menyuarakan kekhawatiran mendalam tentang bagaimana teknologi, terutama AI, bisa digunakan sebagai alat penindasan oleh pemerintah yang otoriter. Mereka merasa terjepit antara pekerjaan dan prinsip moral, serta bertanya-tanya masa depan teknologi yang sedang mereka bangun apakah akan membawa ke arah yang lebih baik atau justru dystopian.
11 Feb 2026, 16.14 WIB

Investasi Pemerintah Dorong Perkembangan Obat AI Terobosan di Tiongkok

Pemerintah Tiongkok kini semakin gencar mendukung perusahaan-perusahaan obat yang menggunakan kecerdasan buatan sebagai bagian dari strategi mereka untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing dan membangun ekosistem bioteknologi yang mandiri. Melalui investasi besar dari dana yang berhubungan dengan pemerintah, perusahaan-perusahaan ini dapat berkembang lebih cepat dan mendekati tahap komersialisasi produk. Salah satu perusahaan yang menonjol adalah METiS TechBio, yang berbasis di Hangzhou dan didirikan pada tahun 2020. METiS berhasil membawa produk obat AI mereka, yaitu MTS-004, ke tahap akhir uji klinis fase III. Ini adalah pencapaian penting karena menandai kemajuan nyata teknologi AI dalam pengembangan obat di Tiongkok. Obat MTS-004 yang dikembangkan oleh METiS menggunakan platform AI yang fokus pada pengoptimalan cara pengantaran obat. Obat ini ditargetkan untuk pengobatan gangguan neurologis dan menjadi kandidat obat AI pertama di Tiongkok yang memasuki tahap uji klinis akhir, yang memberikan harapan besar bagi pasar kesehatan nasional. Investasi yang didapat perusahaan ini berasal dari beberapa dana yang berhubungan dengan pemerintah seperti Beijing Medical and Health Industry Investment Fund dan Daxing Industrial Investment Fund. Selain itu, dana dari perusahaan asuransi besar dan investor ventura domestik juga turut memberikan modal sehingga total pendanaan sejak 2022 sudah mencapai ratusan juta dolar AS. Untuk memperbesar modal dan mempercepat pengembangan, METiS juga sedang mempertimbangkan melakukan penawaran umum perdana di Hong Kong yang dapat menarik dana hingga 200 juta dolar AS. Perusahaan berniat mengajukan persetujuan regulasi untuk obat ini di Tiongkok pada tahun ini, menandai langkah lebih dekat ke pemanfaatan komersial.