Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus

Radar Inovasi Harian

Share

Kumpulan artikel yang menyajikan terobosan dan tren terkini di bidang sains, teknologi, pertahanan, serta lingkungan, dilengkapi dengan tips praktis keamanan digital dan finansial. Mulai dari inovasi baterai EV dan reaktor nuklir, hingga penemuan arkeologi dan perubahan iklim, grup ini menawarkan wawasan mendalam bagi pembaca modern.

25 Feb 2026, 03.58 WIB

BAE Systems Tampilkan Sistem Perang Elektromagnetik Modular untuk UAV dan Kendaraan Militer

BAE Systems Tampilkan Sistem Perang Elektromagnetik Modular untuk UAV dan Kendaraan Militer
BAE Systems baru-baru ini mendemonstrasikan sistem serangan elektromagnetik modern yang lebih kecil dan modular untuk mengganggu dan menetralkan pertahanan udara musuh. Sistem ini dirancang untuk digunakan dalam berbagai platform, termasuk pesawat tanpa awak dan kendaraan tempur darat, sehingga meningkatkan fleksibilitas operasional di medan perang. Dalam pengujian bersama dengan Angkatan Udara Amerika Serikat, BAE Systems memamerkan sistem ini di sebuah pesawat uji coba yang menyerupai UAV kelas Grup 4 dan 5, yang menunjukkan kemampuan sistem dalam aplikasi nyata pada pesawat tanpa awak besar dan kompleks. Sistem baru ini menggunakan teknologi yang sama dengan perangkat serangan elektromagnetik berperforma tinggi milik BAE, namun hadir dalam bentuk yang lebih kecil, lebih mudah dikonfigurasi, dan tentu saja lebih terjangkau. Hal ini memungkinkan angkatan bersenjata untuk memiliki jaringan serangan elektromagnetik yang lebih tersebar dan efektif. BAE Systems menyatakan bahwa sistem ini dapat dipasang dalam pod senjata atau dimodifikasi untuk digunakan pada berbagai platform lain, memberikan keuntungan besar dalam hal kemampuan bertempur yang multipurpose sesuai kebutuhan misi dan kemampuan fisik tiap platform. Namun, penting diingat bahwa BAE Systems juga pernah mendapat kritik atas hubungan dagangnya dengan beberapa negara yang memiliki catatan pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi sekalipun selalu membawa pertanyaan etis dalam konteks penggunaannya secara global.
25 Feb 2026, 02.01 WIB

Pemerintah AS Beri Sanksi ke Broker Zero-Day Eksploit Berbahaya

Pemerintah AS Beri Sanksi ke Broker Zero-Day Eksploit Berbahaya
Pemerintah Amerika Serikat baru-baru ini mengumumkan sanksi tegas terhadap dua perusahaan dan beberapa individu yang terlibat dalam perdagangan zero-day exploit. Zero-day exploit adalah celah keamanan dalam perangkat lunak yang belum diketahui pengembangnya dan bisa dimanfaatkan untuk meretas. Perusahaan yang disanksi termasuk Operation Zero dari Rusia dan Special Technology Services yang berasal dari Uni Emirat Arab. Operation Zero, yang didirikan pada 2021, pernah menawarkan harga hingga 20 juta dolar untuk menemukan zero-day di perangkat Android dan iPhone. Mereka juga menawarkan hingga 4 juta dolar untuk celah dalam aplikasi Telegram. Pemerintah AS menuduh Operation Zero bekerja sama dengan pemerintah Rusia dan menggunakan exploit yang dicuri dari perusahaan Amerika untuk menjualnya ke pengguna yang tidak berwenang. Salah satu tokoh penting dalam kasus ini adalah Sergey Zelenyuk, pendiri Operation Zero, yang dicurigai menjual exploit ke agen intelijen asing dan merekrut hacker. Ada juga kaitan dengan penyelidikan FBI terhadap Peter Williams, mantan manajer di perusahaan kontraktor pertahanan AS, L3Harris, yang mengaku bersalah menjual exploit kepada broker Rusia tersebut. Selain itu, pemerintah AS juga menyanksi beberapa individu dan perusahaan rekanan yang diduga mendukung kegiatan perdagangan exploit ini. Salah satu perusahaan rekanan lain yang disanksi adalah Advance Security Solutions, yang juga menawarkan hadiah besar untuk zero-day. Sanksi ini dilakukan berdasarkan undang-undang federal yang memungkinkan tindakan terhadap pencurian rahasia dagang yang signifikan. Langkah pemerintah AS ini adalah bagian dari upaya untuk menjaga keamanan nasional, kebijakan luar negeri, dan stabilitas ekonomi dari ancaman perangkat lunak berbahaya. Masyarakat dan perusahaan teknologi diharapkan lebih waspada terhadap ancaman siber jenis ini yang bisa berdampak luas.
24 Feb 2026, 20.47 WIB

Inovasi Lapisan Superhidrofobik Tahan Air dan Cairan Panas Hingga 90 Derajat

Inovasi Lapisan Superhidrofobik Tahan Air dan Cairan Panas Hingga 90 Derajat
Peneliti dari Rice University berhasil menciptakan lapisan superhidrofobik terbaru yang mampu menolak air panas hampir mendidih hingga suhu 90 derajat Celsius. Masalah umum pada lapisan superhidrofobik sebelumnya adalah kemampuan mereka menurun drastis saat air panas menyentuh permukaan, membuat air menempel dan merusak efektivitas lapisan tersebut. Solusi yang ditemukan adalah menggunakan lapisan dua tingkat, yaitu lapisan bawah yang berfungsi sebagai isolator panas dan lapisan atas superhidrofobik yang memberikan sifat tahan air. Lapisan bawah berupa busa poliuretan yang diaplikasikan dengan cara disemprot untuk memperlambat transfer panas dari tetesan air panas ke permukaan. Lapisan atas adalah lapisan tekstur mikro superhidrofobik yang juga disemprotkan dan bersifat komersial. Rancangan ini mencegah munculnya siklus penguapan dan kondensasi yang biasanya menyebabkan air menembus ke dalam tekstur lapisan dan menanggalkan kemampuan menolak air. Dalam pengujian ketahanan selama seminggu dengan jutaan tetesan air panas, lapisan tradisional gagal dengan cepat sedangkan lapisan MISH bertahan hingga sekitar satu juta tetesan sebelum mulai menurun. Penerapan lapisan MISH diuji di berbagai permukaan besar dan melengkung, serta diuji dengan cairan sehari-hari seperti susu panas, kopi, dan sup kacang polong dengan hasil residu kurang dari 1%. Para peneliti berencana mengembangkan lapisan atas yang lebih tahan lama dan stabil secara termal, serta mengeksplorasi metode pelapisan selain semprot agar teknologi ini bisa lebih banyak diterapkan dalam industri dan kehidupan sehari-hari. Ini merupakan langkah maju signifikan dalam menciptakan permukaan yang selalu kering meski terkena cairan panas.
24 Feb 2026, 01.49 WIB

Masyarakat Amerika Rusak Kamera Pengawas Flock Karena Kekhawatiran Privasi

Masyarakat Amerika Rusak Kamera Pengawas Flock Karena Kekhawatiran Privasi
Teknologi pengawasan semakin meluas di Amerika Serikat dengan hadirnya kamera pembaca plat nomor dari perusahaan startup bernama Flock yang berasal dari Atlanta. Kamera-kamera ini dapat melacak pergerakan kendaraan di seluruh negeri, yang memicu kekhawatiran besar terkait privasi warga. Banyak warga di kota-kota seperti La Mesa di California melakukan tindakan merusak dan membongkar kamera Flock sebagai bentuk protes atas penggunaan teknologi ini. Hal ini terjadi meski pemerintah lokal beberapa kali memutuskan untuk mempertahankan penggunaan kamera tersebut. Flock mengaku tidak langsung membagikan data kepada Imigrasi AS (ICE), tetapi laporan menunjukkan bahwa beberapa departemen kepolisian lokal memberikan akses kamera dan data mereka kepada pihak federal, yang berkontribusi pada operasi penangkapan dan deportasi imigran. Proyek DeFlock mencatat ada hampir 80.000 kamera serupa yang tersebar di berbagai wilayah Amerika Serikat, dengan banyak kota sudah menolak pemakaian perangkat ini. Beberapa kepolisian kota juga melarang pihak federal untuk menggunakan data mereka. Perlawanan warga yang kian meluas ini menunjukkan adanya kekhawatiran serius tentang bagaimana teknologi pengawasan dapat disalahgunakan, terutama dalam konteks kebijakan imigrasi yang ketat dan pelanggaran hak privasi yang berpotensi terjadi.
23 Feb 2026, 23.00 WIB

Kenapa Sistem Label AI di Instagram dan Media Sosial Lain Gagal Lindungi Konten Asli

Kenapa Sistem Label AI di Instagram dan Media Sosial Lain Gagal Lindungi Konten Asli
Seiring teknologi AI berkembang pesat, membuat konten palsu jadi semakin mudah dan hampir tidak bisa dibedakan dengan konten asli. Hal ini mengancam cara kerja media sosial dan kreator yang bergantung pada keaslian dan kepercayaan pengguna. Instagram dan platform lain mencoba menggunakan sistem bernama C2PA untuk menandai konten asli, tapi penerapannya masih belum maksimal dan sulit ditemukan oleh pengguna biasa. C2PA itu sendiri adalah standar untuk melacak asal usul dan keaslian foto, video, atau audio dengan metadata tersembunyi. Teknologi ini didukung oleh banyak perusahaan teknologi besar, tapi masih belum diterima luas oleh banyak produsen kamera dan platform media sosial. Selain itu, metadata tersebut bisa dihapus atau dihilangkan dengan mudah, sehingga tidak bisa menjadi solusi utama untuk melindungi dari deepfake atau konten AI palsu. Meta dan Instagram bahkan menggunakan label AI pada konten yang dianggap palsu, tapi penempatannya sangat tersembunyi dan tidak konsisten, sehingga pengguna tetap kesulitan mempercayai keaslian konten yang mereka lihat. Selain itu, platform populer seperti X (dulu Twitter) telah keluar dari inisiatif C2PA, sehingga mempersulit perlindungan autentikasi pada konten yang sangat cepat menyebar di sana. Di sisi lain, perusahaan pembuat AI masih terus meluncurkan alat-alat generatif baru yang malah semakin banyak membuat konten 'slop' atau sampah AI. Mereka mengambil keuntungan dari konten ini untuk meningkatkan engagement dan pendapatan iklan, menciptakan konflik kepentingan antara menjaga keaslian dan mengembangkan teknologi yang memperburuk penyebaran misinformasi. Karena itu, meskipun teknologi seperti C2PA adalah langkah penting, masih jauh dari cukup dan butuh pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk mendekati siapa yang membuat konten ketimbang hanya konten itu sendiri. Jika tidak, risiko misinformasi dan erosi kepercayaan publik pada media digital akan meningkat semakin besar ke depannya.
23 Feb 2026, 19.53 WIB

LinkerBot Ciptakan Tangan Robot Pintar untuk Kuasai Berjuta Keterampilan Manusia

LinkerBot adalah perusahaan robotika asal China yang didirikan pada tahun 2023 oleh Alex Zhou Yong. Mereka fokus mengembangkan tangan robotik yang sangat canggih dan mampu meniru kemampuan tangan manusia untuk melakukan berbagai tugas dengan presisi dan kelincahan tinggi, dari kebutuhan rumah tangga hingga industri. Perusahaan ini baru-baru ini mengumpulkan dana sebesar Rp 3.62 triliun ($217 juta) dalam putaran pendanaan Seri B dan berniat menggandakan tim riset mereka pada akhir tahun 2026. Saat ini mereka sudah memiliki pelanggan besar seperti Samsung Electronics, University of Hong Kong, dan Stanford University. Model robot tangan mereka, seperti O6 dan seri Linker Hand, memiliki derajat kebebasan yang bervariasi dari 6 hingga 42, mendekati jumlah gerakan tangan manusia. Model O6 yang ringan hanya 370 gram mampu menggenggam benda hingga 50 kg, sementara model L30 mencetak presisi luar biasa dengan ketelitian ±0,2 mm. Selain perangkat keras, LinkerBot mengembangkan LinkerSkillNet, sebuah perpustakaan keterampilan yang memungkinkan robot belajar dan berbagi kemampuan seperti tugas industri dan prosedur medis. Perpustakaan saat ini berisi sekitar 500 keterampilan dan diperkirakan akan terus berkembang pesat. Dengan teknologi ini, LinkerBot berharap robot tangan mereka bisa digunakan untuk membantu kehidupan sehari-hari seperti memasak, memijat, dan kegiatan lain yang biasanya memerlukan keahlian tangan manusia. Ini bisa menjadi terobosan besar dalam mengintegrasikan robot ke dalam masyarakat dan berbagai industri.
23 Feb 2026, 17.53 WIB

Zhipu AI Minta Bantuan Komputasi Global, Saham Turun Drastis

Zhipu AI, perusahaan kecerdasan buatan asal Tiongkok yang terdaftar di Hong Kong, mengalami penurunan saham hampir 23 persen pada hari Senin. Penurunan ini menghapus lebih dari HKRp 1.17 quadriliun ($70 miliar) dari nilai pasar perusahaan. Tekanan ini muncul karena keterbatasan sumber daya komputasi yang mereka miliki dalam menjalankan model AI mereka, GLM. Perusahaan ini sebelumnya mencatat kenaikan saham yang sangat signifikan, bahkan naik lebih dari 380 persen sejak penawaran umum perdana mereka pada 8 Januari. Namun, adanya keluhan dari pengguna terkait kualitas layanan menambah kekhawatiran tentang kemampuan mereka memenuhi permintaan pasar. Sebagai langkah solusi, Zhipu AI secara terbuka mengeluarkan panggilan publik untuk mencari mitra penyedia sumber daya komputasi dari dalam dan luar negeri. Mereka menawarkan skema berbagi pendapatan agar dapat memperkuat infrastruktur teknis yang dibutuhkan untuk menjalankan model AI mereka dengan kapasitas penuh. Ini adalah pertama kalinya sebuah perusahaan AI Tiongkok melakukan tindakan publik semacam ini, yang menandakan tantangan besar dalam mengkomersialkan teknologi AI yang semakin canggih. Permintaan komputasi yang tinggi menjadi hambatan utama yang membatasi ekspansi dan pelayanan terhadap pengguna. Upaya ini menggambarkan realita bahwa di balik antusiasme tinggi pada teknologi AI, perusahaan-perusahaan masih harus menghadapi kendala teknis dan finansial. Ke depan, mereka perlu menjalin kemitraan lebih luas agar bisa berkembang dan memimpin di pasar global.
23 Feb 2026, 15.01 WIB

Fosil Laut Purba di Australia Ungkap Rahasia Penyebaran Amfibi Global 250 Juta Tahun Lalu

Sekitar 250 juta tahun yang lalu, wilayah Kimberley di Australia Barat yang kini berupa padang berdebu adalah teluk dangkal yang menjadi habitat bagi makhluk laut purba. Fosil-fosil dari era itu memberikan gambaran kehidupan bawah laut yang luar biasa beragam pada masa tersebut. Pada awalnya, fosil yang ditemukan di Noonkanbah diidentifikasi sebagai satu jenis makhluk amfibi laut, namun penelitian terbaru menggunakan teknik pencitraan 3D mengungkapkan fakta baru bahwa fosil tersebut terdiri dari minimal dua spesies berbeda. Salah satu spesies adalah Erythrobatrachus, seorang predator besar dengan kepala lebar, dan satunya lagi adalah Aphaneramma, spesialis dengan moncong panjang yang hidup dengan memangsa ikan kecil. Kedua spesies ini hidup berdampingan namun memiliki peran ekologis berbeda. Menariknya, Aphaneramma adalah spesies yang tersebar luas secara global dengan fosil ditemukan di berbagai tempat seperti Arktik, Rusia, Pakistan, dan Madagaskar, yang membuktikan penyebaran mendunia makhluk ini segera setelah kepunahan massal besar. Penemuan ini memperkuat pemahaman bahwa kehidupan laut rebound dengan cepat pasca kepunahan dan beradaptasi untuk mengisi celah ekologis, sekaligus memberikan wawasan baru tentang perjalanan evolusi amfibi laut di era Mesozoikum.
23 Feb 2026, 09.20 WIB

OpenAI Siapkan Investasi Rp10.118 Triliun untuk IPO dan Perluas Kapasitas AI

OpenAI, perusahaan pencipta ChatGPT, mengumumkan rencana ambisius untuk menghabiskan US$ 600 miliar atau sekitar Rp 10.118 triliun dalam belanja komputasi hingga tahun 2030. Langkah ini dilakukan sebagai persiapan OpenAI menghadapi penawaran umum perdana (IPO) di bursa saham di masa mendatang. OpenAI menargetkan valuasi sebesar US$ 1 triliun saat melantai di pasar saham. Pendapatan perusahaan juga diperkirakan akan tumbuh hingga US$ 280 miliar pada tahun 2030, terutama dari layanan untuk konsumen dan bisnis enterprise yang dimiliki OpenAI. Perusahaan saat ini mencatatkan pendapatan sebesar US$ 13 miliar pada tahun 2025, yang sudah melebihi proyeksi sebelumnya sebesar US$ 10 miliar. Biaya operasional mereka pada tahun lalu juga berhasil ditekan menjadi US$ 8 miliar, lebih rendah dibandingkan target awal US$ 9 miliar. Salah satu penopang pendanaan OpenAI adalah Nvidia, yang tengah menyelesaikan komitmen investasi sebesar US$ 30 miliar. OpenAI berupaya menggalang modal segar hingga US$ 100 miliar pada ronde pendanaan terbaru yang diperkirakan akan menaikkan valuasi mereka hingga lebih dari US$ 830 miliar. Seiring dengan investasi besar ini, biaya untuk menjalankan proses inference, yaitu pengolahan data baru oleh model AI yang sudah dilatih, akan meningkat hingga empat kali lipat pada 2025. OpenAI berkomitmen mengembangkan kapasitas komputasi 30 GW, yang setara dengan listrik untuk 25 juta rumah tangga di AS.
23 Feb 2026, 07.00 WIB

Jepang Setujui Obat Stem Cell untuk Parkinson dan Gagal Jantung Meski Data Masih Terbatas

Di Jepang, dua obat baru berbasis teknologi stem cell yang disebut Amchepry dan ReHeart mendapat persetujuan bersyarat oleh kementerian kesehatan. Obat ini dikembangkan menggunakan sel punca pluripoten dari donor yang kemudian diubah menjadi jenis sel khusus untuk mengobati penyakit Parkinson dan gagal jantung. Amchepry digunakan untuk pasien Parkinson dengan cara mengganti sel otak yang rusak dengan sel yang memproduksi dopamin, sedangkan ReHeart berupa patch berisi sel otot jantung yang ditanam pada penderita penyakit jantung iskemik untuk memperbaiki fungsi jantung. Kedua obat ini sudah melalui uji coba kecil dan menunjukkan hasil awal yang positif dan aman. Namun, sejumlah pakar seperti Paul Knoepfler dan Hiroshi Kawaguchi berpendapat data yang ada masih sangat terbatas dan masih terlalu awal untuk memastikan keamanan dan manfaat jangka panjang. Uji klinis lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar dan metode kontrol yang ketat sangat diperlukan. Salah satu keunikan regulasi Jepang adalah persetujuan bersyarat yang memungkinkan obat dijual selama tujuh tahun dengan pengawasan ketat untuk mengamati efek jangka panjangnya. Ini adalah upaya untuk mempercepat akses ke terapi inovatif yang berpotensi menyembuhkan kondisi sulit diobati. Meski ini merupakan kemajuan besar di bidang regeneratif medis, banyak kritik yang mengingatkan perlunya kehati-hatian dan penelitian lebih dalam agar produk yang beredar aman dan benar-benar bermanfaat bagi pasien secara luas.
Sebelumnya
Setelahnya

Baca Juga

  • Radar Inovasi & GeopeoTek

  • Galaksi Inovasi & Kebijakan

  • Arena Kecerdasan Buatan Global

  • Dari Reaktor ke Ramadan

  • Radar Inovasi Harian

  • Teknologi Frontier: Sains, Energi & Keamanan

  • Mengapa Indeks Hang Seng Tech Berkinerja Buruk Sementara Saham AI Melonjak?

  • Spektrum AI: Wearable hingga Data Center

  • Revolusi Tekno-Bisnis 2026

  • Lompatan Teknologi Global