
Courtesy of TheVerge
Kenapa Sistem Label AI di Instagram dan Media Sosial Lain Gagal Lindungi Konten Asli
Menggambarkan masalah besar keaslian konten di era AI generatif, mengevaluasi efektivitas sistem seperti C2PA, dan memperingatkan bahwa solusi saat ini belum cukup untuk melindungi pengguna dari konten palsu dan misinformasi di media sosial.
23 Feb 2026, 23.00 WIB
179 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- AI semakin baik dalam meniru kenyataan, membuat keaslian konten menjadi sulit dibedakan.
- C2PA adalah langkah menuju autentikasi media, tetapi implementasinya masih jauh dari ideal.
- Perusahaan teknologi besar cenderung mengabaikan tanggung jawab mereka dalam mengendalikan penyebaran konten palsu.
Global, berbagai negara - Seiring teknologi AI berkembang pesat, membuat konten palsu jadi semakin mudah dan hampir tidak bisa dibedakan dengan konten asli. Hal ini mengancam cara kerja media sosial dan kreator yang bergantung pada keaslian dan kepercayaan pengguna. Instagram dan platform lain mencoba menggunakan sistem bernama C2PA untuk menandai konten asli, tapi penerapannya masih belum maksimal dan sulit ditemukan oleh pengguna biasa.
C2PA itu sendiri adalah standar untuk melacak asal usul dan keaslian foto, video, atau audio dengan metadata tersembunyi. Teknologi ini didukung oleh banyak perusahaan teknologi besar, tapi masih belum diterima luas oleh banyak produsen kamera dan platform media sosial. Selain itu, metadata tersebut bisa dihapus atau dihilangkan dengan mudah, sehingga tidak bisa menjadi solusi utama untuk melindungi dari deepfake atau konten AI palsu.
Meta dan Instagram bahkan menggunakan label AI pada konten yang dianggap palsu, tapi penempatannya sangat tersembunyi dan tidak konsisten, sehingga pengguna tetap kesulitan mempercayai keaslian konten yang mereka lihat. Selain itu, platform populer seperti X (dulu Twitter) telah keluar dari inisiatif C2PA, sehingga mempersulit perlindungan autentikasi pada konten yang sangat cepat menyebar di sana.
Di sisi lain, perusahaan pembuat AI masih terus meluncurkan alat-alat generatif baru yang malah semakin banyak membuat konten 'slop' atau sampah AI. Mereka mengambil keuntungan dari konten ini untuk meningkatkan engagement dan pendapatan iklan, menciptakan konflik kepentingan antara menjaga keaslian dan mengembangkan teknologi yang memperburuk penyebaran misinformasi.
Karena itu, meskipun teknologi seperti C2PA adalah langkah penting, masih jauh dari cukup dan butuh pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk mendekati siapa yang membuat konten ketimbang hanya konten itu sendiri. Jika tidak, risiko misinformasi dan erosi kepercayaan publik pada media digital akan meningkat semakin besar ke depannya.
Referensi:
[1] https://theverge.com/ai-artificial-intelligence/882956/ai-deepfake-detection-labels-c2pa-instagram-youtube
[1] https://theverge.com/ai-artificial-intelligence/882956/ai-deepfake-detection-labels-c2pa-instagram-youtube
Analisis Ahli
Andy Parsons
"C2PA bukan solusi instan dan hanya mampu menangani beberapa masalah, bukan semua kasus deepfake atau konten palsu."
Ben Colman
"Mengandalkan label dan watermark saja keliru karena alat pembuat konten palsu berkembang sangat cepat dan beragam."
Boot Bullwinkle
"Moderasi lebih efektif jika fokus pada sumber dan konteks konten, bukan hanya konten itu sendiri."
Analisis Kami
"Solusi berbasis metadata seperti C2PA memang langkah awal yang bagus, tetapi terlalu mengandalkan kejujuran ekosistem digital yang sangat luas dan beragam membuatnya sulit berhasil maksimal. Jika platform besar tidak konsisten dan masih mengedepankan keuntungan dari konten AI generatif, masalah autentikasi ini akan terus memburuk dan menurunkan kualitas informasi di internet."
Prediksi Kami
Di masa depan, tanpa regulasi dan adopsi yang lebih ketat dari berbagai platform, konten AI palsu akan semakin merajalela dan sulit dikontrol, memperbesar risiko misinformasi dan erosi kepercayaan publik terhadap media digital.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang dikhawatirkan Adam Mosseri tentang AI?A
Adam Mosseri khawatir bahwa keaslian konten menjadi sulit dibedakan karena AI dapat membuat konten yang tampak nyata.Q
Apa itu C2PA dan bagaimana cara kerjanya?A
C2PA adalah sistem yang digunakan untuk memberikan keaslian pada media digital dengan menambahkan metadata yang tidak terlihat saat pembuatan.Q
Mengapa C2PA dianggap tidak efektif dalam mengatasi masalah deepfake?A
C2PA dianggap tidak efektif karena adopsi yang lambat dan ketidakpastian seputar keaslian media yang diunggah.Q
Apa peran Meta dalam pengembangan teknologi AI dan C2PA?A
Meta berperan dalam pengembangan alat AI tetapi juga dikritik karena terus menghasilkan konten yang berpotensi menyesatkan.Q
Mengapa keberadaan label keaslian media dianggap tidak cukup untuk melindungi pengguna?A
Keberadaan label keaslian media dianggap tidak cukup karena pengguna masih harus mencari dan mengenali label tersebut di berbagai platform.


