Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus

Spektrum AI: Wearable hingga Data Center

Share

Kelompok artikel ini mengulas berbagai dinamika dalam ekosistem teknologi dan kecerdasan buatan: dari redesign cincin pintar Ultrahuman hingga gejolak saham Hong Kong akibat kekhawatiran disrupsi AI. Selain itu, dibahas dominasi teknologi Amerika atas China, eksperimen AI percakapan YouTube di televisi, serta ekspansi kapasitas pusat data AI OpenAI di India.

28 Feb 2026, 09.08 WIB

Investor Besar Kembali Ramaikan Pasar IPO Hong Kong Setelah Empat Tahun Sepi

Investor Besar Kembali Ramaikan Pasar IPO Hong Kong Setelah Empat Tahun Sepi
Selama empat tahun terakhir, pasar IPO di Hong Kong mengalami periode yang relatif sepi dengan sedikit keterlibatan investor cornerstone. Investor seperti Fidelity International yang dulu aktif pada tahun 2021 kini jarang terlihat memberikan dukungan besar dalam penawaran umum perdana perusahaan-perusahaan di Hong Kong. Namun, pada akhir tahun 2025, Fidelity International kembali aktif dengan menjadi investor cornerstone untuk beberapa perusahaan seperti Zijin Gold International yang melakukan listing besar dengan dana sebesar 3,2 miliar dolar AS. Kembalinya Fidelity juga diikuti oleh dukungan terhadap perusahaan seperti HashKey Group, Busy Ming, dan Muyuan Foods. Selain Fidelity, investor global besar lainnya seperti BlackRock, Temasek, dan Qatar Investment Authority mulai menunjukkan minat kembali untuk menjadi cornerstone di beberapa IPO penting. Munculnya kembali aktor-aktor besar ini mengindikasikan adanya pergeseran positif dalam sentimen pasar terhadap Hong Kong. John Lee dari UBS mengatakan bahwa momentum kembalinya investor cornerstone, terutama dari Eropa dan Timur Tengah, sangat kuat dan diharapkan akan berlanjut ke tahun 2026. Selain itu, investor dari Amerika Serikat dan Singapura juga mulai tampil dalam dukungan IPO, terutama di sektor konsumsi, industri, dan teknologi tinggi. Kembalinya investor cornerstone besar ini memberikan sinyal bahwa Hong Kong sedang kembali memperkuat posisinya sebagai pasar modal utama di Asia. Dengan meningkatnya dukungan dari berbagai fund internasional, kemungkinan besar transaksi IPO dan nilai investasi di Hong Kong akan meningkat signifikan dalam waktu dekat.
27 Feb 2026, 18.00 WIB

Ultrahuman Luncurkan Ring Pro dengan Baterai Tahan Lama dan AI Kesehatan Real-Time

Ultrahuman Luncurkan Ring Pro dengan Baterai Tahan Lama dan AI Kesehatan Real-Time
Ultrahuman baru-baru ini meluncurkan Ring Pro, generasi ketiga dari cincin pintarnya yang menawarkan daya tahan baterai hingga 15 hari, meningkat signifikan dibandingkan model sebelumnya yang hanya bertahan 4 sampai 6 hari. Produk ini hadir dengan desain baru untuk mematuhi keputusan hukum terkait sengketa paten dengan rival Oura, yang memblokir impor produk Ultrahuman ke Amerika Serikat. Sengketa paten yang menyebabkan gangguan bisnis Ultrahuman di pasar AS terjadi pada Oktober 2025, ketika Komisi Perdagangan Internasional AS memutuskan mendukung Oura. Sebagai langkah penanggulangan, Ultrahuman mengajukan desain Ring Pro yang berbeda untuk mendapatkan izin legal impor, dan tengah menunggu persetujuan dari otoritas bea cukai AS. Selain memperkenalkan Ring Pro, Ultrahuman juga meluncurkan Jade, sebuah sistem biointelligence yang dapat menganalisis data kesehatan secara real-time. Sistem ini memberikan saran dan rekomendasi tindakan kesehatan yang dapat langsung diambil pengguna tanpa memerlukan langganan tambahan, berbeda dengan alat AI lain yang hanya menampilkan data secara retrospektif. Meskipun penjualan terdampak di AS, Ultrahuman tetap menjalankan bisnis dengan pendapatan tahunan sekitar Rp 2.50 triliun ($150 juta) dan mengalami pertumbuhan pengguna aktif sekitar 700 ribu setiap hari. Produk tambahan, seperti pengisi daya Pro yang mendukung pengisian nirkabel dan fitur baru di Ring Pro seperti prosesor dual-core dan penyimpanan data hingga 250 hari, semakin memperkuat ekosistem dan layanan mereka. Pasar global untuk cincin pintar tumbuh pesat, dengan Oura memimpin dan Ultrahuman menempati posisi kedua. Ultrahuman fokus pada pasar utama seperti Inggris, Kanada, Australia, dan India, serta terus berinvestasi untuk meningkatkan kapasitas produksi agar dapat memenuhi permintaan konsumen yang meningkat pada produk Ring Pro dan layanan kesehatan berbasis langganan.
27 Feb 2026, 09.14 WIB

Kekhawatiran AI Guncang Pasar Saham Tradisional di Asia

Kekhawatiran AI Guncang Pasar Saham Tradisional di Asia
Pasar saham di Asia mengalami tekanan bulan ini karena kekhawatiran tentang dampak gangguan teknologi kecerdasan buatan (AI) pada industri tradisional. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 3,2 persen dalam bulan ini, yang merupakan penurunan paling tajam sejak Oktober. Sentimen investor tampak terpengaruh oleh ketidakpastian bagaimana AI akan mengubah berbagai sektor bisnis di masa depan. Meski indeks utama mengalami penurunan, indeks Hang Seng Tech berhasil naik 0,9 persen. Ini menunjukkan bahwa saham-saham teknologi tertentu masih mendapat minat dari investor. Namun, di pasar lain seperti Tiongkok, indeks CSI 300 dan Shanghai Composite menunjukkan kecenderungan menurun, mencerminkan kecemasan yang meluas di kalangan pelaku pasar. Perusahaan besar seperti Sun Hung Kai Properties mencatatkan kenaikan keuntungan besar sebesar 36 persen di semester pertama tahun ini, yang mendorong sahamnya naik 5,4 persen. Sementara itu, CK Asset Holdings juga mencatat kenaikan saham setelah memutuskan menjual unit distributor listrik di Inggris, menunjukkan bahwa beberapa perusahaan masih menunjukkan kinerja positif meskipun pasar sedang tertekan. Ketidakpastian tentang AI juga membuat saham global lainnya, seperti di Jepang dan Korea Selatan, turut melemah. Indeks Nikkei 225 turun 0,7 persen dan Kospi Korea Selatan turun 2,1 persen. Sementara itu, pasar Australia relatif stabil namun tanpa kenaikan signifikan, mencerminkan kehati-hatian investor secara luas. Secara keseluruhan, meskipun ada bukti kinerja kuat dari perusahaan-perusahaan tertentu seperti Nvidia, kekhawatiran bahwa AI dapat menggantikan atau mengganggu bisnis tradisional membuat investor tetap waspada. Pasar menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai dampak jangka panjang AI terhadap berbagai sektor industri.
20 Feb 2026, 18.44 WIB

7 Teknologi Kunci yang Buat Amerika Serikat Tetap Unggul dari China

7 Teknologi Kunci yang Buat Amerika Serikat Tetap Unggul dari China
Pertarungan antara Amerika Serikat dan China dalam teknologi semakin intens, terutama di bidang kecerdasan buatan dan teknologi tinggi lainnya. Meskipun China terus berkembang pesat, AS masih memegang posisi kuat dalam berbagai bidang teknologi yang sangat penting untuk masa depan global. AS unggul dalam desain semikonduktor, termasuk chip dan perangkat lunak penunjangnya. Perusahaan seperti NVIDIA dan Intel memimpin dalam inovasi chip canggih, sementara China masih mengejar ketertinggalan dalam produksi massal teknologi ini. Selain itu, AS memimpin dalam pengembangan komputasi kuantum dan teknologi kesehatan seperti vaksin modern, serta pengobatan nuklir. Perusahaan dan institusi AS mengembangkan teknologi tingkat lanjut yang menjadi standar utama dunia. Dalam bidang neuroprostetik dan antarmuka otak-komputer, perusahaan seperti Neuralink memajukan teknologi yang menghubungkan otak manusia dengan komputer. AS juga unggul dalam teknologi bahasa alami dan AI generatif dengan pemain besar seperti OpenAI dan Google. Sektor luar angkasa juga menjadi kekuatan AS melalui perusahaan seperti SpaceX yang meluncurkan satelit kecil secara masif. Semua keunggulan ini menunjukkan bahwa AS masih memegang kendali atas teknologi penting yang akan menentukan masa depan geopolitik dan ekonomi global.
20 Feb 2026, 03.30 WIB

YouTube Hadirkan Fitur AI Percakapan Langsung di TV Pintar dan Streaming

YouTube Hadirkan Fitur AI Percakapan Langsung di TV Pintar dan Streaming
YouTube baru-baru ini mengembangkan fitur kecerdasan buatan (AI) percakapan yang memungkinkan pengguna bertanya tentang konten video langsung dari layar TV mereka. Sebelumnya, fitur ini hanya tersedia di perangkat mobile dan web namun kini diperluas ke TV pintar, konsol game, dan perangkat streaming. Dengan fitur ini, penonton bisa menanyakan hal-hal terkait video tanpa harus menghentikan pemutaran, seperti bahan resep atau latar belakang lagu. Fitur 'Ask' tersedia melalui tombol di layar TV dan dapat digunakan dengan mikrofon remote control, mendukung bahasa Inggris, Hindi, Spanyol, Portugis, dan Korea. Saat ini fitur ini dibatasi untuk pengguna berusia 18 tahun ke atas dan masih dalam tahap eksperimen bagi pengguna terpilih. Perluasan ini dilakukan karena semakin banyak orang yang mengakses YouTube lewat TV di rumah masing-masing. Selain YouTube, perusahaan lain seperti Amazon dengan Alexa+, Roku, dan Netflix juga mulai menawarkan fitur AI percakapan yang membantu pengguna mencari informasi tentang film dan konten favorit mereka lebih interaktif. Persaingan teknologi di ruang keluarga ini membuka era baru dalam menikmati hiburan yang lebih personal dan informatif. YouTube tidak hanya fokus pada AI percakapan, tapi juga meluncurkan sejumlah fitur AI lain seperti peningkatan kualitas video dari resolusi rendah ke HD, serta fitur yang merangkum komentar video untuk membantu penonton mengikuti diskusi tanpa harus membaca semuanya. Fitur pencarian berbasis AI juga sedang diuji coba untuk hasil yang lebih relevan. Lebih jauh lagi, YouTube menghadirkan aplikasi khusus untuk Apple Vision Pro, memungkinkan pengguna menonton video di layar virtual raksasa yang imersif. Inovasi-inovasi ini menunjukkan ambisi YouTube dalam memasuki masa depan hiburan digital yang semakin canggih dan terintegrasi dengan teknologi AI di berbagai perangkat.
19 Feb 2026, 12.34 WIB

OpenAI Gandeng Tata Group Bangun Data Center AI Terbesar di India

OpenAI membuat terobosan baru di India dengan menggandeng Tata Group untuk membangun data center khusus AI dengan kapasitas awal 100 megawatt, yang akan ditingkatkan hingga 1 gigawatt. Langkah ini bertujuan menyediakan infrastruktur teknologi yang kuat bagi pengembangan AI di salah satu pasar terbesar dunia. Dengan infrastruktur data center lokal ini, OpenAI bisa menjalankan model-model AI canggih secara langsung di India, yang mengurangi waktu respons dan memastikan bahwa data pengguna tetap aman dan memenuhi regulasi lokal, terutama bagi perusahaan dan instansi pemerintah yang membutuhkan standar keamanan tinggi. Tata Consultancy Services (TCS) akan menjadi pengguna utama fasilitas ini, mulai menerapkan ChatGPT Enterprise untuk bawahannya sebanyak ratusan ribu karyawan. TCS juga akan memanfaatkan tools khusus dari OpenAI untuk mempersiapkan pengembangan software yang fokus pada teknologi AI. Investasi untuk pembangunan data center HyperVault mencapai sekitar ₹180 miliar (sekitar Rp 33.40 triliun ($2 miliar) ) dan didukung oleh dana dari firma investasi TPG. Pengembangan ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia dalam hal kapasitas infrastruktur AI yang disiapkan untuk pasar India. Selain aspek infrastruktur, OpenAI juga memperluas program sertifikasi AI di India untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja di era kecerdasan buatan. Perusahaan ini juga akan membuka kantor baru di Mumbai dan Bengaluru guna mendukung ekspansi bisnis dan kemitraan lokal di masa depan.

Baca Juga

  • Dari Reaktor ke Ramadan

  • Radar Inovasi Harian

  • Teknologi Frontier: Sains, Energi & Keamanan

  • Mengapa Indeks Hang Seng Tech Berkinerja Buruk Sementara Saham AI Melonjak?

  • Spektrum AI: Wearable hingga Data Center

  • Revolusi Tekno-Bisnis 2026

  • Lompatan Teknologi Global

  • Jejak Teknologi Masa Depan

  • Robot humanoid tampilkan kung fu mabuk dengan nunchaku di Gala Musim Semi China

  • Gelombang Teknologi Pintar