
Pasar saham di Asia mengalami tekanan bulan ini karena kekhawatiran tentang dampak gangguan teknologi kecerdasan buatan (AI) pada industri tradisional. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 3,2 persen dalam bulan ini, yang merupakan penurunan paling tajam sejak Oktober. Sentimen investor tampak terpengaruh oleh ketidakpastian bagaimana AI akan mengubah berbagai sektor bisnis di masa depan.
Meski indeks utama mengalami penurunan, indeks Hang Seng Tech berhasil naik 0,9 persen. Ini menunjukkan bahwa saham-saham teknologi tertentu masih mendapat minat dari investor. Namun, di pasar lain seperti Tiongkok, indeks CSI 300 dan Shanghai Composite menunjukkan kecenderungan menurun, mencerminkan kecemasan yang meluas di kalangan pelaku pasar.
Perusahaan besar seperti Sun Hung Kai Properties mencatatkan kenaikan keuntungan besar sebesar 36 persen di semester pertama tahun ini, yang mendorong sahamnya naik 5,4 persen. Sementara itu, CK Asset Holdings juga mencatat kenaikan saham setelah memutuskan menjual unit distributor listrik di Inggris, menunjukkan bahwa beberapa perusahaan masih menunjukkan kinerja positif meskipun pasar sedang tertekan.
Ketidakpastian tentang AI juga membuat saham global lainnya, seperti di Jepang dan Korea Selatan, turut melemah. Indeks Nikkei 225 turun 0,7 persen dan Kospi Korea Selatan turun 2,1 persen. Sementara itu, pasar Australia relatif stabil namun tanpa kenaikan signifikan, mencerminkan kehati-hatian investor secara luas.
Secara keseluruhan, meskipun ada bukti kinerja kuat dari perusahaan-perusahaan tertentu seperti Nvidia, kekhawatiran bahwa AI dapat menggantikan atau mengganggu bisnis tradisional membuat investor tetap waspada. Pasar menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai dampak jangka panjang AI terhadap berbagai sektor industri.