
Penelitian terbaru mengungkap bahwa butiran beras memiliki kemampuan unik untuk berubah kekuatan tergantung pada seberapa cepat mereka dikompresi. Saat mendapatkan tekanan lambat, beras tetap kuat, namun saat tekanan cepat, beras menjadi lebih lemah karena gesekan antar butiran berkurang. Fenomena ini disebut rate softening dan memberikan inspirasi untuk pengembangan material baru.
Para ilmuwan menggunakan sifat beras ini untuk menciptakan metamaterial, yaitu material yang dirancang untuk berperilaku berbeda dari bahan alami biasa. Dengan menggabungkan beras dan bahan granular lain seperti pasir yang justru menguat saat dimuat cepat, mereka membuat material yang bisa lentur, kaku, atau bahkan menekuk otomatis tergantung tekanan dan kecepatan beban.
Keistimewaan metamaterial ini adalah tidak membutuhkan sensor, elektronik, atau perangkat kontrol untuk beradaptasi. Fisikanya sendiri yang mengendalikan responnya, membuat teknologi ini sangat efisien dan praktis untuk aplikasi seperti robot lunak yang bisa lebih ringan, aman, dan fleksibel dibanding robot berbahan logam dan mekanisme rumit.
Selain membantu kemajuan robotik, material ini juga berpotensi besar digunakan dalam alat pelindung tubuh seperti helm atau pelindung lutut yang dapat menyesuaikan kekuatan perlindungan sesuai kecepatan benturan. Ini dapat mengurangi risiko cedera dengan cara yang lebih natural dan otomatis.
Penelitian ini menunjukkan bahwa bahan sehari-hari seperti beras dan pasir dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sistem pintar yang merespon gaya dan kecepatan secara alami. Temuan ini membuka jalan bagi pengembangan mesin adaptif dan perlengkapan pelindung inovatif di masa depan tanpa perlu teknologi elektronik yang rumit.