Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus

AI: Konflik & Inovasi

Share

Serangkaian artikel ini membahas dinamika sengit dan inovasi di dunia AI, mulai dari perseteruan korporasi seperti Anthropic vs Pentagon, kesepakatan besar Meta-AMD, hingga tantangan teknologi dan regulasi global. Juga diulas perkembangan terdepan model AI, startup potensial, aplikasi baru seperti LLM yang dapat dijelaskan, serta kompetisi geopolitik antara AS, China, dan Uni Emirat Arab. Tidak ketinggalan, sorotan pada kekhawatiran tentang kualitas output AI ("slop") dan dampaknya bagi industri kreatif serta pasar modal.

27 Feb 2026, 20.30 WIB

Perplexity Computer: AI yang Bisa Operasikan Software dan Selesaikan Tugas Kompleks

Perplexity Computer: AI yang Bisa Operasikan Software dan Selesaikan Tugas Kompleks
Perplexity AI baru-baru ini memperkenalkan Perplexity Computer, sebuah sistem AI yang unik karena tidak hanya menjawab pertanyaan tetapi juga bisa menjalankan perangkat lunak secara langsung. Sistem ini menggabungkan banyak model AI untuk memahami, merancang, dan mengeksekusi berbagai tugas yang biasanya dilakukan manusia secara manual dalam komputer. Perplexity Computer bisa bekerja dengan antarmuka perangkat lunak yang biasa dipakai pemakai, seperti web, desktop, dan API. Sistem ini dapat membaca tampilan layar, memahami langkah-langkah tugas yang diperlukan, dan menangani kesalahan atau kondisi tak terduga sambil menjaga konteks agar tidak kehilangan informasi yang penting selama proses. Pendekatan yang dilakukan berbeda dari meningkatkan ukuran model AI semata. Perplexity mengutamakan orkestrasi atau koordinasi antar model spesialis yang berbeda, misalnya model bahasa untuk logika, model visi untuk mengerti tampilan, dan sistem memori untuk menyimpan kondisi sesi, sehingga dapat menyelesaikan tugas dalam waktu yang lama secara otomatis. Ini menandai pergeseran tren di industri AI, dari asisten yang hanya memberi saran menjadi agen digital yang operasional dan dapat bekerja penuh dalam aplikasi bisnis nyata. Tantangannya antara lain menjaga kepercayaan, keamanan, dan kontrol agar AI dapat dipercaya menyelesaikan workflow kompleks tanpa supervision ketat. Saat ini Perplexity Computer tersedia untuk pelanggan tingkat Max dan Enterprise Max, tanpa rincian akses lebih luas. Perkembangan ini menandai bahwa frontier AI selanjutnya bukan hanya model besar, tapi bagaimana memadukan banyak model yang berbeda agar efektif dalam menyelesaikan problem dunia nyata.
27 Feb 2026, 20.15 WIB

Sophia Space Kembangkan Komputer AI Hemat Energi dan Dingin di Orbit

Sophia Space Kembangkan Komputer AI Hemat Energi dan Dingin di Orbit
Di bumi, menjalankan kecerdasan buatan membutuhkan banyak energi dan menghasilkan panas yang harus didinginkan dengan menggunakan air atau kipas, yang membuatnya menjadi sumber daya yang boros terutama untuk pendinginan. Sophia Space, startup dari Pasadena, Amerika Serikat, berusaha mengatasi masalah ini dengan memindahkan komputasi AI ke ruang angkasa, di mana suhu dingin dan vakum dapat dimanfaatkan untuk mengelola panas dengan lebih efisien. Sophia Space baru saja mendapat pendanaan senilai 10 juta dolar AS untuk mengembangkan teknologi khusus yang dinamakan platform TILE dan sistem manajemen termal pasif. Teknologi ini memungkinkan komputer untuk mendinginkan dirinya sendiri di lingkungan ruang hampa yang ekstrem tanpa perlu pendinginan aktif seperti di bumi. Perusahaan ini merancang perangkat keras khusus yang tahan terhadap radiasi kosmik dan perubahan suhu yang besar di orbit, serta menggabungkan panel surya untuk memanfaatkan energi secara optimal. Desain modular mereka menggunakan rak server berukuran satu meter yang dilengkapi dengan teknologi penyebaran panas pasif, sehingga efisiensi penggunaan energi mencapai 92 persen. Dengan teknologi ini, Sophia Space menargetkan dapat membangun pusat data modular yang besar di bulan 2030-an, yang dapat memberikan daya komputasi hingga 1 MW. Ini akan sangat berguna untuk berbagai aplikasi seperti pengamatan bumi dari luar angkasa, pertahanan nasional, serta respons bencana dengan waktu nyata dan latensi yang sangat rendah. Keberhasilan proyek ini diharapkan dapat merevolusi cara data besar dan kecerdasan buatan diproses, memungkinkan ekosistem luar angkasa berkembang lebih cepat dan memberi dukungan kuat bagi misi kritis di Bumi, sekaligus mengatasi keterbatasan infrastruktur komputasi saat ini di permukaan bumi.
27 Feb 2026, 20.00 WIB

Memperbaiki Kepercayaan untuk Masa Depan Smartglasses dan AI di Dunia Nyata

Memperbaiki Kepercayaan untuk Masa Depan Smartglasses dan AI di Dunia Nyata
Teknologi baru seperti smartglasses dan Large Language Models (LLM) sedang mengalami tantangan besar akibat menurunnya kepercayaan masyarakat. Kabar negatif tentang fitur baru dan pengalaman pribadi menggunakan informasi dari AI yang ternyata salah menjadi contoh nyata bagaimana kepercayaan ini bisa runtuh. Masyarakat mulai meragukan kebenaran informasi dan cara teknologi mempengaruhi keputusan mereka. Anat Baron, seorang futuris dan pembicara AI, menjelaskan fenomena 'authority drift' di mana AI terdengar sangat percaya diri sehingga orang cenderung mempercayai outputnya tanpa verifikasi. Hal ini berbahaya karena manusia bisa saja melepaskan tanggung jawab pribadi dan mulai bergantung penuh pada AI, meskipun AI tersebut bisa saja salah. Dalam konteks smartglasses, yang dirancang untuk memberikan informasi real-time langsung ke mata pengguna, kepercayaan menjadi kunci agar teknologi ini bisa diterima. Namun, pengguna smartglasses sering mendapat reaksi negatif, apalagi ketika mereka merekam di tempat publik tanpa izin yang jelas. Ini memunculkan usulan untuk membuat rekaman yang dilakukan lebih transparan, seperti penggunaan lampu perekam yang lebih terang dan meminta izin sebelum merekam. Pendekatan yang diusulkan oleh Anat Baron adalah 'Human + AI Equation', yaitu memastikan ada pembagian peran yang jelas antara manusia dan AI dalam pengambilan keputusan. Manusia harus tetap memiliki kontrol dan bertanggung jawab untuk mengawasi dan memverifikasi setiap keputusan yang dipengaruhi atau dihasilkan AI agar kepercayaan tidak terkikis. Kesimpulannya, untuk memastikan teknologi canggih ini membawa manfaat nyata dan diterima masyarakat, diperlukan kesadaran akan keterbatasan AI dan perlunya transparansi dalam penggunaannya. Kebiasaan memeriksa sumber informasi secara langsung harus tetap dijaga, dan norma-norma etis terutama dalam penggunaan smartglasses harus dikembangkan bersama agar teknologi bisa berjalan selaras dengan nilai kemanusiaan.
27 Feb 2026, 15.27 WIB

Aksi Nasional Soroti Bahaya Pertumbuhan Cepat Pusat Data Terhadap Lingkungan Inggris

Aksi Nasional Soroti Bahaya Pertumbuhan Cepat Pusat Data Terhadap Lingkungan Inggris
Komunitas dan aktivis di seluruh Inggris menggelar dua hari aksi untuk memperingatkan bahaya yang ditimbulkan oleh pesatnya pembangunan pusat data. Kegiatan ini termasuk aksi jalan kaki dan diskusi online, bertujuan agar masyarakat dan pemerintah lebih menyadari dampak lingkungan dan sosial dari infrastruktur tersebut. Parlemen Inggris kini ikut menanggapi dengan membuka penyelidikan dampak penggunaan energi dan air oleh pusat data terhadap target pemerintah mencapai net zero. Para anggota parlemen, dipimpin oleh Toby Perkins, mengingatkan pentingnya evaluasi matang sebelum memberikan izin pengembangan pusat data secara masif. Aktivis dari Global Action Plan dan kelompok lain mengkritik bahwa kepentingan industri teknologi besar terlalu dominan, sementara suara komunitas lokal sering diabaikan. Mereka menilai pembangunan tanpa batas pusat data dapat mengorbankan energi dan air yang dibutuhkan oleh masyarakat dan merusak iklim. Menurut ahli sustainability Angela Hultberg dari Kearney, pusat data hyperscale dapat mengonsumsi air setara kebutuhan 80.000 orang, terutama di wilayah dengan ketersediaan air terbatas seperti Inggris tenggara. Untuk mengurangi dampak, disarankan memindahkan pusat data ke tempat dengan iklim lebih dingin dan curah hujan tinggi, misalnya Skotlandia. Meskipun ada kekhawatiran, beberapa pihak seperti Maksim Sonin dari Stanford University menganggap bahwa kemajuan teknologi memungkinkan pusat data dibangun dekat sumber energi baru yang lebih bersih. Bahkan teknologi data center terapung yang berjalan sendiri menggunakan energi terbarukan dan nuklir sedang dikembangkan untuk masa depan yang lebih hijau.
27 Feb 2026, 13.50 WIB

AI dan Kreativitas: Bagaimana Teknologi Membuka Peluang Baru bagi Para Kreator

AI dan Kreativitas: Bagaimana Teknologi Membuka Peluang Baru bagi Para Kreator
Seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI), kreativitas dalam industri hiburan mengalami perubahan besar. Alih-alih menggantikan manusia, AI kini berfungsi sebagai alat kolaborasi yang membantu para seniman dan kreator mengeksplorasi ide lebih cepat dan luas. Proyek Sound Drive, misalnya, memanfaatkan AI untuk menciptakan musik yang berubah sesuai cara pengguna mengemudi, memperlihatkan bagaimana teknologi bisa menghasilkan pengalaman baru yang dinamis dan personal. Manon Dave, Head of Future World Design di BBC R&D, memberikan perspektif penting tentang peran AI dalam proses kreatif. Dia menekankan bahwa teknologi seperti synthesizer dan AutoTune sebelumnya sempat ditakuti, namun kini menjadi alat penting dalam musik. AI juga diharapkan mengurangi pekerjaan membosankan seperti finishing dan iterasi, sehingga kreator bisa lebih fokus pada ideasi dan eksplorasi imajinatif. Meskipun demikian, tantangan besar masih ada, terutama soal atribusi dan penggunaan data pelatihan AI. Saat ini belum ada sistem efektif untuk melacak siapa yang berkontribusi dalam data yang digunakan AI, sehingga risiko ketidakadilan dan eksploitasi tinggi. BBC terlibat dalam pengembangan protokol C2PA yang mengedepankan transparansi dan verifikasi sumber karya untuk melindungi kreator. Ke depan, Dave memprediksi hiburan akan menjadi lebih personal dan adaptif, tidak sekadar mengandalkan rekomendasi otomatis, tapi menciptakan pengalaman yang disesuaikan dengan preferensi dan kebutuhan tiap individu. Teknologi akan berkembang menjadi lingkungan personal yang menyenangkan dan membantu, bukan mengganggu, sehingga pengguna merasa mendapat manfaat nyata dari AI. Pesan utama dari Dave kepada para calon seniman adalah supaya mereka menggabungkan keterampilan mendalam dengan rasa ingin tahu terhadap teknologi baru, seperti AI. Dengan sikap terbuka dan kreatif, mereka dapat memanfaatkan AI sebagai alat pengembang bakat mereka. Sikap ini akan menjadi pembeda di tengah kemudahan akses menghasilkan konten pas-pasan secara otomatis.
27 Feb 2026, 06.19 WIB

CEO Anthropic Tolak Permintaan Pentagon Untuk Akses Bebas ke AI Militer

Anthropic adalah sebuah perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) yang kini menghadapi tekanan dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DOD). Mereka ingin mendapatkan akses penuh tanpa batasan ke sistem AI yang dikembangkan oleh Anthropic untuk keperluan militer. Namun, CEO Anthropic, Dario Amodei, menolak permintaan tersebut. Ia mengungkapkan keprihatinannya terkait penggunaan AI yang dapat mengancam nilai-nilai demokrasi, terutama dalam dua kasus utama: pengawasan massal terhadap warga dan penggunaan senjata yang sepenuhnya otonom tanpa campur tangan manusia. Departemen Pertahanan memberikan sebuah ultimatum kepada Anthropic, meminta mereka untuk setuju dengan permintaan akses tanpa batas atau menghadapi konsekuensi. Konsekuensi tersebut termasuk kemungkinan Anthropic dicap sebagai risiko rantai pasokan yang biasanya ditujukan untuk musuh asing, atau bisa juga pemerintahan menggunakan Defense Production Act (DPA) untuk memaksa Anthropic memenuhi permintaan. DPA adalah undang-undang yang memungkinkan pemerintah mengatur produksi perusahaan demi kepentingan pertahanan nasional. Dario Amodei menanggapi kedua ancaman ini dengan menunjukkan kontradiksi di dalamnya. Ia berkata bahwa pemerintah sekaligus mencap Anthropic sebagai ancaman keamanan dan juga menganggap teknologi mereka sangat penting bagi keamanan nasional. Meskipun begitu, Anthropic tetap membuka kesempatan untuk membantu militer dengan syarat adanya batasan tertentu, terutama untuk melindungi nilai-nilai demokrasi dan memastikan penggunaan teknologi yang aman. Selain Anthropic, DOD juga sedang menyiapkan xAI sebagai alternatif jika kerja sama dengan Anthropic berakhir. Amodei menegaskan bahwa jika pemerintah memutuskan untuk memutus kontrak dengan Anthropic, perusahaan mereka akan memastikan proses transisi yang lancar agar berbagai operasi dan misi militer tidak terganggu. Ini menunjukkan itikad baik Anthropic untuk tetap profesional meski menghadapi tekanan keras. Keputusan Anthropic untuk menolak permintaan pemerintah ini menjadi bagian dari perdebatan global lebih luas tentang bagaimana teknologi AI harus digunakan, terutama di bidang militer. Sikap Tegas ini juga menandakan perlunya regulasi dan batasan etika dalam pengembangan teknologi AI, agar tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat dan nilai-nilai demokrasi yang dijunjung tinggi.
27 Feb 2026, 05.23 WIB

Bahaya Penggunaan Bukti Video Tanpa Ahli Forensik di Era AI

Seorang pria bernama Gerald Benn dipenjara lebih dari lima tahun atas tuduhan pembunuhan ganda yang sebenarnya tidak dilakukannya. Kesalahan ini terjadi karena hakim di tingkat pengadilan melihat rekaman video pengawasan yang kabur dan memutuskan bahwa sosok di video itu adalah pelaku tanpa menggunakan metode forensik video yang benar. Tidak ada ahli forensik video yang dilibatkan atau metodologi ilmiah yang dipakai untuk membantu menilai rekaman tersebut. Pengadilan banding Alberta kemudian membatalkan vonis hukuman terhadap Benn setelah menemukan 'cacat serius' pada cara hakim sebelumnya menilai rekaman CCTV. Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya keahlian profesional dan standar yang ketat dalam menilai bukti video yang sering dipakai dalam sistem hukum saat ini. Namun, sayangnya, di banyak negara termasuk Amerika Serikat, belum ada standar federal yang wajib bagi evaluasi bukti video. Dalam era digital sekarang, lebih dari 80 persen kasus hukum di AS menggunakan bukti video, namun belum diatur secara jelas bagaimana bukti tersebut harus dianalisis secara ilmiah. Bahkan standar dari lembaga seperti NIST masih berupa usulan dan belum menjadi kewajiban. Kondisi ini berbahaya karena kemampuan teknologi AI untuk membuat atau memanipulasi rekaman video semakin maju, sehingga video yang tampak nyata bisa saja palsu. Penelitian menunjukkan bahwa memberi konteks yang sudah memihak dapat membuat ahli forensik video menggambar kesimpulan yang salah, dan ini memperkuat pentingnya proses yang tepat dalam analisis video, termasuk urutan kerja yang benar agar tidak terpengaruh bias. Kasus Benn dan beberapa kasus lain memperlihatkan bahwa banyak kesalahan dalam penilaian bukti video berasal dari kurangnya metode ilmiah dan supervisi yang memadai. Untuk menghindari kesalahan fatal di masa depan, pengacara harus selalu melibatkan ahli forensik video yang berkualitas dalam kasus yang melibatkan bukti digital, dan institusi hukum harus menetapkan standar yang wajib diikuti. Di tengah kemajuan teknologi AI, hanya dengan metode yang benar dan profesionallah keadilan bisa ditegakkan, tidak cukup hanya mengandalkan pengamatan biasa.
27 Feb 2026, 03.11 WIB

Meta dan Prada Bersiap Luncurkan Kacamata AI Mewah di Milan

Mark Zuckerberg dan istrinya Priscilla Chan terlihat duduk di barisan depan fashion show Prada Fall/Winter 2026 di Milan, yang memicu spekulasi adanya kolaborasi antara Meta dan Prada untuk kacamata AI versi mewah. Interaksi Zuckerberg dengan Lorenzo Bertelli, pejabat di Prada, menambah ketertarikan publik terhadap kemungkinan ini. Meta sebelumnya telah sukses dengan produk kacamata AI mereka yang berkolaborasi dengan EssilorLuxottica, pembuat kacamata Ray-Ban dan Oakley. Penjualan kacamata AI meningkat pesat hingga lebih dari 7 juta unit di tahun 2025, menunjukkan potensi pasar yang besar bagi perangkat wearable berbasis AI. Prada dan EssilorLuxottica baru saja memperpanjang kontrak lisensi mereka selama 10 tahun, membuka peluang bagi kemunculan kacamata AI Prada yang berkelas dan eksklusif. Hal ini memungkinkan Meta untuk memperluas jangkauan produk AI mereka dan masuk ke pasar fashion mewah yang belum tergarap oleh Ray-Ban dan Oakley. Namun, perangkat AI seperti kacamata ini juga menghadapi tantangan serius dari sisi privasi dan etika. Ada kekhawatiran masyarakat terhadap perangkat yang dapat digunakan untuk pengawasan, terutama dengan isu pengenalan wajah yang kontroversial, yang berpotensi menghambat adopsi luas teknologi ini. Secara keseluruhan, kolaborasi Meta dan Prada berpotensi membawa inovasi baru yang menggabungkan teknologi dengan mode, tetapi keberhasilannya akan sangat bergantung pada kemampuan mereka menangani isu privasi dan memastikan perangkat ini diterima dengan baik oleh masyarakat luas.
27 Feb 2026, 02.55 WIB

Sophia Space Kembangkan Pendinginan Pasif untuk Komputer Luar Angkasa Masa Depan

Perusahaan luar angkasa kini menghadapi tantangan besar dalam mendinginkan chip komputer yang sangat kuat di luar angkasa karena tidak adanya aliran udara yang biasanya membantu proses pendinginan. NVidia dan perusahaan lainnya sedang mencari solusi yang efektif agar komputer bisa beroperasi maksimal tanpa overheat. Sophia Space datang dengan ide baru untuk teknologi pendinginan pasif ini. Sophia Space berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 167.00 miliar ($10 juta) dari beberapa investor untuk mengembangkan sistem pendinginan pasif yang dapat diuji coba terlebih dahulu di darat, lalu diorbit menggunakan satelit dari Apex Space pada akhir 2027 atau awal 2028. Ini adalah langkah awal mereka untuk merevolusi cara komputasi dilakukan di luar angkasa. Teknologi yang digunakan Sophia Space awalnya dikembangkan dalam proyek pembangkit listrik surya di luar angkasa yang dikerjakan oleh tim dari Caltech. Proyek ini menghasilkan desain yang tipis dan fleksibel, berbeda dari bentuk satelit tradisional yang besar dan kotak. Desain ini memungkinkan chip komputer dapat didinginkan tanpa perangkat pendingin aktif yang kompleks. Sophia Space juga bekerja sama dengan NVidia dan mengembangkan modul server bernama TILES yang memiliki panel surya terintegrasi. Dengan ukuran satu meter persegi dan ketebalan beberapa sentimeter, TILES ini mampu menggunakan 92% daya yang dihasilkan untuk pemrosesan data, sehingga sangat efisien. Sistem ini juga memerlukan perangkat lunak canggih untuk mengatur beban kerja antar prosesor. Ke depan, Sophia Space berencana membangun pusat data luar angkasa yang sangat besar dengan ribuan TILES, menghasilkan 1 MW daya komputasi. Mereka juga fokus menawarkan solusi ini ke operator satelit yang memerlukan komputasi di orbit, seperti satelit pengamatan bumi dan sistem peringatan misil. Hal ini berpotensi mengubah cara data besar diolah di ruang angkasa.
27 Feb 2026, 01.54 WIB

Anthropic Akuisisi Vercept Dorong AI Otonom untuk Kerja Komputer Kompleks

Dalam dekade terakhir, AI lebih banyak berfokus pada interaksi berbasis teks yang membutuhkan peran aktif manusia untuk menjalankan tindakan berikutnya. Hal ini membatasi kemampuan AI untuk berperan dalam proses kerja yang lebih kompleks di mana persepsi visual dan interaksi langsung dengan aplikasi sangat penting. Anthropic baru-baru ini mengumumkan akuisisi Vercept, sebuah perusahaan yang spesialis dalam membangun sistem persepsi dan kontrol AI yang bisa beroperasi langsung di aplikasi komputer yang sering digunakan manusia seperti CRM dan ERP. Akuisisi ini menandai perubahan strategi Anthropic menjadi lebih fokus pada pengembangan AI yang bisa bertindak secara otonom dan andal dalam lingkungan kerja nyata. Claude, model AI utama Anthropic, sudah menunjukkan lompatan besar dalam kemampuannya dengan versi terbaru yaitu Claude Sonnet 4.6. Meski demikian, kemampuan AI ini masih kurang ketika harus menjalankan tugas multi-langkah di aplikasi nyata, karena keterbatasan dalam memahami konteks visual dan status aplikasi secara real-time. Sebelumnya, metode AI mengandalkan screenshot untuk mengenali elemen UI yang membuat proses menjadi lambat dan rentan error. Vercept menawarkan solusi dengan memodelkan aplikasi secara berkelanjutan sehingga AI mampu memahami keadaan aplikasi seperti manusia yang tahu kapan jendela pemuatan, dialog baru muncul, atau proses tertunda. Dengan menggunakan teknologi Vercept, Anthropic memperkuat posisinya dalam kompetisi global pengembangan AI otonom yang dapat diintegrasikan langsung dengan berbagai aplikasi perusahaan tanpa harus bergantung pada API terbatas, sambil memberikan kontrol keamanan dan kepatuhan yang vital untuk kepercayaan perusahaan.
Sebelumnya
Setelahnya

Baca Juga

  • Bitcoin di Ujung Konflik Iran

  • AI: Konflik & Inovasi

  • Arena Dominasi Digital & Geopolitik

  • Inovasi Penunjang Koloni Lunar

  • Revolusi Mobile AI Barcelona 2026

  • Cina Memimpin Revolusi AI & EV

  • Teluk Terbakar

  • Revolusi Hipersonik Amerika

  • Biotek Tiongkok Melesat

  • Waspada Penipuan Digital