TLDR
Pertumbuhan pusat data dapat memiliki dampak serius terhadap lingkungan dan komunitas lokal. Penting untuk mengevaluasi kebutuhan energi dan air dari pusat data sebelum persetujuan pembangunan. Ada potensi untuk mengelola pusat data secara berkelanjutan jika lokasi dan teknologi dipilih dengan bijak. Komunitas dan aktivis di seluruh Inggris menggelar dua hari aksi untuk memperingatkan bahaya yang ditimbulkan oleh pesatnya pembangunan pusat data. Kegiatan ini termasuk aksi jalan kaki dan diskusi online, bertujuan agar masyarakat dan pemerintah lebih menyadari dampak lingkungan dan sosial dari infrastruktur tersebut.Parlemen Inggris kini ikut menanggapi dengan membuka penyelidikan dampak penggunaan energi dan air oleh pusat data terhadap target pemerintah mencapai net zero. Para anggota parlemen, dipimpin oleh Toby Perkins, mengingatkan pentingnya evaluasi matang sebelum memberikan izin pengembangan pusat data secara masif.Aktivis dari Global Action Plan dan kelompok lain mengkritik bahwa kepentingan industri teknologi besar terlalu dominan, sementara suara komunitas lokal sering diabaikan. Mereka menilai pembangunan tanpa batas pusat data dapat mengorbankan energi dan air yang dibutuhkan oleh masyarakat dan merusak iklim.Menurut ahli sustainability Angela Hultberg dari Kearney, pusat data hyperscale dapat mengonsumsi air setara kebutuhan 80.000 orang, terutama di wilayah dengan ketersediaan air terbatas seperti Inggris tenggara. Untuk mengurangi dampak, disarankan memindahkan pusat data ke tempat dengan iklim lebih dingin dan curah hujan tinggi, misalnya Skotlandia.Meskipun ada kekhawatiran, beberapa pihak seperti Maksim Sonin dari Stanford University menganggap bahwa kemajuan teknologi memungkinkan pusat data dibangun dekat sumber energi baru yang lebih bersih. Bahkan teknologi data center terapung yang berjalan sendiri menggunakan energi terbarukan dan nuklir sedang dikembangkan untuk masa depan yang lebih hijau.