
Para peneliti dari Swedia berhasil menciptakan hewan buatan di dunia digital yang secara bertahap berkembang dari makhluk sensitif cahaya sederhana menjadi makhluk dengan kemampuan penglihatan yang lengkap. Proses ini berlangsung tanpa diberikan instruksi khusus tentang bagaimana mata harus terbentuk, namun simulasi ini meniru proses evolusi alami.
Dalam dunia buatan tersebut, hewan-hewan digital diberikan tugas untuk navigasi, menghindari rintangan, dan mencari makanan. Generasi demi generasi mengalami variasi dan yang paling mampu bertahan akan meneruskan sifatnya, serupa dengan proses seleksi alam di kehidupan nyata.
Menariknya, jenis mata yang muncul di simulasi sangat mirip dengan yang ditemukan di alam, seperti mata kamera, mata majemuk, dan fotoreseptor tersebar. Hal ini menunjukkan bahwa evolusi digital mengikuti pola-pola yang sama dengan dunia nyata meskipun lingkungan yang dibuat sangat sederhana.
Penelitian ini tidak hanya membuka wawasan baru tentang bagaimana sistem penglihatan bisa terbentuk, tetapi juga memberi alat bagi para ilmuwan untuk menjelajahi pertanyaan besar tentang evolusi dan mengapa beberapa solusi evolusioner lebih umum daripada yang lain.
Lebih jauh lagi, prinsip-prinsip evolusi yang digunakan dalam simulasi ini dapat diadaptasi dalam pengembangan teknologi yang lebih robust, efisien, dan adaptif, memberi harapan bagi kemajuan teknologi dengan inspirasi dari mekanisme alam.