Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah menyebabkan harga minyak mentah West Texas Intermediate melonjak tajam hingga lebih dari 110 dolar per barel dalam waktu 24 jam. Ketegangan ini terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur vital bagi 20% pasokan minyak global. Imbasnya, indeks saham utama di Asia seperti Nikkei 225 dan Kospi jatuh signifikan.
Pasar memprediksi adanya kemungkinan harga minyak naik hingga 120 dolar per barel pada akhir Maret dengan probabilitas 76% menurut Polymarket. Meskipun harga minyak naik tajam, pasar kripto, termasuk Bitcoin, Ether, dan Solana, relatif stabil dan tidak menunjukkan kepanikan. Namun, beberapa indikator futures minyak menunjukkan posisi yang mengindikasikan kemungkinan koreksi harga dalam jangka pendek.
Situasi ini mendorong kekhawatiran meningkatnya tekanan inflasi global yang akan mempengaruhi keputusan kebijakan moneter di Amerika Serikat. Probabilitas terhadap peningkatan suku bunga tetap tinggi, dengan 98% pasar memperkirakan Fed tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Lonjakan harga minyak akan menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan oleh Fed untuk mengendalikan inflasi.