
Token HYPE menunjukkan kenaikan 23,9% tahun ini berbeda jauh dari aset kripto lain yang melemah. Hal ini terjadi karena HyperLiquid, bursa derivatif di balik HYPE, berhasil memonetisasi aktivitas perdagangan melalui perpetual futures dengan leverage yang menguntungkan di kondisi pasar yang volatil dan turun. Model ini memungkinkan HyperLiquid mencatat volume perdagangan yang meningkat bahkan saat pasar crypto sedang lesu.
Volume perdagangan HyperLiquid naik dari 169 miliar USD pada Desember menjadi lebih dari 200 miliar USD pada Januari dan Februari, sedangkan pesaing seperti Aster dan Lighter mengalami penurunan drastis. Model bisnis non-kustodial yang mengandalkan on-chain settlement menghindari risiko sentralisasi seperti kegagalan FTX, meningkatkan kepercayaan pengguna. Penambahan pasar sintetis untuk aset tradisional dan inovasi seperti trading akhir pekan memikat lebih banyak pengguna ritel.
Meskipun menghadapi kontroversi seperti insiden token JELLY yang memicu kerugian besar dan perubahan tata kelola, HyperLiquid berhasil memperbaiki mekanisme dan meningkatkan total nilai terkunci (TVL) menjadi 380 juta USD dengan APR 6,93%. Dengan pertumbuhan pendapatan protokol hampir 100% di Q3 2025 dan situasi kompetitor yang melemah, HyperLiquid berpotensi menjadi pemain utama dalam pasar crypto bearish, meski tetap harus menghadapi risiko regulasi dan tata kelola.