Fokus

AI Asia: Dari Chip ke Bursa

Share

Kumpulan artikel ini mengulas dinamika industri kecerdasan buatan di Tiongkok dan Hong Kong, mulai dari potensi chip AI, kinerja bursa Hong Kong, peringkat token AI, hingga persaingan global yang menantang raksasa teknologi Tiongkok.

26 Feb 2026, 21.00 WIB

Pertumbuhan Bisnis AI Baidu Tembus Rp 26.72 triliun (US$1,6 Miliar) di Tengah Penurunan Pendapatan

Pertumbuhan Bisnis AI Baidu Tembus Rp 26.72 triliun (US$1,6 Miliar)  di Tengah Penurunan Pendapatan
Baidu melaporkan pendapatan untuk kuartal keempat sebesar 32,74 miliar yuan atau sekitar Rp 80.16 triliun (US$4,8 miliar) , yang sedikit melebihi prediksi analis namun turun 4 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan iklan yang merupakan salah satu sumber pendapatan utama perusahaan. Namun, ada kabar baik dari bisnis kecerdasan buatan Baidu yang mengalami peningkatan pendapatan sebesar 48 persen dibanding tahun sebelumnya, mencapai lebih dari 11 miliar yuan atau sekitar Rp 26.72 triliun (US$1,6 miliar) . Segmen ini meliputi layanan AI cloud, aplikasi AI, dan pemasaran berbasis AI yang mulai mendapat pengakuan luas di pasar. Salah satu faktor pendorong utama pertumbuhan ini adalah chip AI Kunlunxin yang dikembangkan sendiri oleh Baidu melalui unit semikonduktornya. Chip ini memiliki arsitektur khusus yang memungkinkan komputasi AI berjalan dengan stabil dan performa tinggi, serta kompatibel dengan berbagai model AI. Penggunaan chip Kunlunxin telah banyak diadopsi oleh perusahaan dari sektor keuangan, telekomunikasi, dan energi, berkat efisiensi tinggi dalam proses inferensi AI, sehingga menciptakan nilai tambah dan peluang bisnis bagi Baidu di tengah tantangan pasar lain. Meskipun bisnis AI Baidu menunjukkan perkembangan positif, hal tersebut belum cukup untuk mengimbangi penurunan pendapatan di sektor iklan. Namun, fokus dan pengembangan teknologi AI menjadi harapan terbesar bagi Baidu untuk memperkuat posisinya di industri teknologi global.
26 Feb 2026, 15.42 WIB

Penurunan Indeks Hang Seng Akibat Laporan Nvidia Mengecewakan Investor AI

Penurunan Indeks Hang Seng Akibat Laporan Nvidia Mengecewakan Investor AI
Pasar saham Hong Kong mengalami tekanan setelah laporan hasil keuangan Nvidia, perusahaan chip terbesar asal Amerika Serikat, gagal memenuhi proyeksi pendapatan paling optimistis dari para analis dan investor yang sangat menantikan pertumbuhan AI yang cepat. Hal ini menyebabkan indeks Hang Seng dan Hang Seng Tech turun tajam. Indeks Hang Seng turun sebesar 1,4 persen ke posisi 26,381.02, sementara Hang Seng Tech turun lebih dalam sebesar 2,9 persen. Di pasar daratan Cina, indeks CSI 300 sedikit turun 0,2 persen, dan Shanghai Composite hampir tidak berubah, menunjukkan sentimen pasar global yang masih berhati-hati. Beberapa saham teknologi besar seperti Alibaba, Tencent, Meituan, dan JD.com mengalami penurunan harga saham cukup signifikan, mencerminkan kurangnya kepercayaan investor setelah hasil Nvidia yang tidak sesuai harapan. Hal ini berdampak pada sektor teknologi dan saham yang terkait dengan AI. Di sisi lain, saham perusahaan di sektor infrastruktur dan energi seperti Hong Kong Exchanges and Clearing serta CK Infrastructure Holdings justru mengalami kenaikan karena memang mencatatkan kinerja keuangan yang positif dengan kenaikan laba dan kesepakatan bisnis besar, seperti CK Asset Holdings yang menjual kepemilikan di distributor listrik Inggris senilai 14,2 miliar USD. Pengamat pasar, Stephen Innes, menyatakan bahwa pasar kini tidak hanya mengharapkan pertumbuhan, tetapi mengasumsikan pertumbuhan yang terus menerus tanpa batas. Hal ini tidak realistis dan menyebabkan valuasi saham menjadi terlalu tinggi, yang membuat koreksi pasar tidak terhindarkan di masa mendatang.
25 Feb 2026, 18.30 WIB

Model AI Open-Source Cina Kuasai Pasar Global di Platform OpenRouter

Model AI Open-Source Cina Kuasai Pasar Global di Platform OpenRouter
OpenRouter, sebuah platform hosting AI online, baru-baru ini merilis data peringkat yang menarik perhatian seluruh dunia. Data tersebut menunjukkan bahwa model-model AI open-source dari Cina kini sangat diminati oleh pengembang internasional. Hal ini merubah dominasi lama yang sebelumnya dipegang oleh pengembang dari Amerika Serikat selama setahun penuh. Model yang paling populer bulan ini adalah M2.5 dari MiniMax AI yang berbasis di Shanghai. Model ini telah digunakan sebanyak 4,55 triliun token oleh para pengembang melalui platform OpenRouter. Token adalah salah satu satuan data yang digunakan AI untuk memproses masukan dan menghasilkan keluaran. Selanjutnya, model Kimi K2.5 milik Moonshot AI yang berbasis di Beijing menempati posisi kedua dengan sekitar 4,02 triliun token digunakan oleh pengembang. Model-model ini menunjukkan kekuatan dan popularitas model AI yang dikembangkan di Cina dalam pasar global. Selain model-model dari Cina, model dari perusahaan-perusahaan besar seperti Google DeepMind, DeepSeek dari Hangzhou, dan Anthropic juga masuk dalam lima besar model yang paling banyak digunakan. Menariknya, tiga model dari Cina di antara lima besar tersebut mencapai hampir dua pertiga dari total penggunaan token. Fenomena ini menandai peningkatan besar dalam permintaan global untuk model-model AI open-source Cina, terutama setelah beberapa rilis terbaru. Ini menunjukkan tren yang terus berkembang dalam dunia AI global di mana Cina semakin menjadi pemain penting dan penggerak inovasi di kancah internasional.
23 Feb 2026, 17.53 WIB

Zhipu AI Minta Bantuan Komputasi Global, Saham Turun Drastis

Zhipu AI Minta Bantuan Komputasi Global, Saham Turun Drastis
Zhipu AI, perusahaan kecerdasan buatan asal Tiongkok yang terdaftar di Hong Kong, mengalami penurunan saham hampir 23 persen pada hari Senin. Penurunan ini menghapus lebih dari HKRp 1.17 quadriliun ($70 miliar) dari nilai pasar perusahaan. Tekanan ini muncul karena keterbatasan sumber daya komputasi yang mereka miliki dalam menjalankan model AI mereka, GLM. Perusahaan ini sebelumnya mencatat kenaikan saham yang sangat signifikan, bahkan naik lebih dari 380 persen sejak penawaran umum perdana mereka pada 8 Januari. Namun, adanya keluhan dari pengguna terkait kualitas layanan menambah kekhawatiran tentang kemampuan mereka memenuhi permintaan pasar. Sebagai langkah solusi, Zhipu AI secara terbuka mengeluarkan panggilan publik untuk mencari mitra penyedia sumber daya komputasi dari dalam dan luar negeri. Mereka menawarkan skema berbagi pendapatan agar dapat memperkuat infrastruktur teknis yang dibutuhkan untuk menjalankan model AI mereka dengan kapasitas penuh. Ini adalah pertama kalinya sebuah perusahaan AI Tiongkok melakukan tindakan publik semacam ini, yang menandakan tantangan besar dalam mengkomersialkan teknologi AI yang semakin canggih. Permintaan komputasi yang tinggi menjadi hambatan utama yang membatasi ekspansi dan pelayanan terhadap pengguna. Upaya ini menggambarkan realita bahwa di balik antusiasme tinggi pada teknologi AI, perusahaan-perusahaan masih harus menghadapi kendala teknis dan finansial. Ke depan, mereka perlu menjalin kemitraan lebih luas agar bisa berkembang dan memimpin di pasar global.
23 Feb 2026, 09.46 WIB

Indeks Saham Teknologi Hong Kong Terpuruk, Perusahaan AI Baru Naik Drastis

Indeks Hang Seng Tech yang mencakup 30 perusahaan teknologi besar seperti Tencent, Alibaba, dan Meituan tercatat mengalami penurunan sebesar 5,5 persen tahun ini hingga akhir minggu lalu. Ini menjadi tantangan tersendiri sebab tahun sebelumnya indeks ini justru sukses mencetak kenaikan sebesar 23,5 persen, menunjukkan gejolak yang dialami pasar teknologi Hong Kong. Sementara itu, indeks saham utama Hong Kong yaitu Hang Seng Index hanya naik tipis sebesar 0,3 persen sepanjang tahun ini. Bahkan, jika dibandingkan dengan indeks teknologi utama di Amerika Serikat, Nasdaq 100, indeks teknologi Hong Kong masih tertinggal karena Nasdaq hanya turun 0,8 persen selama periode yang sama. Berbeda dengan kinerja indeks teknologi yang melemah, perusahaan-perusahaan AI baru yang baru terdaftar di Hong Kong justru mencatatkan lonjakan harga saham yang luar biasa. Misalnya, Zhipu AI yang harganya naik 523 persen menjadi HK$ 725, MiniMax naik 488 persen menjadi HK$ 970, dan Beijing Haizhi Technology Group naik 469 persen menjadi HK$ 154,10 dalam waktu kurang dari enam minggu setelah IPO. Selain perusahaan AI, produsen robot seperti Shenzhen Dobot juga mendapatkan perhatian setelah robot humanoid mereka ditampilkan dalam Gala Festival Musim Semi yang disiarkan oleh CCTV, acara TV paling banyak ditonton di Tiongkok daratan. Hal ini turut meningkatkan nilai saham mereka di pasar. Kondisi ini menunjukan bahwa meskipun indeks teknologi utama Hong Kong sedang berjuang, sektor AI dan robotika mendapatkan minat besar dari investor dan berpotensi menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar teknologi di masa depan. Namun, tantangan tetap ada dalam memilih pemimpin industri yang tepat untuk mengembalikan performa indeks utama.
21 Feb 2026, 10.05 WIB

Tencent Mengakui Keterlambatan Dalam Menangani Persaingan AI Global

Di sebuah acara di Shenzhen, CEO Tencent, Pony Ma, berbicara secara terbuka tentang perlambatan perusahaan dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau AI. Meskipun Tencent dikenal sebagai pemain besar dalam teknologi di China, mereka mengakui bahwa langkah mereka dalam AI agak lambat dibandingkan dengan pesaing mereka seperti Alibaba. Pidato ini memberikan gambaran langka dari pemikiran seorang pemimpin besar di balik layar perusahaan yang biasanya tertutup terhadap media. Pony Ma menyinggung banyak hal dalam industrinya, tetapi yang paling menarik adalah sikap mereka terhadap AI yang kini menjadi fokus utama banyak perusahaan teknologi besar di seluruh dunia. Tencent telah meningkatkan pengeluaran untuk riset dan pengembangan hingga mencapai 22,8 miliar yuan pada kuartal ketiga tahun lalu, naik 28 persen dari sebelumnya. Namun, jumlah ini masih belum sebesar pengeluaran yang dilakukan oleh beberapa pesaingnya. Perusahaan ini dikenal lebih berhati-hati dan hanya melaporkan hasil kuartalan tanpa banyak membocorkan target investasinya secara spesifik. Persaingan dalam AI saat ini sangat ketat dengan banyak perusahaan berlomba-lomba mengembangkan teknologi dan aplikasinya, yang mendorong perubahan dalam strategi monetisasi produk teknologi. Tencent kini dihadapkan pada tekanan untuk mempercepat inovasi dan investasi teknologi agar tetap relevan di pasar global yang berubah dengan sangat cepat. Ke depan, kemungkinan Tencent akan mempercepat akselerasi investasi mereka dalam AI dan melakukan penyesuaian strategi bisnis untuk menghadapi tantangan tersebut. Hal ini penting agar Tencent tidak kehilangan posisi dominan di pasar teknologi China dan global yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan.