Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Tantangan Psikologis Modern: Kecemasan, Persepsi, dan Harga Diri

Share

Cerita ini mengeksplorasi tantangan psikologis masa kini, mulai dari kebiasaan produktivitas yang meningkatkan kecemasan, cara otak memproses kerugian dibandingkan kemenangan, hingga saran ahli untuk meningkatkan harga diri. Pendekatan ini penting untuk mengatasi masalah kesehatan mental pada masyarakat modern.

29 Jan 2026, 05.30 WIB

Cara Melatih Pikiran Menerima dan Merasakan Perasaan Dihargai dalam Hubungan

Cara Melatih Pikiran Menerima dan Merasakan Perasaan Dihargai dalam Hubungan
Banyak orang yang sebenarnya merasa tidak dihargai dalam hubungan mereka, namun mereka jarang mengungkapkannya secara langsung. Perasaan dihargai sejatinya adalah kebutuhan psikologis dasar yang dapat menenangkan sistem saraf seseorang. Ketika merasa dihargai, seseorang merasa penting dan emosionalnya stabil, tapi jika tidak, mereka akan mulai mencari kemungkinan ancaman dalam hubungan tersebut. Perasaan dihargai tidak selalu tergantung pada apa yang diberikan oleh orang lain, melainkan cara pikiran kita memproses dan menerima perhatian yang ada. Contohnya, seseorang bisa dikelilingi oleh banyak kasih sayang tapi tetap merasa tidak cukup dihargai karena cara mereka menafsirkan cinta tersebut kurang tepat. Momen kecil seperti sapaan, tawa bersama, dan perhatian sederhana disebut sebagai 'bids for connection' oleh Dr. John Gottman dan merupakan indikator penting dalam hubungan. Sering kali orang mencari penguatan verbal seperti 'Apakah kamu cinta aku?' sebagai bentuk reassurance, namun ini hanya menenangkan kecemasan sesaat dan tidak membangun keamanan jangka panjang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pasangan yang responsif terhadap kebutuhan emosional dan menyesuaikan perilakunya akan menciptakan rasa aman yang lebih kuat daripada sekadar ungkapan kasih sayang secara verbal. Membangun rasa percaya diri internal juga menjadi kunci agar seseorang tidak terlalu bergantung pada pengakuan dari orang lain. Dengan mulai menghormati dan mendengarkan sinyal diri sendiri, individu dapat memperkuat harga diri yang berasal dari dalam, sehingga perhatian dan kasih sayang dari pasangan menjadi tambahan yang menyenangkan bukan kebutuhan yang mendesak. Terakhir, kemampuan untuk menerima kebaikan dan bantuan dari orang lain tanpa menolaknya adalah aspek penting lainnya. Menahan diri untuk tidak menolak perhatian yang diberikan akan memberi sinyal positif pada otak bahwa seseorang itu aman dan dihargai. Latihan untuk ‘pausing’ dan menerima kebaikan ini akan membantu memperbaiki cara kerja sistem saraf dan meningkatkan rasa kepercayaan dan kedekatan emosional.
28 Jan 2026, 20.30 WIB

Mengapa Fokus Berlebihan pada Produktivitas Bisa Meningkatkan Kecemasan Kita

Mengapa Fokus Berlebihan pada Produktivitas Bisa Meningkatkan Kecemasan Kita
Saat ini, budaya produktivitas telah berubah drastis. Tidak hanya selesai mengerjakan tugas, tapi kini produktivitas diukur lewat berbagai metrik digital seperti notifikasi, streaks, dan lencana di aplikasi. Meskipun terlihat memotivasi, hal ini justru membuat banyak orang merasa tertekan dan cemas. Sebuah studi di tahun 2024 menemukan bahwa 80% pekerja merasa kecemasan mereka muncul dari tekanan untuk selalu memenuhi target produktivitas yang diukur secara real time. Hal ini berarti, budaya yang ingin meningkatkan kinerja ternyata bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Ketika seseorang mulai menganggap nilai dirinya tergantung pada angka produktivitas, motivasi mereka berubah dari ingin menyelesaikan hal yang berarti menjadi hanya untuk mencapai skor yang diharapkan oleh aplikasi atau pimpinan. Motivasi ekstrinsik ini justru meningkatkan stres. Banyak aplikasi menggunakan fitur pemberian lencana dan notifikasi untuk 'mendorong' pengguna, tetapi tanpa sadar membuat pengguna merasa dievaluasi terus-menerus, bukan diberdayakan. Ini menimbulkan reaksi stres yang jika terjadi terus menerus bisa berbahaya bagi kesejahteraan mental. Solusi terbaik menurut para ahli adalah berfokus pada motivasi intrinsik dan memilih cara bekerja yang memberi kebebasan, bukan tekanan. Artinya, berhenti bergantung pada metrik dan mulai menghargai proses yang sesuai dengan nilai dan tujuan pribadi demi produktivitas yang lebih sehat dan menyenangkan.
28 Jan 2026, 07.00 WIB

Otak Mengatur Hierarki Sosial Dengan Cara Berbeda Saat Menang dan Kalah pada Tikus

Otak Mengatur Hierarki Sosial Dengan Cara Berbeda Saat Menang dan Kalah pada Tikus
Setiap komunitas sosial, termasuk tikus dan manusia, memiliki struktur hirarki yang berubah-ubah berdasarkan interaksi sosial. Ketika seekor tikus menang atau kalah dalam pertarungan sosial, ini mempengaruhi posisi sosialnya di grup. Para ilmuwan dari Okinawa Institute of Science and Technology menggunakan tes tabung dominasi untuk mengamati bagaimana tikus berkompetisi dan bagaimana pengalaman menang-kalah memengaruhi tingkah laku mereka di rumah. Penelitian menunjukkan bahwa neuron cholinergic di dalam bagian otak bernama dorsomedial striatum berperan penting dalam membantu tikus mempelajari dari kekalahan, tetapi tidak dari kemenangan. Ketika neuron ini dihapus, efek kalah hilang. Hal menarik lainnya, ketika tikus dominan mengalami kekalahan, biasanya mereka turun peringkat. Tapi jika neuron ini dihilangkan, mereka tetap mempertahankan posisi dominan meskipun kalah, menunjukkan otak tidak memproses kekalahan sebagai sinyal perubahan. Penemuan ini penting karena otak manusia dan tikus memiliki struktur yang mirip, sehingga hasil penelitian ini bisa membantu kita memahami bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan mengendalikan strategi hidup mereka.

Baca Juga

  • Tantangan Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Satwa

  • Kemajuan dalam Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa

  • Inisiatif Energi Terbarukan dan Ketahanan Iklim

  • Penemuan Kuno dan Terobosan Matematika

  • Tantangan Psikologis Modern: Kecemasan, Persepsi, dan Harga Diri