Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Kemajuan dalam Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa

Share

Sejumlah penelitian dan misi antariksa menyoroti fenomena kosmis, peluncuran roket serta pengujian model kosmologi yang mendalam, yang bersama-sama membuka wawasan baru tentang alam semesta.

29 Jan 2026, 07.50 WIB

Gerhana Matahari Cincin 2026: Fenomena Langka yang Bisa Disaksikan Dari Antartika

Gerhana Matahari Cincin 2026: Fenomena Langka yang Bisa Disaksikan Dari Antartika
Pada tanggal 17 Februari 2026, akan terjadi fenomena gerhana matahari annular atau yang dikenal sebagai gerhana matahari cincin. Gerhana ini terjadi tepat sebelum bulan puasa yang diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026. Peristiwa ini menjadi perhatian besar karena merupakan salah satu fenomena alam yang menarik dan langka. Gerhana akan mencapai puncaknya pada pukul 19.12 WIB, dimana bulan akan menutupi sekitar 96% dari piringan matahari. Hal ini menghasilkan efek visual yang terlihat seperti cincin api yang sangat menarik dan berbeda dari gerhana total yang menutupi matahari sepenuhnya. Fase cincin gerhana ini hanya bisa dilihat oleh pengamat yang berada di jalur sempit sepanjang sekitar 4.282 kilometer dan lebar 616 kilometer. Namun, jalur annularity kali ini terletak di wilayah Antartika yang terpencil, sehingga hanya sedikit orang yang dapat mengamati fenomena tersebut secara langsung. Selain itu, sebagian wilayah Antartika, Afrika bagian selatan, dan selatan Amerika Selatan dapat menyaksikan gerhana matahari parsial. Untuk pengamat yang berada di luar area tersebut, peristiwa ini dapat disaksikan melalui siaran langsung daring yang akan diumumkan oleh penyelenggara di kemudian hari. Gerhana matahari terjadi saat bulan berada dalam posisi sejajar dengan matahari dan bumi pada fase bulan baru. Berbeda dengan gerhana total, pada gerhana annular bulan lebih jauh dari bumi sehingga tidak menutupi matahari sepenuhnya, sehingga tercipta cincin cahaya yang dikenal dengan istilah cincin api.
29 Jan 2026, 00.16 WIB

Awan Logam Raksasa Mungkin Sembunyikan Planet Rahasia di Dekat Bintang J0705+0612

Awan Logam Raksasa Mungkin Sembunyikan Planet Rahasia di Dekat Bintang J0705+0612
Para astronom menemukan sebuah awan besar yang terbuat dari logam yang menyebabkan bintang J0705+0612, sebuah bintang mirip matahari, tampak menghilang dari pandangan selama hampir sembilan bulan. Kejadian ini sangat langka karena biasanya bintang tidak pernah berhenti bersinar tanpa alasan yang jelas. Awan misterius ini sangat besar, berukuran hingga 15.000 kali lebih besar dari Bumi dan diperkirakan mengorbit bintang pada jarak sekitar 13,3 kali jarak antara Bumi dan Matahari. Ini kira-kira setara dengan posisi antara planet Saturnus dan Uranus di tata surya kita. Dengan bantuan teleskop Gemini South dan alat spektroskopi baru bernama GHOST, para ilmuwan berhasil mendeteksi keberadaan unsur logam seperti besi dan kalsium dalam awan tersebut. Mereka juga bisa menganalisis pergerakan di dalam awan, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya di sistem seperti ini. Penelitian menunjukkan bahwa awan ini mungkin dikelilingi oleh objek besar seperti planet gas, bintang pendamping dalam sistem biner, atau katai coklat. Ini ditunjukkan oleh tingkat radiasi inframerah yang tinggi dari awan tersebut, meskipun belum bisa dipastikan secara pasti penyebabnya. Para peneliti menduga awan logam ini terbentuk sekitar dua miliar tahun lalu akibat tumbukan besar antar planet, mirip dengan cara terbentuknya bulan kita. Ini menandakan bahwa peristiwa besar seperti tumbukan masih bisa terjadi walaupun sistem bintang sudah cukup tua dan stabil.
28 Jan 2026, 23.55 WIB

NASA Siapkan Uji Coba Peluncuran Artemis II, Misi Berawak Kembali ke Bulan

NASA Siapkan Uji Coba Peluncuran Artemis II, Misi Berawak Kembali ke Bulan
NASA sedang mempersiapkan uji coba peluncuran simulasi untuk misi Artemis II yang dijadwalkan mulai 31 Januari 2026. Misi ini adalah bagian penting untuk menguji roket raksasa SLS dan pesawat ruang angkasa Orion yang akan membawa manusia mengelilingi bulan. Artemis II akan menjadi penerbangan berawak pertama dalam program Artemis dengan empat astronaut, termasuk satu astronot wanita dan satu dari Kanada. Misi ini direncanakan berlangsung selama 10 hari untuk memastikan semua sistem aman dan berfungsi dengan baik sebelum pendaratan di bulan. Roket SLS dengan tinggi 98 meter telah dipasang di launch pad Kennedy Space Center, Florida. Para teknisi sedang menguji berbagai sistem, termasuk pengisian bahan bakar cryogenic yang memerlukan lebih dari 700 ribu galon bahan bakar cair yang sangat dingin. Suhu dingin yang tidak biasa akibat hembusan udara Arktik di Florida menjadi tantangan tersendiri, sehingga NASA memastikan sistem pengendalian suhu tetap menjaga roket dan pesawat pada kondisi ideal. Selain itu, ada perbaikan pada sistem air minum di pesawat Orion yang ditemukan memiliki kadar karbon organik lebih tinggi dari perkiraan. Kru misi kini menjalani masa karantina untuk menjaga kesehatan sebelum terbang. Keberhasilan Artemis II akan menjadi langkah awal yang menjanjikan menuju Artemis III, yaitu misi mendarat di bulan yang penting untuk rencana jangka panjang NASA membangun kehadiran manusia berkelanjutan di bulan dan melakukan eksplorasi Mars.
28 Jan 2026, 19.40 WIB

NASA Bersiap Meluncurkan Roket Artemis 2 Misi Uji Coba Mengelilingi Bulan

NASA Bersiap Meluncurkan Roket Artemis 2 Misi Uji Coba Mengelilingi Bulan
NASA sedang mempersiapkan peluncuran roket Artemis 2 yang membawa empat astronaut untuk mengelilingi Bulan. Roket ini menggunakan sistem Space Launch System (SLS) terbaru yang sedang diuji di Kennedy Space Center, Florida. Peluncuran direncanakan paling cepat pada 6 Februari 2024, dengan para astronaut melakukan karantina sebagai prosedur standar untuk memastikan kesehatan dan keselamatan mereka sebelum misi. Para astronaut yang akan ikut dalam misi ini adalah Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, serta dua spesialis misi, Jeremy Hansen dan Christina Koch. Misi Artemis 2 akan berlangsung selama sekitar 10 hari, bertujuan menguji performa roket dan kapsul Orion dalam misi berawak yang meliputi perjalanan mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi. Keberhasilan misi ini diharapkan membuka jalan bagi misi Artemis 3 pada 2027 yang akan membawa manusia mendarat kembali di Bulan, menandai babak baru dalam eksplorasi ruang angkasa.
28 Jan 2026, 17.00 WIB

Fenomena Langit Februari 2026: Bulan Salju dan Keajaiban Klaster Bintang Beehive

Fenomena Langit Februari 2026: Bulan Salju dan Keajaiban Klaster Bintang Beehive
Pada awal Februari 2026, akan terjadi fenomena bulanan yang sangat menarik yakni Bulan Purnama Salju yang kedua. Bulan ini akan terlihat sangat terang dengan waktu puncak pada sore hari tanggal 1 Februari. Bulan ini akan muncul di konstelasi Leo, tepat di bawah sebuah kelompok bintang yang sangat indah dan terang yang dikenal sebagai Klaster Bintang Beehive. Klaster Bintang Beehive atau M44 adalah salah satu klaster bintang terbuka yang paling menonjol dan dekat dengan tata surya kita, yakni hanya berjarak 577 tahun cahaya. Klaster ini bisa dilihat dengan mata telanjang, namun menggunakan teleskop atau teropong akan menampilkan lebih dari seratus bintang yang tersebar dengan bentuk yang memukau di langit malam. Selain itu, ada peristiwa langka pada tanggal 2 Februari 2026 di beberapa wilayah di Amerika Utara, yaitu ketika Bulan hampir penuh akan menutupi bintang terang Regulus dalam sebuah kejadian yang disebut okultasi. Fenomena ini sangat jarang terjadi dan tidak akan terulang lagi hingga akhir tahun 2030-an. Bulan purnama ini juga dikenal dengan banyak nama lain dari berbagai budaya asli, seperti Bulan Lapar, Bulan Beruang, hingga Bulan Groundhog. Nama-nama ini menunjukkan bagaimana masyarakat tradisional mengaitkan fase bulan dengan kondisi alam dan musim. Setelah Bulan Purnama Salju, akan terjadi fenomena astronomi menarik lainnya yaitu gerhana matahari cincin pada tanggal 17 Februari yang terlihat dari Antartika, dan gerhana bulan total pada 3 Maret yang dikenal dengan istilah Bulan Darah, di mana permukaan bulan akan berubah warna menjadi kemerahan selama hampir satu jam dan bisa diamati dari Amerika Utara dan beberapa wilayah lainnya.
28 Jan 2026, 04.15 WIB

Survei Energi Gelap Ungkap Rahasia Ekspansi Alam Semesta dan Misteri Galaksi

Survei Energi Gelap (DES) adalah proyek pengamatan yang berlangsung selama enam tahun untuk mempelajari sekitar 669 juta galaksi guna memahami fenomena energi gelap yang membuat alam semesta terus mengembang dengan kecepatan yang terus meningkat. Data dikumpulkan menggunakan Teleskop Victor M. Blanco di Chile yang mencakup sekitar satu per delapan langit. Hasil survey ini menunjukkan bahwa dua teori utama mengenai kosmologi, yaitu model standar yang menganggap energi gelap tetap konstan dan model lain yang membiarkan energi gelap berubah seiring waktu, keduanya cocok dengan data yang diperoleh dari berbagai metode pengamatan seperti osilasi akustik baryonik dan pengelompokan galaksi. Selain itu, metode lain seperti supernova tipe Ia dan pelensaan gravitasi lemah juga digunakan untuk mengukur ekspansi alam semesta dan memberikan pengukuran yang lebih ketat terhadap model yang ada dengan akurasi dua kali lipat dibandingkan studi sebelumnya. Walaupun data konsisten dengan teori standar, pola pengelompokan galaksi masih belum sepenuhnya sesuai dengan prediksi yang mengindikasikan bahwa ada hal-hal yang belum sepenuhnya dipahami dalam kosmologi modern, sehingga penelitian lanjutan sangat diperlukan. Para peneliti akan melanjutkan pengamatan dan analisis dengan bantuan Observatorium Vera C. Rubin yang juga berada di Chile, dengan harapan mampu memberikan wawasan baru tentang gravitasi dan energi gelap serta mengungkap misteri alam semesta yang belum terpecahkan.

Baca Juga

  • Mengeksplorasi Keajaiban Alam Unik di Indonesia

  • Inovasi AI Revolusioner dalam Kesehatan

  • Kemajuan dalam Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa

  • Penemuan Kuno dan Terobosan Matematika

  • Inisiatif Energi Terbarukan dan Ketahanan Iklim