Iran berencana mengalihkan fokus serangannya ke ranah siber sebagai balasan atas dampak signifikan yang dialami kekuatan militernya. Serangan ini terutama menggunakan wiper malware oleh kelompok peretas APT42 dan APT33 di bawah kendali IRGC dan Kementerian Intelijen Iran, dengan target utama Israel.
Firma keamanan seperti Anomali dan SentinelOne memperkirakan serangan akan menyasar jaringan pertahanan, pemerintahan, dan intelijen Israel serta AS, menggunakan taktik seperti wiper malware dan serangan DDoS. Selain itu, Iran juga berencana melancarkan kampanye disinformasi untuk mempengaruhi opini publik global.
Serangan siber ini berpotensi melumpuhkan layanan vital dan infrastruktur penting, tetapi Israel memiliki Unit 8200 yang ahli dalam pertahanan siber. Konflik siber ini berpotensi meningkat, mengancam keamanan dan stabilitas di kawasan serta memperluas dimensi perang modern.