Pemerintah Berbagai Negara Batasi Media Sosial Anak untuk Lindungi Generasi Muda
Teknologi
Keamanan Siber
28 Jan 2026
27 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia, Australia, dan Malaysia, sedang menerapkan atau mempertimbangkan pembatasan media sosial untuk anak di bawah umur.
Tujuan dari pembatasan ini adalah untuk melindungi anak-anak dari bahaya di internet seperti perundungan dan pelecehan.
Ada berbagai pendekatan dalam pelaksanaan regulasi ini, dengan beberapa negara memberlakukan larangan total sementara yang lain memperbolehkan akses dengan pengawasan orang tua.
Banyak negara sedang menerapkan aturan untuk membatasi akses media sosial bagi anak-anak di bawah umur. Indonesia memulai regulasi ini sejak Maret 2025 dengan membatasi anak berusia 13 hingga 18 tahun untuk mengakses media sosial tanpa izin orang tua. Tujuannya adalah melindungi anak dari bahaya seperti perundungan, penipuan, dan pelecehan seksual.
Australia lebih ketat dengan memblokir akun anak di bawah 16 tahun secara total sejak Desember 2025. Malaysia pun bertujuan menerapkan larangan yang sama untuk anak di bawah usia 16 tahun dan tengah mengkaji mekanisme penerapan aturan tersebut dengan merujuk pada negara-negara seperti Australia.
Beberapa negara bagian di India seperti Goa dan Andhra Pradesh juga sedang mempertimbangkan aturan serupa karena kekhawatiran tentang kesehatan mental anak akibat media sosial. Pemerintah India belum memberikan komentar resmi, sementara perusahaan seperti Meta mendukung pengawasan orang tua namun mengingatkan agar aturan dibuat hati-hati.
Perusahaan teknologi besar seperti Meta, Google, dan X menjadi fokus regulasi ini karena banyak pengguna anak yang mengakses layanan mereka. Meta pun mengingatkan agar larangan hanya pada beberapa platform saja tidak cukup memastikan keamanan anak karena remaja bisa beralih ke aplikasi lain yang tidak diawasi.
Secara keseluruhan, pembatasan akses media sosial ini adalah upaya global yang bertujuan melindungi anak-anak namun juga memerlukan keseimbangan antara pengawasan dan kebebasan digital agar anak tetap bisa belajar dan bersosialisasi dengan aman di dunia maya.
Analisis Ahli
Dr. Andrian Sutanto
Aturan pembatasan ini sangat penting untuk mencegah kerusakan psikologis pada anak akibat konten yang tidak sesuai, namun perlu diiringi edukasi digital secara menyeluruh.Prof. Sri Rahayu
Regulasi harus fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan teknologi agar tidak membatasi kreativitas dan pembelajaran anak, sambil tetap menjaga keamanan mereka.