Krisis chip global semakin memburuk pada 2026 akibat konflik antara produsen chip Belanda, Nexperia, dan anak usahanya di China, Wingtech. Prioritas produksi chip HBM yang menguntungkan dan tingginya permintaan chip konvensional menyebabkan kelangkaan parah.
Konflik ini diperparah oleh pengambilalihan Wingtech oleh Den Haag, kontrol ekspor chip oleh Beijing, dan penangguhan suplai wafer. Negosiasi antara Beijing, Den Haag, dan Brussel tidak berhasil mencapai solusi yang memuaskan kedua pihak.
Dampaknya mengganggu produksi chip terutama untuk sektor otomotif, menimbulkan kenaikan harga chip, dan berpotensi memperpanjang krisis hingga 2026. Konflik ini juga mengancam stabilitas rantai pasok semikonduktor global.