Fokus
Sains

Penemuan Arkeologi Sejarah

Share

Pengungkapan penemuan arkeologi kuno dari berbagai belahan dunia, mengungkap misteri sejarah melalui studi rahasia medis dan artefak keagamaan yang berasal dari Rusia, Indonesia, dan tradisi Islam.

23 Feb 2026, 20.20 WIB

Mikroplastik dari Ban Terbawa Angin hingga Greenland Ancaman Ekosistem

Mikroplastik dari Ban Terbawa Angin hingga Greenland Ancaman Ekosistem
Seorang peneliti bernama Kristian Louis Jensen melakukan penelitian untuk menelusuri jejak mikroplastik di daerah yang sangat alami, yaitu Greenland. Ia menggunakan alat bernama Plastsaq yang mampu mengumpulkan sampel air permukaan berisi puing plastik, termasuk dari ban kendaraan. Penelitian ini membuka fakta bahwa mikroplastik tidak hanya ditemukan di kota-kota besar saja. Jensen mendapati banyak partikel mikroplastik bahkan di gletser di Greenland Timur, yang menandakan bahwa partikel itu terbawa angin bisa sejauh ribuan kilometer. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Arktik menjadi penyerap polusi dunia, yang sebelumnya dianggap sangat bersih dan alami. Saat ini, lebih dari lima miliar ban beredar di seluruh dunia dan selama masa pakainya, ban kehilangan 10%-30% massanya yang berubah menjadi debu beracun. Debu ini kemudian mengendap di lingkungan dan memasuki rantai makanan manusia, yang bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan lingkungan. Partikel mikroplastik dari ban membawa dampak negatif pada ekosistem di Greenland, seperti bahan kimia 6PPD yang bisa mematikan ikan salmon Coho dan menyebabkan kelainan pada telur ikan kod Atlantik. Kerusakan ini juga mengancam keberlangsungan perikanan nasional di daerah tersebut. Selain merusak ekosistem, polusi mikroplastik juga menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat adat di Greenland. Dengan semakin meluasnya masalah ini, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan melakukan tindakan agar polusi mikroplastik tidak semakin memperburuk kondisi lingkungan dan kesehatan manusia.
23 Feb 2026, 09.31 WIB

Operasi Rahang Zaman Besi Ungkap Kecanggihan Bedah Budaya Pazyryk

Operasi Rahang Zaman Besi Ungkap Kecanggihan Bedah Budaya Pazyryk
Pada tahun 1994, seorang wanita dimumifikasi dari budaya Pazyryk ditemukan di Dataran Ukok, Rusia. Awalnya, penemuan ini dianggap biasa karena hanya sebagian kepala yang diawetkan. Namun, setelah dilakukan CT scan baru-baru ini, ditemukan bukti operasi rahang yang sangat canggih yang dilakukan lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Para peneliti mendapati bahwa wanita berusia antara 25 hingga 30 tahun ini mengalami cedera parah pada sendi rahang kanannya, yang diduga akibat jatuh dari kuda. Kondisi hidup nomaden Pazyryk membuat kecelakaan seperti ini cukup mungkin terjadi, sehingga kemampuan medis yang maju sangat dibutuhkan. CT scan memperlihatkan adanya lubang-lubang kecil yang dibuat dengan rapi pada tulang rahang wanita tersebut. Lubang ini digunakan untuk menstabilkan sendi rahang dengan bahan elastis seperti rambut kuda atau tendon hewan. Proses operasi dilakukan dalam dua tahap tanpa menggunakan anestesi modern. Meskipun wanita ini tidak berasal dari kelas sosial tinggi, tindakan bedah yang dilakukan menunjukkan bahwa masyarakat Pazyryk peduli dan merawat anggotanya dengan baik, tanpa memandang status mereka. Mereka bahkan menguburnya dengan hormat di dalam peti kayu yang berharga bagi budaya mereka. Penemuan ini memberikan wawasan penting tentang sejarah kedokteran dan menunjukkan bahwa masyarakat kuno seperti Pazyryk mampu melakukan prosedur medis yang kompleks dengan hasil yang memungkinkan pasien bertahan hidup dalam kondisi yang berat.
23 Feb 2026, 07.00 WIB

Penemuan Liang Makam Massal Abad ke-9 Ungkap Kekerasan Terarah pada Perempuan dan Anak

Penemuan Liang Makam Massal Abad ke-9 Ungkap Kekerasan Terarah pada Perempuan dan Anak
Pada abad kesembilan, wilayah Gomolava di Serbia menjadi saksi penemuan sebuah liang makam massal yang berisi puluhan korban perempuan dan anak-anak yang tewas akibat kekerasan terarah. Hal ini menunjukkan perubahan besar dalam pola kekerasan dan dinamika sosial yang sebelumnya belum pernah terlihat pada masa itu di Eropa Tenggara. Para peneliti menganalisis 77 jenazah dan menemukan bahwa sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak muda. Tidak ada hubungan kekerabatan signifikan antara kebanyakan korban, kecuali satu ibu dan dua anak perempuannya, yang menegaskan bahwa ini adalah tindakan kekerasan yang sistematis dan terencana. Awalnya dikira kematian korban disebabkan oleh pandemi, namun setelah dilakukan pemeriksaan DNA terhadap pathogen, tidak ditemukan bukti infeksi yang mendukung asumsi tersebut. Hal ini menguatkan bahwa kematian lebih disebabkan oleh aksi kekerasan yang terarah dan penuh strategis. Temuan ini juga memberikan petunjuk bahwa pada masa itu terjadi pergeseran sosial dan ketegangan akibat interaksi antara komunitas migran dan penduduk yang menetap di wilayah tersebut. Kekerasan yang menargetkan perempuan dan anak-anak menandai perubahan dramatis dalam hubungan kekuasaan dan gender. Studi lebih lanjut akan membantu memahami dinamika sosial dan migrasi penduduk Eropa Tenggara pada awal Iron Age, serta implikasi sosial-politik yang muncul dari konflik kekerasan yang terarah seperti yang terlihat di Gomolava ini.