Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

NASA dan Mitra Atasi Tantangan Teknologi Antariksa

Share

Kisah kolaborasi NASA dengan lembaga riset dalam mengatasi tantangan teknologi misi antariksa, termasuk penundaan misi Artemis, pengembangan sirkuit tahan radiasi, dan inovasi teleskop canggih.

22 Feb 2026, 15.32 WIB

Penundaan Artemis II NASA akibat Masalah Sistem Helium, Peluncuran Ditunda

Penundaan Artemis II NASA akibat Masalah Sistem Helium, Peluncuran Ditunda
NASA tengah mempersiapkan misi Artemis II yang bertujuan membawa manusia mengorbit Bulan, sebagai tahap kedua dari program kembalinya manusia ke Bulan setelah puluhan tahun berhenti. Misi ini penting karena akan membuka jalan bagi misi berikutnya, Artemis III, yang direncanakan mendaratkan manusia di permukaan Bulan. Namun, peluncuran Artemis II yang awalnya dijadwalkan pada tanggal 6 Maret 2026, harus diundur karena ditemukan masalah teknis pada sistem aliran helium roket, khususnya pada tahap atas roket yang disebut Interim Cryogenic Propulsion Stage (ICPS). Helium berfungsi menjaga tekanan bahan bakar serta membersihkan mesin roket saat peluncuran. Masalah ini sangat penting untuk diatasi karena kegagalan dalam sistem aliran helium dapat menyebabkan bahan bakar tidak mengalir dengan stabil dan sangat berbahaya bagi kru pesawat. NASA memutuskan untuk mengembalikan roket ke Vehicle Assembly Building untuk melakukan pembongkaran dan pemeriksaan menyeluruh di bagian filter, katup, dan sambungan sistem helium. Proses perbaikan ini diperkirakan akan membutuhkan waktu, sehingga NASA berharap dapat meluncurkan Artemis II pada bulan April 2026 sebagai tanggal baru. Namun, semua ini bergantung pada keberhasilan memperbaiki sistem helium dan kondisi orbit Bulan yang harus tepat untuk peluncuran dan pendaratan kembali ke Bumi. Sebelumnya, program Artemis juga pernah mengalami berbagai penundaan karena masalah kebocoran hidrogen, masalah helium, dan kegagalan uji mesin. NASA tetap fokus pada upaya keselamatan kru dan keberhasilan misi yang sangat kompleks ini, karena jutaan orang di seluruh dunia menantikan langkah baru manusia menuju eksplorasi Bulan.
21 Feb 2026, 21.39 WIB

Revolusi Astronomi: Pengamatan Langit Lebih Tajam dengan Jaringan Teleskop Kuantum

Revolusi Astronomi: Pengamatan Langit Lebih Tajam dengan Jaringan Teleskop Kuantum
Melihat objek di luar angkasa seperti bintang dan planet sangat sulit, terutama karena teleskop terbatas oleh ukuran cermin mereka. Untuk mengatasi ini, para ilmuwan membangun banyak teleskop kecil yang bekerja bersama, teknik yang disebut interferometri jarak jauh. Namun, menggabungkan cahaya dari teleskop yang berjauhan sangat rumit karena sinyal cahaya bisa melemah dan terganggu. Sebuah tim peneliti besar dari NASA dan universitas terkemuka memikirkan cara baru agar teleskop tidak harus mengirimkan cahaya mereka ke satu tempat untuk digabungkan. Mereka menggunakan istilah kuantum, khususnya quantum entanglement, yang memungkinkan dua sistem yang berjauhan memiliki hubungan yang sangat kuat tanpa harus mentransfer cahaya secara fisik. Dalam metode ini, cahaya dari tiap teleskop pertama-tama dibagi menjadi pola spatial berbeda menggunakan alat khusus, lalu informasi ini dikombinasikan secara matematis lewat memori kuantum yang saling terikat. Ini menghilangkan kebutuhan untuk mengirimkan sinyal cahaya lemah melalui jarak jauh yang rentan gangguan. Peneliti telah menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak hanya teori, tetapi juga sudah mendekati tahap aplikasi nyata setelah eksperimen di Harvard membuktikan bahwa pengukuran fase menggunakan entanglement kuantum bisa dilakukan. Teknik ini bisa menghasilkan gambar yang lebih detail dan tajam dari objek luar angkasa dibandingkan metode lama. Jika teknologi ini berhasil diimplementasikan, masa depan astronomi bisa sangat berbeda. Observasi bintang, planet, dan objek luar angkasa lain akan lebih presisi tanpa harus memperbesar teleskop fisik. Ini membuka kemungkinan baru untuk menemukan planet baru dan memahami alam semesta dengan cara yang lebih canggih dan efisien.
21 Feb 2026, 17.04 WIB

Elektronik Atom-Tipis Tahan Radiasi, Revolusi Komunikasi Satelit Masa Depan

Elektronik Atom-Tipis Tahan Radiasi, Revolusi Komunikasi Satelit Masa Depan
Lingkungan luar angkasa sangat berbahaya bagi perangkat elektronik karena radiasi yang kuat dapat merusak sirkuit dan mempersingkat umur satelit. Selama ini, pelindung berat digunakan untuk melindungi elektronik, tapi hal ini membuat peluncuran jadi mahal dan terbatas. Peneliti dari Fudan University menemukan solusi dengan menggunakan molybdenum disulfide (MoS₂), bahan setebal satu lapisan atom yang sangat tahan radiasi. Karena sangat tipis, partikel energi tinggi bisa melewati tanpa merusak struktur elektroniknya. Mereka berhasil membuat transistor dan sistem komunikasi radio frekuensi lengkap menggunakan MoS₂ pada wafer 4 inci, lalu menguji perangkat ini di laboratorium dengan radiasi gamma intens. Hasilnya, perangkat tetap stabil tanpa kerusakan. Langkah terbesar adalah mengujinya langsung di orbit rendah Bumi selama 9 bulan. Sistem mampu mengirim dan menerima data dengan sangat baik, menunjukkan ketahanan yang luar biasa terhadap radiasi luar angkasa. Berdasarkan data, perangkat ini diperkirakan bisa bertahan hingga 271 tahun di orbit geosinron. Jika dikembangkan lebih jauh, teknologi ini dapat merubah cara satelit diproduksi dan diluncurkan dengan biaya lebih rendah dan umur pakai lebih lama.

Baca Juga

  • Tantangan Eksplorasi Luar Angkasa AS

  • Penemuan Arkeologi Sejarah

  • Penemuan Arkeologi Eropa

  • NASA dan Mitra Atasi Tantangan Teknologi Antariksa

  • Perubahan Kebijakan Sosial Media dan Budaya