
Microsoft Gaming mengalami perubahan besar dengan penggantian Phil Spencer oleh Asha Sharma sebagai CEO baru. Spencer mengundurkan diri setelah hampir 40 tahun berkarir di Microsoft dan 12 tahun memimpin Xbox. Sharma membawa pengalaman dari dunia AI dan teknologi yang diharapkan membawa fresh perspective pada Xbox dan masa depan gaming Microsoft.
Dalam memo internal pertamanya, Sharma menyatakan tiga komitmen utama: memastikan game yang luar biasa, menghidupkan kembali identitas Xbox, dan mempersiapkan masa depan permainan yang inovatif dengan dukungan AI. Dia menekankan pentingnya menjaga kualitas seni dan kreativitas manusia dalam game, sekaligus tidak melupakan potensi AI dan monetisasi yang akan berkembang.
Xbox akan tetap fokus pada konsol sebagai akar utama, namun dengan perluasan besar ke PC, mobile, dan cloud. Hal ini sesuai dengan strategi Xbox Everywhere yang mempermudah pengembang untuk menjangkau pemain di berbagai platform tanpa hambatan, menciptakan ekosistem game yang seamless dan instan.
Matt Booty, pejabat senior Microsoft Gaming, mendukung visi Sharma dan menegaskan tidak akan ada perubahan organisasi untuk studio-studio yang ada, sehingga stabilitas pengembangan game tetap terjaga. Fokus utama adalah mendukung pengembang dan konten mereka dalam menghadapi perubahan industri game yang sangat cepat.
Penggunaan AI akan menjadi bagian dari masa depan Xbox, namun Sharma menegaskan tidak akan membiarkan ekosistem Xbox dipenuhi oleh konten AI yang dangkal dan berlebihan. Game akan tetap menjadi seni yang diciptakan oleh manusia, dengan teknologi sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas. Hal ini memberikan harapan bagi penggemar dan pengembang agar inovasi tetap seimbang dengan kualitas dan nilai-nilai seni.