Fokus
Bisnis

Tantangan dalam Tenaga Kerja Teknologi dan Tren Pekerjaan

Share

Kemajuan teknologi serta dinamika di pasar kerja menimbulkan ketidakpastian, terlihat dari ketidakpuasan pekerja teknologi dan prediksi hilangnya pekerjaan di masa depan, yang mengubah norma pendidikan dan karier.

11 Feb 2026, 18.00 WIB

CEO Teknologi Diam Saat Kekerasan Imigrasi Meningkat, Karyawan Merasa Takut

CEO Teknologi Diam Saat Kekerasan Imigrasi Meningkat, Karyawan Merasa Takut
Situasi kekerasan dan penindakan imigrasi yang dilakukan oleh ICE dan agen federal di Minneapolis serta berbagai kota di AS membuat para pekerja teknologi merasa tertekan dan takut. Walau kekerasan ini memicu protes publik luas, mayoritas CEO perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Google, dan Amazon tetap memilih diam dan tidak mengeluarkan pernyataan yang mendukung karyawan yang terdampak. Karyawan dari berbagai perusahaan teknologi menyampaikan bahwa mereka merasa budaya perusahaan mengarahkan mereka untuk fokus hanya pada pekerjaan mereka dan tidak membahas isu-isu sosial yang penting. Rasa takut kehilangan pekerjaan menyebabkan para pekerja memilih untuk tetap diam meskipun mereka merasa tidak nyaman dengan kebijakan dan kontrak perusahaan mereka dengan lembaga pemerintah seperti ICE. Beberapa petinggi perusahaan seperti CEO Apple Tim Cook dan OpenAI Sam Altman mengirim memo internal yang menyerukan meredakan ketegangan, sementara hanya sedikit pemimpin yang berani mengangkat suara secara publik. Hal ini sangat berbeda dengan aksi kolektif tahun 2018 dan dukungan sebelumnya terhadap gerakan hak-hak warga dan keadilan rasial di bidang teknologi. Ada seruan dari kelompok pekerja dan organisasi seperti ICEout.tech untuk agar perusahaan-perusahaan tersebut mengakhiri kontrak dengan ICE dan menentang kekerasan pemerintah. Petisi dengan ribuan tanda tangan muncul, menuntut langkah nyata dari pimpinan perusahaan untuk menunjukkan sikap mereka secara terbuka dan melindungi karyawannya. Karyawan menyuarakan kekhawatiran mendalam tentang bagaimana teknologi, terutama AI, bisa digunakan sebagai alat penindasan oleh pemerintah yang otoriter. Mereka merasa terjepit antara pekerjaan dan prinsip moral, serta bertanya-tanya masa depan teknologi yang sedang mereka bangun apakah akan membawa ke arah yang lebih baik atau justru dystopian.
08 Feb 2026, 11.30 WIB

Disrupsi Teknologi Ubah Pasar Kerja, 10 Profesi Ini Terancam Hilang

Disrupsi Teknologi Ubah Pasar Kerja, 10 Profesi Ini Terancam Hilang
Pasar tenaga kerja global tengah menghadapi perubahan besar karena kemajuan teknologi dan digitalisasi yang pesat. Laporan dari World Economic Forum menunjukkan bahwa meskipun akan ada pertumbuhan pekerjaan hingga 14% pada tahun 2030, sejumlah pekerjaan lama juga akan hilang seiring pergeseran struktur ekonomi dan otomatisasi. Diperkirakan sekitar 39% keterampilan utama yang digunakan pekerja akan berubah secara drastis dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini menuntut adanya pembelajaran berkelanjutan, pelatihan ulang, serta peningkatan keterampilan agar tenaga kerja dapat tetap relevan dan siap menghadapi tuntutan pekerjaan baru. Pertumbuhan akses digital dan teknologi kecerdasan buatan diprediksi menciptakan jutaan pekerjaan baru, meskipun pekerjaan lama berpotensi tergantikan. Misalnya, akses digital bisa menambah 19 juta pekerjaan baru dan AI serta pemrosesan data menambah 11 juta pekerjaan baru sampai tahun 2030. Namun di sisi lain, teknologi juga menggeser banyak pekerjaan lama. Profesi seperti petugas pos, teller bank, kasir, sekretaris, dan pekerja percetakan diperkirakan mengalami penurunan permintaan terbesar karena otomatisasi dan sistem digital menggantikan tugas-tugas mereka. Dengan perubahan ini, WEF menekankan pentingnya adaptasi terhadap teknologi, terutama AI generatif, yang bahkan mengganggu bidang kreatif seperti desain grafis. Semua pihak perlu bersinergi agar tenaga kerja bisa menyesuaikan diri dan mengurangi risiko pengangguran akibat disrupsi teknologi.