
Kota Minneapolis sedang menghadapi situasi sulit akibat peningkatan penindakan imigrasi oleh agen ICE yang membawa ketakutan dan kekacauan besar. Banyak pendiri dan investor teknologi di kota ini merasa kesulitan untuk tetap fokus bekerja karena mereka khawatir terhadap keselamatan diri dan komunitas mereka. Mereka kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk membantu komunitas melalui kegiatan gotong royong, seperti membantu membeli makanan dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial di gereja.
Para agen ICE melakukan operasi dengan cara yang sangat mengintimidasi, termasuk berpatroli di transportasi umum, di depan rumah, tempat kerja, serta sekolah-sekolah. Mereka sering kali bergerak dalam kelompok bersenjata lengkap dan melakukan pemeriksaan identitas secara selektif, bahkan juga menghentikan warga yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini membuat ketegangan sosial meningkat dan menyebabkan trauma bagi banyak warga, meskipun beberapa di antaranya adalah warga negara Amerika Serikat.
Situasi ini semakin diperparah karena meningkatnya jumlah agen federal yang hampir tiga kali lipat jumlah polisi lokal di kota, terutama sebagai bagian dari operasi nasional yang menargetkan imigran, termasuk komunitas Somalia yang besar di Minnesota. Hal ini menimbulkan ketegangan politik, dengan banyak pejabat negara bagian dan kota yang dikritik oleh pemerintahan pusat, sedangkan protes dan dukungan terhadap imigran kian muncul dari masyarakat.
Meskipun demikian, banyak anggota komunitas teknologi dan bisnis kecil di Minneapolis berusaha untuk saling mendukung. Mereka menciptakan sistem bantuan makanan, menjaga anak-anak satu sama lain, dan mengorganisir acara komunitas guna mempererat solidaritas. Sebaliknya, respons dari perusahaan besar di wilayah tersebut dianggap kurang memadai dan cenderung pasif, yang menimbulkan kekecewaan di kalangan pemimpin startup dan investor lokal.
Dampak dari operasi ICE kali ini sulit diabaikan karena menciptakan lingkungan yang penuh ketakutan dan trauma. Banyak pendiri dan pekerja teknologi yang bahkan mempertimbangkan untuk pindah keluar dari kota. Meski keadaan sulit, komunitas lokal tetap berupaya bertahan dan bekerja sama untuk menghadapi tantangan ini sambil berharap situasi dapat membaik di masa depan.