Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Inovasi Medis dan Bioteknologi

Share

Kumpulan berita terkait terobosan medis, penelitian kanker, operasi berbantuan robot, dan inovasi kesehatan yang meningkatkan kualitas hidup manusia serta kesiapan menghadapi penyakit menular dan masalah kesehatan lainnya.

03 Feb 2026, 18.00 WIB

Penelitian Ungkap Bagaimana Otak Bayi Usia Dua Bulan Memproses Gambar Visual

Penelitian Ungkap Bagaimana Otak Bayi Usia Dua Bulan Memproses Gambar Visual
Bayi yang masih berusia dua bulan memang memiliki kemampuan komunikasi yang sangat terbatas, sehingga orang tua dan ilmuwan sering bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada dalam pikiran mereka ketika melihat dunia sekitar. Untuk menjawab hal ini, sebuah tim peneliti melakukan studi khusus menggunakan teknologi pencitraan otak fMRI. Penelitian ini melibatkan 130 bayi yang diarahkan untuk tetap terjaga dan diam selama pemindaian agar memperoleh data aktivitas otak yang akurat. Para peneliti menyiapkan berbagai fasilitas seperti bantal empuk, headphone peredam bising, dan juga menampilkan gambar-gambar visual berwarna yang menarik agar bayi tetap fokus selama 15 sampai 20 menit. Gambar-gambar yang ditampilkan terdiri dari 12 kategori umum seperti bebek karet, troli belanja, dan kucing. Studi ini menemukan bahwa otak bayi sudah memiliki dasar kognisi visual yang kuat, mampu mengelompokkan objek berdasarkan kategori dan ukuran, serta membedakan antara benda hidup dan benda mati. Lebih jauh, penelitian juga memantau perkembangan 65 bayi dari usia dua bulan hingga sembilan bulan dan menemukan bahwa respons otak mereka terhadap gambar sangat mirip dengan orang dewasa dalam hal pengelompokan visual. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan kognitif dan persepsi visual bayi sudah berkembang lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Para peneliti menggunakan model kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi gambar yang dilihat bayi berdasarkan respons otak mereka. Penemuan ini membuka peluang baru untuk memahami dan memantau perkembangan kognisi pada bayi secara lebih mendalam dan mungkin dapat membantu mendeteksi gangguan perkembangan dini.
02 Feb 2026, 07.00 WIB

Manfaat Menulis Tangan bagi Otak Anak dan Pentingnya Melestarikan Tulisan Sambung

Manfaat Menulis Tangan bagi Otak Anak dan Pentingnya Melestarikan Tulisan Sambung
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa menulis tangan, terutama tulisan sambung, memainkan peran penting dalam perkembangan otak anak-anak. Menulis dengan tangan mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan pembelajaran dan memori lebih efektif dibandingkan mengetik di keyboard. Di Amerika Serikat, pelajaran menulis tulisan sambung dihapus dari kurikulum sekolah dasar sejak tahun 2010, sehingga banyak siswa tidak lagi belajar menulis dengan cara ini. Hal ini menimbulkan keprihatinan karena menulis tangan dianggap dapat membantu meningkatkan kemampuan mengenali huruf dan angka pada anak. Studi yang dilakukan oleh para ahli dari Indiana University Bloomington dan Norwegian University of Science and Technology menunjukkan bahwa anak-anak yang belajar menulis tangan memiliki aktivitas otak yang lebih baik dalam pusat-pusat pembelajaran dibandingkan yang hanya belajar mengetik. Motorik halus yang terlibat dalam menulis ini sangat penting untuk perkembangan kognitif mereka. Di Norwegia, ada kecenderungan penggunaan perangkat digital secara penuh sejak dini, yang menyebabkan penurunan kemampuan anak dalam memegang pensil dan menulis tangan. Para guru sekarang meminta agar pelajaran menulis tangan dimasukkan kembali ke dalam kurikulum karena manfaatnya yang jelas untuk perkembangan otak dan kemampuan belajar. Kesimpulannya, meskipun teknologi terus berkembang, menulis tangan memiliki peran penting untuk pendidikan dan perkembangan otak anak. Oleh karena itu, pengembalian pelajaran menulis tangan, khususnya tulisan sambung, dianjurkan agar anak-anak dapat memperoleh manfaat kognitif dan motorik yang maksimal.
01 Feb 2026, 09.06 WIB

Ilmuwan Virologi Terkenal Kembali ke Cina untuk Teliti Virus Mematikan

Ilmuwan Virologi Terkenal Kembali ke Cina untuk Teliti Virus Mematikan
Xia Xian, seorang ilmuwan virologi yang sebelumnya bekerja di University of California, Los Angeles, telah meninggalkan Amerika Serikat. Dia sekarang bekerja di Wuhan University, tempat dia mendapat posisi sebagai profesor penuh dan pemimpin penelitian di laboratorium yang fokus pada virus sangat berbahaya. Laboratorium ini baru saja didirikan pada Desember 2024 dan dikelola bersama oleh Wuhan University dan Wuhan Institute of Virology. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana virus-virus ini menginfeksi dan menyebabkan penyakit parah serta mencari cara baru untuk melawan mereka. Penelitian Xia berfokus pada struktur protein mikroorganisme penyebab penyakit, yang sangat penting untuk mengetahui bagaimana virus menyebar dan menyerang tubuh manusia. Dia menggunakan teknologi canggih seperti cryo-electron microscopy untuk mengamati virus pada level atom. Tahun lalu, Xia juga memimpin penelitian besar yang membuat peta 3D terperinci dari flagel Trypanosoma brucei, parasit yang menyebabkan penyakit tidur. Penelitian ini menggunakan teknologi pencitraan atom dan model berbasis AI, yang menunjukkan kemampuan teknis tinggi Xia dan timnya. Dengan perpindahan Xia ke Wuhan dan dukungan institusi yang kuat, diharapkan hasil penelitian akan membawa pemahaman baru tentang virus berbahaya dan membuka jalan bagi pengembangan pengobatan atau vaksin yang lebih efektif di masa depan.
30 Jan 2026, 19.00 WIB

Wabah Campak Kembali Melanda, Pentingnya Vaksinasi dan Pencegahan

Wabah Campak Kembali Melanda, Pentingnya Vaksinasi dan Pencegahan
Campak adalah penyakit virus yang sangat menular, yang dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul kembali di Amerika Serikat dan dunia. Penurunan vaksinasi dan peningkatan penolakan vaksin membuat wabah semakin sering terjadi, bahkan sampai menyebabkan ribuan kasus di AS dan ratusan ribu global. Gejala campak biasanya muncul 7-14 hari setelah terpapar, diawali dengan demam tinggi, batuk, hidung berair, dan mata merah. Tanda khas adalah bintik Koplik di dalam mulut, kemudian muncul ruam merah yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Virus dapat menular sebelum ruam muncul dan bertahan di udara hingga dua jam. Vaksinasi MMR sangat efektif dalam mencegah penyakit ini, dengan dua dosis memberikan perlindungan lebih dari 99%. Namun cakupan vaksin di AS turun dari 95,2% ke 92,5% di antara anak-anak taman kanak-kanak, menyebabkan ratusan ribu anak menjadi rentan virus campak. Komplikasi campak bisa serius mulai dari diare, infeksi telinga, hingga pneumonia atau radang otak (ensefalitis). Kelompok berisiko tinggi termasuk bayi, orang dewasa di atas 20 tahun, wanita hamil, dan mereka dengan sistem imun lemah mengalami risiko kematian atau komplikasi berat lebih tinggi. Untuk mencegah penyebaran, penting bagi orang yang diduga terkena campak untuk tidak langsung datang ke fasilitas kesehatan tanpa telepon terlebih dahulu. Pengobatan cepat, isolasi, dan koordinasi dengan dinas kesehatan sangat penting, serta pemberian vaksinasi atau imunoglobulin pasca-paparan bagi yang berisiko.
30 Jan 2026, 11.42 WIB

Penelitian Pertama Tunjukkan Operasi Jarak Jauh Bisa Andalkan Teknologi Robotik

Penelitian Pertama Tunjukkan Operasi Jarak Jauh Bisa Andalkan Teknologi Robotik
Peneliti militer China baru saja menyelesaikan studi penting yang menunjukkan bahwa telesurgery, yaitu operasi yang dilakukan dari jarak jauh menggunakan robot, bisa sama andalnya seperti operasi yang dilakukan oleh dokter di ruangan yang sama dengan pasien. Ini merupakan penelitian terkontrol acak pertama dalam bidang telesurgery yang hasilnya telah dipublikasi di jurnal medis terkemuka The BMJ. Operasi jarak jauh ini memungkinkan ahli bedah mengendalikan robot dengan menggunakan konsol yang dilengkapi dengan kendali sentuhan dan visualisasi tiga dimensi. Gerakan yang dilakukan ahli bedah tersebut kemudian diterjemahkan secara digital dan dikirim melalui jaringan komunikasi berkecepatan tinggi seperti serat optik, 5G, 6G, atau bahkan satelit ke robot yang berada di sebelah pasien. Manfaat utama dari teknologi ini adalah mengatasi masalah kesenjangan layanan medis di wilayah terpencil, daerah militer, zona bencana, dan situasi khusus seperti misi luar angkasa. Penduduk di daerah yang kurang terlayani bisa mendapat akses operasi berkualitas tanpa harus melakukan perjalanan jauh atau menunggu lama. Para peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam keandalan antara operasi jarak jauh dan operasi lokal konvensional. Temuan ini memberikan dasar ilmiah untuk mengembangkan uji klinis yang lebih besar dan lebih luas di masa depan. Dengan semakin majunya teknologi jaringan dan robotika medis, telesurgery berpotensi menjadi solusi praktis dan efektif untuk menjawab kebutuhan medis yang terus meningkat, khususnya di bidang operasi kanker dan kondisi kritis lainnya.
30 Jan 2026, 11.00 WIB

Telesurgery Terbukti Andal, Solusi Akses Medis di Daerah Terpencil

Para peneliti dari militer Cina telah melakukan sebuah studi penting yang menunjukkan teknologi telesurgery atau operasi jarak jauh dapat dilakukan dengan tingkat keandalan yang sama seperti operasi yang dilakukan secara langsung di ruangan yang sama dengan pasien. Studi ini merupakan uji coba terkontrol acak pertama di dunia yang menguji secara formal apakah prosedur telesurgery dapat menggantikan operasi tradisional tanpa mengurangi hasil dan keamanan bagi pasien. Teknologi telesurgery memanfaatkan perangkat kontrol yang memungkinkan dokter mengoperasikan robot dari jarak jauh menggunakan visualisasi 3D dan umpan balik sentuhan (haptic), serta mengandalkan jaringan komunikasi berkecepatan sangat tinggi dari 5G, 6G, serat optik, atau satelit. Hasil penelitian membuktikan bahwa telesurgery bisa menjadi solusi untuk mengatasi ketidakmerataan layanan medis terutama di daerah pedesaan, zona militer, bencana, atau kondisi sulit yang tidak memungkinkan kehadiran dokter secara langsung. Penemuan ini menjadi dasar penting untuk dikembangkan lebih lanjut dalam uji klinis yang lebih besar sehingga di masa depan penggunaan telesurgery bisa menjadi bagian rutin dalam sistem pelayanan kesehatan global.
30 Jan 2026, 07.00 WIB

Peran Astrocytes dalam Mengatur Perubahan Keadaan Otak dan Perilaku

Otak manusia terdiri dari jaringan kompleks miliaran neuron yang berfungsi mengatur persepsi, pikiran, dan perilaku. Namun, fokus penelitian selama bertahun-tahun hanya pada neuron dianggap tidak cukup untuk memahami seluruh fungsi otak. Penelitian terbaru membuktikan bahwa ada sel lain yang sangat penting bernama astrocytes. Astrocytes adalah sel besar yang lebih banyak jumlahnya dibandingkan neuron di beberapa wilayah otak. Mereka memiliki bentuk yang kompleks dan dapat mengelilingi jutaan sinapsis, tempat pertukaran sinyal antar neuron. Sel-sel ini ternyata membantu menyetel dan mengatur aktivitas otak secara keseluruhan melalui proses yang disebut neuromodulasi. Para ilmuwan dari berbagai laboratorium berhasil menunjukkan bukti kuat peran astrocytes melalui eksperimen pada lalat buah, ikan zebra, dan tikus. Ketika otak menerima sinyal neuromodulator seperti norepinephrine, astrocytes merespons dengan mengatur aktivitas sinapsis dan memengaruhi keadaan emosional dan perilaku, misalnya dalam situasi waspada atau ketika menyerah pada situasi yang sulit. Temuan penting lainnya adalah bahwa astrocytes bekerja dalam waktu yang lebih lama daripada neuron dan dapat mengatur perubahan keadaan otak yang kompleks, termasuk siklus tidur dan reaksi stres. Hal ini membuat astrocytes menjadi kandidat penting untuk dipelajari dalam konteks penyakit mental seperti depresi dan gangguan tidur. Meski masih banyak yang harus dipelajari tentang detail mekanisme kerja astrocytes, para peneliti yakin bahwa memasukkan astrocytes dalam model otak akan membuka jalan bagi terapi yang lebih efektif dan inovatif untuk mengobati gangguan otak. Pemahaman tentang astrocytes bisa mengubah cara ilmuwan memandang dan menangani penyakit neurologis di masa depan.
30 Jan 2026, 03.46 WIB

Temukan Kekuatan Superkamu: Jadi Hebat dengan Memaksimalkan Keunikan Pribadi

Di budaya kita sekarang, orang sering didorong untuk jadi serba bisa dengan memperbaiki kelemahan sejak kecil, misalnya belajar matematika lebih giat jika kurang pintar. Namun sebenarnya, fokus ini bisa salah arah karena mengabaikan kekuatan asli yang sudah kita miliki. Penulis mengembangkan tes bernama Hidden Superpower Test yang didasarkan pada tiga dimensi utama kepribadian yang menentukan cara kita berpikir, bekerja, dan berinteraksi. Masing-masing orang punya kombinasi unik dari dimensi ini yang membentuk kekuatan spesialnya sendiri. Contohnya, dua orang dengan pola pikir konkret bisa punya kekuatan yang berbeda bila satu bertipe terstruktur dan kolaboratif, dan yang lain punya sifat fleksibel dan mandiri. Jadi, walau punya sifat yang sama, hasilnya bisa sangat berbeda tergantung interaksi dimensi kepribadian mereka. Penelitian Brian Little menunjukkan orang bisa melakukan hal yang bukan sifat alaminya, tapi akan cepat lelah dan kehilangan energi. Jadi, mencoba jadi serba bisa itu sebenarnya merugikan karena menguras energi yang seharusnya bisa dipakai untuk mengembangkan kekuatan utama. Orang-orang sukses biasanya fokus pada keunikan mereka, membangun karir dan tanggung jawab berdasarkan kekuatan alami yang mereka punya. Memberdayakan kekuatan tersebut jauh lebih efektif daripada terus-menerus berusaha memperbaiki kelemahan.
29 Jan 2026, 22.30 WIB

Inovasi Ultrasound Portabel dan Kapal Anti-Tenggelam: Masa Depan Teknologi dan Bisnis AI

NASA melakukan evakuasi medis pertama dari Stasiun Luar Angkasa Internasional dengan bantuan ultrasound portabel. Alat ini memudahkan pemeriksaan kesehatan astronaut di luar angkasa, seperti memantau perubahan tubuh akibat gravitasi nol. Perangkat seperti Butterfly iQ yang sudah digunakan oleh astronaut merupakan terobosan teknologi medis miniatur yang sangat bermanfaat. Para ilmuwan di University of Rochester menemukan cara membuat tabung aluminium yang superhidrofobik, sehingga tetap mengapung walaupun berlubang parah. Tabung ini bisa menjadi bahan dasar kapal yang hampir tidak mungkin tenggelam dan membuka peluang untuk inovasi besar di industri maritim dan penyelamatan. Di bidang teknologi kecerdasan buatan, banyak startup baru yang mendapatkan investasi besar meskipun belum memiliki produk nyata atau model bisnis yang jelas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan dan arah masa depan bisnis AI, terutama dengan ketergantungan pada model dari perusahaan besar seperti Google dan OpenAI. Beberapa startup teknologi lainnya juga mengumumkan pendanaan besar, seperti Waabi dengan robotrucks, IonQ dengan komputasi kuantum, dan Northwood Space yang membangun stasiun bumi untuk sinyal satelit. Ini menunjukkan adanya minat besar dalam teknologi tinggi yang memiliki potensi pasar besar di masa depan. Sebuah studi dari University of Sydney menunjukkan bahwa menambahkan aktivitas kecil setiap hari seperti tidur lima menit lebih lama atau berjalan lima menit dapat memperpanjang usia dan menurunkan risiko kematian dini. Hal ini mendorong kita semua untuk memulai perubahan positif kecil dalam hidup yang dapat membawa dampak besar.
29 Jan 2026, 12.59 WIB

Platform dan AI Terintegrasi: Kunci Masa Depan Revolusi Kesehatan

Teknologi di sektor kesehatan sedang mengalami pergeseran besar, di mana platform yang menciptakan ekosistem memiliki kekuatan jauh melampaui produk tunggal. AI tidak lagi hanya soal aplikasi chatbot menarik, tapi bagaimana mengintegrasikannya ke dalam sistem operasional rumah sakit dan layanan kesehatan agar memberikan dampak yang nyata dan bertahan lama. Dua model strategi muncul: Model Agnostic Bridge yang fleksibel dan mudah diakses tetapi terbatas dalam integrasi operasional, serta Model Integrated Ecosystem yang menggabungkan berbagai layanan kesehatan secara vertikal untuk memberikan pengalaman terpadu bagi pasien. Contoh model pertama adalah OpenAI, sementara Amazon One Medical mewakili model kedua. Untuk perusahaan B2B yang menyediakan infrastruktur kesehatan, model jembatan agnostik sangat relevan karena banyak rumah sakit dan lembaga masih menggunakan sistem lama yang perlu solusi untuk menghubungkan dan mengotomatiskan proses mereka dengan AI. Sementara itu, model ekosistem terintegrasi menawarkan akses dan distribusi hebat bagi layanan yang berfokus langsung ke konsumen. Perusahaan besar seperti Microsoft dan Google menjadi pemain utama dengan menyediakan AI yang tertanam dalam dokumentasi klinis, pencitraan, dan alur kerja rumah sakit. Mereka menjadi lapisan operasi penting bagi AI di bidang kesehatan, menunjukkan bahwa keberhasilan finansial jangka pendek lebih banyak berada dalam mendukung infrastruktur yang ada daripada menggantikannya. Kesimpulannya, peluang terbesar dan tantangan terberat AI di kesehatan ada dalam kompleksitas dan regulasi operasional. Para pengusaha harus memilih antara menjadi komponen penghubung utama di paradigma saat ini atau membangun bagian fundamental untuk ekosistem terkonsolidasi yang akan datang. Kesuksesan jangka panjang bergantung pada arsitektur pengaruh, bukan sekadar interaksi pengguna.
Setelahnya

Baca Juga

  • Tantangan Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Satwa

  • Kemajuan dalam Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa

  • Inisiatif Energi Terbarukan dan Ketahanan Iklim

  • Penemuan Kuno dan Terobosan Matematika

  • Tantangan Psikologis Modern: Kecemasan, Persepsi, dan Harga Diri