
Ethereum mencatat lonjakan aktivitas jaringan ke rekor tertinggi dengan mendekati 2 juta alamat aktif harian dan lebih dari 40 juta panggilan kontrak pintar per hari. Peningkatan aktivitas ini melampaui puncak pasar bull tahun 2021, menandakan adopsi yang meluas di berbagai sektor seperti DeFi dan stablecoin. Namun, kenaikan aktivitas ini tidak diikuti oleh kenaikan harga ether atau peningkatan pendapatan transaksi di lapisan dasar.
Harga ether justru mengalami penurunan sekitar 30% selama enam bulan terakhir, sementara modal dialirkan keluar dari pasar. Data menunjukkan ether berpindah ke bursa dengan kecepatan lebih tinggi dibanding bitcoin, mencerminkan tekanan jual yang besar. Pendapatan biaya transaksi Ethereum hanya Rp 172.01 miliar ($10,3 juta) dalam 30 hari terakhir, lebih rendah dibandingkan jaringan seperti Tron dan Solana, sedangkan pendapatan protokol juga tidak kompetitif karena banyak transaksi teralihkan ke layer-2 seperti Base dan Polygon.
Situasi ini menunjukkan adanya pergeseran ekonomi dalam ekosistem Ethereum di mana aktivitas transaksi kini tersebar di layer-2 yang menawarkan biaya lebih rendah sehingga nilai yang bisa digarap ether di lapisan dasar menurun. Meskipun aktivitas Ethereum semakin besar dan stablecoin mendominasi pasarnya, token ether gagal menangkap nilai secara proporsional. Akibatnya, Ethereum menghadapi tantangan dalam mempertahankan nilai tokennya meski jaringan makin sibuk.