
Courtesy of TechCrunch
Hollywood Menentang ByteDance Karena Seedance 2.0 Diduga Langgar Hak Cipta
Mengungkap konflik hukum dan etika antara teknologi AI video generatif baru Seedance 2.0 dan perlindungan hak cipta serta kepentingan industri hiburan, yang relevan untuk memahami implikasi AI pada konten kreatif dan perlindungan intelektual.
15 Feb 2026, 01.26 WIB
156 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Seedance 2.0 dapat menciptakan video dengan menggunakan prompt teks, tetapi menimbulkan masalah pelanggaran hak cipta.
- Hollywood dan organisasi terkait menganggap Seedance 2.0 sebagai ancaman bagi hak-hak pencipta.
- Disney telah mengambil langkah hukum terhadap ByteDance karena pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh Seedance 2.0.
Tiongkok, Republik Rakyat Tiongkok - ByteDance baru saja meluncurkan sebuah model video AI bernama Seedance 2.0 yang memungkinkan pengguna membuat video pendek selama 15 detik hanya dengan memasukkan perintah teks. Teknologi ini saat ini tersedia untuk pengguna di Cina dan rencananya akan dirilis secara global melalui aplikasi CapCut.
Namun, Hollywood dan para pembuat film besar sangat menentang penggunaan Seedance 2.0 karena dinilai secara massif melanggar hak cipta. Video yang dibuat AI ini menggunakan karakter dan wajah selebriti serta properti berhak cipta tanpa izin, sehingga merugikan para pencipta dan industri hiburan.
CEO dari Motion Picture Association, Charles Rivkin, telah meminta ByteDance untuk menghentikan aktivitas tersebut karena dianggap merusak hak cipta yang telah lama melindungi jutaan pekerjaan di bidang hiburan Amerika. Serikat pekerja dan kampanye seni juga menunjukkan sikap yang sama kuatnya.
Disney bahkan telah mengirim surat peringatan hukum secara resmi atas penggunaan karakternya seperti Spider-Man dan Baby Yoda dalam video yang dibuat menggunakan Seedance 2.0. Disney menilai hal ini sebagai pencurian intelektual yang serius dan berpotensi menggugat secara hukum.
Situasi ini memperlihatkan betapa pentingnya regulasi dan kerja sama antara pengembang teknologi AI dan pemilik hak cipta agar inovasi tidak menjadi ancaman bagi para kreator asli. Pengembangan teknologi AI di bidang hiburan harus dilakukan dengan mempertimbangkan perlindungan hukum dan moral.
Referensi:
[1] https://techcrunch.com/2026/02/14/hollywood-isnt-happy-about-the-new-seedance-2-0-video-generator/
[1] https://techcrunch.com/2026/02/14/hollywood-isnt-happy-about-the-new-seedance-2-0-video-generator/
Analisis Ahli
Charles Rivkin
"Peluncuran tanpa pengamanan berarti ByteDance mengabaikan hukum hak cipta yang selama ini melindungi jutaan pekerja di industri hiburan AS."
Analisis Kami
"Teknologi seperti Seedance 2.0 memang membawa potensi besar untuk kreativitas, tapi tanpa regulasi dan etika yang kuat, dampaknya bisa merugikan pencipta konten asli dan merusak ekosistem hiburan. ByteDance perlu segera berkolaborasi dengan pemilik hak cipta agar inovasi AI ini bisa berkembang secara berkelanjutan tanpa menimbulkan konflik hukum yang besar."
Prediksi Kami
Regulasi lebih ketat dan tindakan hukum yang lebih sering kemungkinan akan muncul terhadap teknologi AI yang memproduksi konten tanpa izin, memaksa perusahaan untuk memasang pengamanan dan memperkuat perlindungan hukum terhadap karya kreatif.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa itu Seedance 2.0?A
Seedance 2.0 adalah model video AI yang diluncurkan oleh ByteDance yang memungkinkan pengguna membuat video hanya dengan memasukkan prompt teks.Q
Kenapa Hollywood menentang Seedance 2.0?A
Hollywood menentang Seedance 2.0 karena dianggap sebagai alat untuk pelanggaran hak cipta yang jelas, terutama terkait penggunaan karakter dan citra orang nyata.Q
Siapa yang mengeluarkan pernyataan menuntut ByteDance?A
Pernyataan menuntut ByteDance dikeluarkan oleh Motion Picture Association, yang dipimpin oleh CEO Charles Rivkin.Q
Apa yang dilakukan Disney terkait Seedance 2.0?A
Disney mengirimkan surat perintah berhenti kepada ByteDance atas dugaan pelanggaran hak cipta terkait karakter mereka yang digunakan dalam video Seedance 2.0.Q
Apa reaksi Rhett Reese terhadap Seedance 2.0?A
Rhett Reese mengungkapkan keprihatinan bahwa teknologi AI baru seperti Seedance 2.0 dapat mengancam keberadaan penulis skenario dan industri film.




